Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 191. Permohonan Sang Bunda


__ADS_3

Jika di kamar rawat, Ruth tinggal seorang diri. Kini di luar kamar ada tiga orang yang saling berhadapan. Tarisya dan Sendi berdiri menyambut kedatangan Dava yang baru saja menutup pintu.


"Dia sudah makan, Bunda. Ruth sedang tidur," ucapnya tanpa berbasa basi lagi.


Dava merasa sangat asing saat ini. Ia sadar jika dirinya bukanlah siapa-siapa lagi bagi Tarisya dan lainnya. Dirinya hanyalah anak angkat saja tidak lebih.


"Apa kau tetap akan di sini, Jeff?" tanya Tarisya dengan penuh rasa cemas.


Tidak terpikirkan dalam benaknya jika Dava akan ia buang begitu saja setelah mengetahui jati diri Dava yang sesungguhnya.


"Malam nanti, aku akan kembali, Bunda. Maaf maksudku, Ibu..." tuturnya dengan wajah yang begitu sedih.


Dava bahkan menunduk setelah menatap wajah Tarisya yang menatapnya dengan nanar. Di lihatnya wanita tua di depannya menggelengkan kepala.


"Apa yang kau katakan itu? Ibu? Aku tetaplah Bundamu sampai kapan pun itu, Jeff. Kau tetap anakku, Jeff. Jangan merubah apa pun yang ada." Tarisya tak kuasa mendengar panggilan yang Dava sebut barusan. Ia menghambur ke dalam pelukan pria yang bertubuh tegak itu.


Tangisannya pun pecah begitu saja. Sungguh ia tidak ingin semuanya berubah sekali pun ada jarak di antara mereka semua saat ini.


"Sampai kapan pun, kau akan tetap jadi anak pertamaku, Jeff. Bunda tidak mau ada yang berubah. Tolong mengertilah, Nak." tangisnya dengan penuh permohonan yang begitu tulus.

__ADS_1


Tubuh kaku milik Dava seketika luluh mendapatkan pelukan yang terasa hangat itu. Di angkatnya perlahan tangannya dan Dava akhirnya membalas pelukan sang bunda.


Ada rasa sedih saat Dava melihat kesedihan sang bunda. Bagaimana mungkin ia sebagai anak justru tega membuat bundanya sendiri menangis.


"Bunda, maafkan Jeff. Maafkan Jeff sudah melukuai hati Bunda. Tolong jangan menangis, Bunda." ucapnya begitu tak tega melihat tubuh tua yang seharusnya hanya ada kebahagiaan di setiap hari-harinya justru kini hanya ada kesedihan yang terus datang padanya.


"Jangan merubah panggilan itu, Nak. Tetaplah menjadi Jeffnya Bunda. Kau tetap anak Bunda sampai kapan pun itu. Bunda mohon." Tarisya sangat mencintai para anak-anaknya. Bahkan ia tidak rela jika Dava merubah panggilannya saja.


Dava menghela napas usai mengusap air mata di wajahnya. Ia melepaskan pelukannya pada sang bunda lalu tersenyum menatap wajah senja itu.


Anggukan tipis ia berikan dan Tarisya pun tersenyum melihat gerakan kepala sang anak. Tentu saja ia tahu apa maksud dari isyarat itu.


Entah apa yang ia rasakan saat ini, apakah benar kekuatan telah menguasai dirinya ataukah ada kerapuhan yang benar-benar terjadi di dalam dirinya di balik senyuman kuat itu.


"Terimakasih anakku. Terimakasih. Bunda akan tetap berusaha sehat untuk kalian semua, Nak. Bunda berjanji itu."


Sendi yang sedari tadi tampak diam, akhirnya terperanjat saat Dava memanggilnya.


"Sendi,"

__ADS_1


"Ah...yah? Ada apa, Dav?" tanyanya sedikit terkejut dan melepaskan kedua tangan yang sedari tadi bersedekap di depan dadanya.


"Tolong temani Bunda dan juga Ruth. Aku ada urusan di luar. Setelah semua selesai, aku akan segera kembali. Bawa Bunda untuk makan terlebih dahulu." tuturnya panjang lebar memberikan pesan-pesan pada sang adik angkat.


Sendi mengangguk dan Dava segera melangkah pergi usai mencium punggung tangan sang bunda.


Tarisya dan Sendi hanya mampu menatap punggung tegap milik Dava yang semakin menjauh dari pandangan mereka saat ini.


"Ya Allah...lindungi anak-anakku di mana pun mereka berada..." lirih Tarisya yang terdengar oleh Sendi.


"Bunda, ayo kita makan. Setelah itu kita menemani Ruth di dalam." ajak Sendi yang merasakan perutnya mulia berteriak minta di isi.


"Tapi, Berson..." tolak Tarisya yang ragu jika meninggalkan sang anak sendiri di kamar rawat.


"Ini rumah sakit dengan pelayanan dan keamanan yang baik, Bunda. Ayo kita segera makan dan kembali secepatnya." ajak Sendi yang enggan membuang waktu lebih lama lagi. Tangannya pun segera menuntun sang bunda untuk pergi dari tempat mereka saat ini.


Di sela-sela langkah mereka, Sendi tampak diam. Ada perasaan yang mengganjal dalam batinnya saat melihat sosok Dava yang berubah menjadi kuat.


"Apa dia benar-benar ikhlas dengan semua ini setelah melihat keadaan Ruth? Atau justru ia berpura-pura kuat demi Bunda? Sebenarnya apa yang kau rasakan saat ini, Dav? Wajahmu selalu saja seperti itu. Selalu terlihat tenang meski dalam hatimu begitu menangis." batin Sendi menerka-nerka dengan rasa penasaran yang tinggi.

__ADS_1


__ADS_2