Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 16. Iwan Sandronata


__ADS_3

Semua terjadi benar-benar di luar kendali. Wanita yang selalu memegang teguh harga diri dan kehormatan tak pernah terpikirkan akan jatuh ke dalam kisah pernikahan yang sangat rumit seperti saat ini.


Sebuah pernikahan yang berdasarkan saling menguntungkan, bukan pernikahan dalam segi cinta dan kasih.


Impian pernikahan yang memperdengarkan lantunan kata ijab dan qobul, kini ternyata berubah menjadi pernikahan yang memperdengarkan ikatan janji suci dalam acara pemberkatan.


Semua terjadi begitu saja tanpa ada hambatan sedikit pun.


Flashback on


Kini seorang wanita dengan tubuh yang sudah basah dalam aliran sungai yang cukup luas tampak menundukkan tubuhnya sembari menitihkan air mata.


"Ya Allah, maafkan aku. Ampuni segala dosaku." ucapnya dalam hati.


Tampak seorang pria berpakaian rapi berpenampilan sebagaimana seorang pastor yang tengah bersiap memegang kepala wanita di hadapannya.


Deraian air mata semakin deras kala terdengar suara, "Aku membaptis engkau dalam nama Bapa, Anak, dan Roh kudus, yaitu Tuhan Yesus Kristus, Amin."


Suara air yang menutupi segala wajah hingga kepala Ruth membuatnya ingin berteriak histeris kala itu.


Semua benar-benar sudah terjadi, kini ia tak lagi menjadi umat yang memiliki kewajiban dalam sholat lima waktu.


Entah apa yang harus ia lakukan saat ini, yang jelas dirinya benar-benar tidak tahu harus kemanakah dirinya melangkah. Cintanya pada agama mungkin tidak sekuat nafasnya yang masih mampu bertahan di dunia ini. Andai, andai saja ia memiliki keberanian untuk meninggalkan dunia, mungkin dirinya tidak akan meninggalkan agamanya.


Di sudut lain, tampak ada wajah yang terlihat begitu kagum.


"Ternyata dia benar-benar ingin ku lindungi. Terimakasih, Ruth. Aku akan berusaha melindungimu dan membahagiakanmu."  Dava hanya mampu berucap dalam hati tanpa ekspresi.


Jelas, ia bisa melihat raut wajah kesedihan di wajah wanita cantik itu. Dava tersadar dari lamunannya dan segera meraih handuk kemudian membawanya pada wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya. Entah untuk sementara atau selamanya.


"Terimakasih, Ruth." ucapnya kemudian memandang wajah ayu yang tampak sembab bermata merah di hadapannya kini.


"Ini hanya untuk diriku dan Putri. Anda tidak perlu berterimakasih, Tuan Dava." sahutnya kemudian meninggalkan Dava dan bergabung dengan beberapa jemaat lainnya yang tengah berdoa untuknya saat ini.


Flashback off

__ADS_1


Jika mungkin bagi kebanyakan orang, pernikahan adalah hal yang akan di nanti-natikan dan tak akan pernah malu ia umbar. Berbeda halnya dengan Ruth kali ini, untuk tersenyum saja pun ia sangat tidak bertenaga. Rasanya sampai saat ini, dirinya masih bermimpi jika sudah mengikat janji suci pernikahan dengan pria yang bahkan sama sekali tidak ia kenal. Siapa? dari mana? dan bagaimana sikapnya?


Dava, pria yang datang dalam hidupnya hanya sebagai pria yang berhati hangat pada sang anak. Bukan padanya, tetapi bagaimana bisa justru hatinya luluh untuk menerima tawaran menikah dengan pria yang tidak ia kenali itu.


Dan hari ini, hanya berada di dalam pelukan dua wanita, yaitu Putri dan Mbok Nan. Ruth menumpahkan segala isi di hatinya yang tak bisa ia ucapkan.


"Non, Non kenapa menangis? hari ini Non Ruth harus tersenyum. Non menikah dengan pria pilihan Non sendiri. Pria yang mencintai Non dan juga Putri." ucap Mbok Nan memeluk erat tubuh Ruth yang terasa panas dingin itu.


Mendengar penuturan Mbok Nan, Ruth justru semakin memejamkan matanya. Wajahnya ia masukkan sedalam dalamnya ke tubuh wanita renta itu. Mungkin, hanya ia dan hatinya saat ini yang bisa berbicara. "Mbok, dia bukan pria pilihanku. Dia bukan pria yang ingin aku nikahi, Mbok. Pernikahan ini...hiks hiks hiks bukan pernikahan yang ku inginkan, Mbok. Semua terpaksa ku lakukan." Hanya dengan jeritan pilu di dalam hati, Ruth tak bisa mengeluarkan segala beban di dadanya.


"Ehem..." Suara deheman seorang pria terdengar begitu mengejutkan seisi kamar.


Pria berjas coklat pekat berdiri gagah di ambang pintu. Rambut hitam miliknya tampak tertata dengan sempurna. Namun tidak dengan dua manik matanya, ia tampak menatap satu persatu penata gaun dan make up di ruangan tersebut. Semua tampak takut karena berkerja tidak sesuai dengan waktu.


Tatapan dingin Dava teralih ke arah dua wanita yang masih berpelukan namun menatap ke arahnya.


"Ruth, cepat bersiaplah. Tamu sudah banyak yang menunggu." pintahnya tanpa berucap basa basi lagi.


"Putri, ayo dengan Paman." ajaknya menggendong bocah cantik bergaun putih tersebut.


Tidak ada jawaban dari bibir milik Ruth. Wanita itu hanya menatap sendu kepergian sang anak bersama pria yang sudah menjadi suaminya saat ini.


"Ayo Non. Mbok bantu yah?" Mbok Nan tampak mengusap air mata Ruth yang terus berjatuhan.


"Mbok, apa Ayah dan Ibu tidak akan menderita di atas sana melihat Ruth pindah agama?" tanyanya tiba-tiba menangis kembali kala mengingat mendiang orangtuanya yang sejak kecil sudah tidak pernah ia lihat.


"Non, semua sudah terjadi. Mbok tidak bisa bicara apa-apa lagi. Hanya Allah yang tahu, Non. Berdoalah Non, semoga ini semua akan menjadi yang terbaik untuk Non dan keluarga." Mbok Nan menasehati dengan wajah serba salah.


Pasalnya dalam agama islam, segala perilaku baik anak yang soleha akan terus mengalir dalam amal orangtua yang sudah tiada. Namun, apa yang Ruth lakukan saat ini? ia justru meninggalkan keyakinannya demi sebuah pernikahan. Dan bagaimana kedua orangtuanya saat ini? ia merasa sudah tidak berguna lagi sebagai seorang anak.


"Kasihan Non Ruth. Ya Allah mengapa sampai seberat ini cobaan yang Kau berikan padanya? Mengapa sampai masalah agama pun kau uji dalam diri Non Ruth, Tuhan? Pria yang buruk tetapi seiman, lalu kau uji lagi dengan pria yang baik, namun tidak seiman...huuuh." Mbok Nan hanya mampu berucap dalam hati. Sungguh dirinya pun juga merasakan kelelahan yang amat sangat dalam diri sang majikan yang selama ini setia ia temani hingga tumbuh dewasa.


"Andai masih ada Tuan Jeff dan Tuan Berson, mereka berdua pasti bisa melindungi adiknya saat ini. Sayang semua sudah tinggal nama saja." gumam Mbok Nan mengingat dua sosok pria mungil yang dulu selalu mengisi kekosongannya.


Wajah ayu nan anggun kini tampak sempurna dengan polesan make up tipis dan gaun berwarna merah bata pilihan sang suami tampan tentunya.

__ADS_1


"Mari Nona," suara seorang wanita berpakaian anggun yang tak lain adalah sekertaris di kantor Dave Sandronata.


"Em...terimakasih Devi." sahut Ruth dengan tersenyum paksa menerima uluran tangan Devi yang kini melingkar di lengannya. Sementara beberapa wanita yang entah siapa, Ruth sama sekali tidak mengenalnya. Mereka tampak memegangi ekor gaun miliknya dengan penuh kehati-hatian.


Satu persatu anak tangga tampak ia pijak berurutan, manik mata Ruth tertuju pada banyaknya hadirin yang hadir di bawah sana. Siapa pun mereka, ia sama sekali tidak mengenalnya, semua begitu asing kali ini. Yang jelas, mereka adalah orang yang bukan sembarang orang.


Kini ia berhenti melangkah kala tangan seseorang menyambutnya di bawah tangga. "Ayo," ucapnya tanpa tersenyum dan kini dua tangan itu sudah menyatu dalam genggaman.


Ramai suara tepukan tangan terdengar, dua orang yang telah menjadi satu tampak melangkah menuju ke arah depan. Dimana tempat mereka untuk menerima para tamu undangan yang hadir di acara bahagia ini. Bahagia? tidak. Tidak ada yang bahagia di sini. Mungkin benar, namun hanya bahagia dalam sandiwara saja.


Apakah sama dengan yang Dava Sandronata rasakan saat ini? entahlah. Hanya dirinya dan Tuhanlah yang tahu.


Malam yang singkat, beberapa proses acara malam itu di mulai dari beberapa kata sambutan dari Dava dan keluarga pihak laki-laki hingga dansa, dan juga sesi foto berjalan lancar.


Brakk!!!


Suara pintu kamar tertutup kala sosok pria berwajah sangat dan sangat dingin masuk ke dalam kamar itu.


"Hah...Tu-tuan?" ucap wanita yang berawajah lemas itu tampak terkejut meliha sosok pria yang sangat menakutkan.


Tatapan mata penuh keinginan tampak jelas disana. Senyuman penuh kemenangan terlihat jelas di wajahnya. Bukan tatapan *****, melainkan tatapan seorang psikopat lebih tepatnya.


"Apa kau terkejut? hah? Apa kau pikir yang akan masuk ke kamar ini adalah Dava? Wanita penjilat!" Suara penuh kegeraman begitu kuat membangunkan seluruh bulu mulus di tubuh wanita cantik itu.


Ruth menggelengkan kepalanya ingin menghindar dari Tuan Iwan Sandronata. "Tidak, anda mau apa kemari, Tuan? Tolong biarkan saya keluar dari sini."


"Dava!"


"Dava!"


Ruth berteriak sekencang mungkin, berharap sang suami akan datang menolongnya. Bagaimana mungkin malam pertama mereka akan berganti menjadi malam pertamanya dengan sang mertua. Sungguh ini tidak lucu, pikirnya.


"Mau kemana kamu? hah!" Tuan Iwan kini mencengkeram lengan kecil milik sang menantu kala mengetahui Ruth akan berlari darinya ke arah pintu.


"Tidak! Tolong! lepaskan saya, Tuan!"

__ADS_1


__ADS_2