
Setelah perjalanan yang cukup memakan waktu, kini Dava tiba di pelataran rumah kecil milik Sarah dan Wuri tinggal saat ini. Sesaat mata gadis kecil yang bersamanya di mobil menatap asing pemandangan di sekitar rumah. Tentu saja Dava akan acuh dengan sikapnya.
"Cepatlah turun, aku harus menyelesaikan urusanku secepatnya." tutur Dava dengan dingin kemudian menutup pintu mobil kembali saat ia sudah berada di luar.
"Eh, iya." sahut Anjani dengan cepat.
Ia bergegas melepaskan seatbelt di tubuhnya dan menyusul langkah pria yang begitu panjang di depannya. Dalam hati Anjani bertanya-tanya, benarkah jika ini adalah rumah pria tampan itu?
"Kak,-"
"Ayo masuk. Sudah malam." Dava tak memberinya waktu untuk berbicara apa pun.
"Em." Anjani mengangguk patuh.
Tiga kali tangan Dava tampak mengetuk pintu rumah sang ibu.
Tok Tok Tok
"Iya, tunggu sebentar." suara samar-samar dari dalam rumah itu terdengar oleh keduanya.
Anjani masih menatap sekeliling rumah yang sangat sederhana namun tetap bersih dan nyaman.
Ketika pintu rumah terbuka muncullah sosok wanita paruh baya dengan senyuman ramahnya langsung memeluk tubuh tinggi tegap itu.
Mata gadis kecil yang sedari tadi celingukan seketika membulat. "Hah? apakah itu istrinya pria tampan ini? Astaga...apa dunia akan kiamat sebentar lagi? Ternyata pria yang ku agung-agungkan adalah seorang brondong." batin Anjani begitu geli melihat kedekatan Dava dan wanita yang baru saja membuka pintu rumah untuk mereka.
__ADS_1
"Dav, dia..." tunjuk Sarah saat baru saja melepaskan pelukannya dari tubuh Dava.
"Ibu, beristirahatlah setelah ini. Dan yah...aku ingin menitipkan dia malam ini di sini. Hanya untuk malam ini saja, Bu." meski terdengar begitu sopan, namun Dava tampak menyebutkan peringatan pada gadis kecil itu jika ia akan memberinya kesempatan tinggal satu malam saja.
Kening Sarah berkerut melihat ekspresi dingin sang anak. Tidak biasanya Dava bersikap seperti itu, dan tidak biasanya ia membawa wanita pergi bersamanya selain Ruth.
"Em, maafkan saya. Kak, eh Tante. Eh maksud saya, Nyonya." sapa Anjani begitu gugup melihat tatapan Dava yang sangat tidak ia mengerti mengapa bersikap seperti itu padanya.
Sekali pun Anjani sedikit banyak paham, itu semua karena dirinyalah yang memaksa untuk ikut.
"Aduh kenapa manggilnnya begitu sih? Kan dia sudah panggil Ibu, itu artinya dia bukanlah berondongnya tante-tante ini." gerutu Anjani yang merutuki dirinya sendiri karena gugup.
"Dava pergi, Bu." Tanpa mau mendengarkan atau pun memperkenalkan sosok Anjani pada sang ibu, Dava langsung pergi meninggalkan dua wanita yang masih saling berpandangan itu.
Sungguh canggung rasanya, terlebih lagi ini adalah pengalaman pertama Anjani mengenal orang asing tanpa ada pedekate terlebih dahulu.
"Yah aku harus bohong. Kalau tidak nanti pasti akan di kembalikan ke rumah lagi..." batin Anjani yang tahu jelas bagaimana sikap orangtua jika mengetahui anak seusianya pergi dari rumah membuat orangtua akan sangat khawatir.
"Oh begitu? Baiklah, ayo masuk. Kita akan makan malam bersama yah?" Sarah sangat ramah mempersilahkan Anjani masuk ke dalam rumah.
"Terimakasih, Bu." sahut Anjani dengan mengangguk sopan.
"Hehehe tidak perlu kaku seperti itu. Anak Ibu memang seperti itu..." tutur Sarah sambil melangkah di ikuti Anjani.
"Namanya?" tanya Anjani begitu sangat penasaran, yang ia dengar wanita di depannya ini memanggil pria tampan itu dengan Dava.
__ADS_1
"Dava Sandronata. Dia anak satu-satunya. Jangan di ambil hati yah perilaku anak Ibu?" senyuman kikuk Anjani keluarkan saat mereka sudah berada di dalam rumah.
Tiba-tiba saja, saat mereka baru sampai di depan salah satu kamar di rumah itu, ada wanita yang menyapanya dengan senyuman tak kalah ramah.
"Wah...siapa Sarah? ada gadis cantik yang asing sepertinya?" Wuri berjalan mendekati mereka berdua.
"Iya nih. Dava menolong gadis ini karena kesasar." jawab Sarah dengan polosnya.
"Nak, siapa namamu?" tanya Sarah yang mengingat belum mengetahui nama gadis di depannya ini.
"Anjani, Bu." sahutnya dengan lemah lembut.
"Ah Anjani. Baiklah, sekarang kau bisa tidur di kamar itu dengan tenang. Dulu itu kamar tempat anaknya tante ini, namanya Dina tetapi sekarang mereka sudah tinggal di rumah mertuanya. Jadi kau bisa istirahat di sana, dan segeralah mandi agar kita bisa makan malam bersama." pintah Sarah menunjuk kamar yang memang tempat Dina dan Sendi sebelumnya.
"Baik, Bu. Terimakasih banyak. Kalian begitu sangat baik pada saya."
***
Di sini, Dava baru saja sampai di ruangan rawat Ruth. Ia benar-benar merutuki kebodohannya karena hari ini begitu banyak waktu yang ia buang sia-sia. Bagaimana ia bisa lupa untuk kembali menemani wanitanya.
"Ruth, maafkan aku...' lirih Dava berucap pelan karena takut membangunkan wanita yang entah sudah sejak kapan memejamkan matanya dengan lelap.
Di tatapnya dalam wanitanya kini.
"Kau sebaiknya beristirahat saja, Dav. Ruth sudah tidur dua jam yang lalu. Dari tadi matanya begitu gelisah memperhatikan jam di dinding. Mungkin...ia menunggumu sedari tadi." sahut Sendi yang mulai perginya Dava ia bersama sang istri, Dina menemani Ruth di ruangan itu.
__ADS_1
Sedangakan Tarisya harus pulang untuk merawat sang suami di rumah. Dan esok hari ia akan kembali lagi menemani sang anak.
"Maafkan aku. Saat ini tinggalkan kami berdua." jawab Dava tanpa menoleh ke arah Sendi. Matanya terus saja menatap tangan yang ia genggam erat sesekali di kecupnya tangan wanitanya itu.