Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 68. Panggilan Ayah


__ADS_3

Perjalanan yang tenang setelah perbincangan konyol di rumah tadi. Kini Putri berhasil di bujuk oleh Dava. Yah, lagi-lagi pemenang hati sang bocah adalah pria tampan nan baik hati itu. Bahkan Ruth saja sampai geleng kepala mendengar setiap jawaban Putri untuk melawannya agar tidak ikut ke kantor.


"Putri, sini sama Mamah saja duduknya yok. Nanti Paman susah fokus bawa mobilnya loh." Ruth merentangkan kedua tangannya untuk membujuk sang anak yang terus minta di gendong oleh Dava.


Putri menggeleng cepat dan mengeratakan pelukannya di tubuh sang Paman. Dava hanya tersenyum dan terus memperhatikan pandangan ke depan.


Keadaan jalanan pagi itu pun tampak padat karena jam kerja dan jam sekolah yang membuat semua pengguna jalanan berlalu lalang.


"Biarkan saja, Ruht." ucap Dava.


Ruth menghela napasnya kasar. "Kan tadi Paman sudah janji sama Putli. Putli duduk sama Paman dan Mamah. Soalnya di belakang ada Om jahat, Putli takut." tuturnya menatap Sendi yang enggan menatapnya di belakang,


Pria itu hanya diam sembari menatap ke samping jendela yang tertutup oleh kaca mobil.


"Om jahat, awas yah kalo jahatin Mbok di belakang. Putli nggak akan kasih ampun."


"Heeehh." Sendi menghela napasnya kasar.

__ADS_1


Ruth yang mendengarnya merasa tidak enak pada sang kakak dan akhirnya ia memilih untuk mengalah saja. Toh berdebat dengan bocah seumuran Putri sangat sulit jika tidak dalam waktu yang tepat. Dan saat ini keadaan emosional bocah itu tengah mendidih.


Dan kini setelah perjalanan yang cukup lama, akhirnya mereka telah sampai di sekolahan pilihan Dava. Menyangkut tentang Putri, Ruth menyerahkan pilihan Dava untuk anaknya. Karena ia tidak begitu banyak tahu tentang hal seperti ini.


Namun, Dava memang sangat banyak mengetahui tentang informasi meski ia sama sekali tidak berpengalaman.


Dava turun setelah memastikan mobil terparkir dengan sempurna. Ia menggendong Putri dan berjalan memutari mobil untuk membukakan pintu mobil.


Tentu saja keromantisan itu selalu membuat Sendi mendidih. Sekeras apa pun upayanya untuk mengikhlaskan sang mantan, tetap saja hatinya tak mampu.


"Kasihan juga sih, Tuan Sendi. Tapi...dia kan bukan yang terbaik dan tepat untuk Non Ruth. Semoga Tuan Sendi segera mendapatkan pengganti secepatnya yang baik juga, aamiin." Mbok Nan bisa melihat rauth kekecewaan di wajah pria yang kini membuang pandangannya ke arah samping.


Sendi yang tidak menatapnya hanya menggeleng dan berkata, "Pergilah, Mbok. Saya tunggu di sini saja." tuturnya.


Mbok Nan tampak menganggukkan kepala dan menutup pintu setelah keluar mengikuti langkah mereka yang sudah lebih dulu.


Dava, Ruth, dan Mbok Nan mengurus begitu banyak persyarat yang di minta oleh pihak sekolah. Dan semua berkas yang sudah mereka bawa pun segera di serahkan pada guru yang bertugas menerima murid baru.

__ADS_1


Putri terus tersenyum mendengar ucapan-demi ucapan ibu guru di depannya. Bukan karena bersekolah ia begitu bahagia pagi ini, tetapi ia bahagia karena bisa di antar sekolah untuk pertama kalianya bersama dengan dua orangtua yang sangat menyayanginya di tambah lagi dengan Mbok Nan.


Impian Putri untuk mendaptkan kasih sayang yang lengkap sudah terwujud.


"Telimakasih, Ya Alloh. Putli seneng banget. Putli bisa punya olangtua yang lengkap sama kayak teman-teman Putli. Putli janji akan sekolah yang pintel. Biar bisa bikin Mamah dan Paman ganteng bahagia punya Putli."  Semua menatap heran kala melihat tangan mungil itu bergerak seolah habis berdoa dan mengusap wajahnya.


"Ada apa, Sayang?" tanya Dava antusias melihat wajah Putri yang menampakkan kedua bola mata berkaca-kaca.


Putri menggelengkan kepalanya cepat. "Putli baik-baik aja kok, Paman." ucapnya tersenyum.


Dava pun membalas dengan senyuman lalu mengusap kepala sang anak. Ia begitu mencintai Putri seperti anak kandungnya sendiri.


Dava melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah waktunya untuk mereka ke kantor. "Ruth, kita harus segera ke kantor." tuturnya.


"Putri, Mamah dan Ayah harus segera pergi. Putri belajar yang benar yah? Ada Mbok Nan yang jagain kok. Nanti Ayah suruh Paman-paman jagain Putri dan Mbok Nan sampai rumah. Okey?" Dava mencium kening sang anak dengan lembut.


Ruth tercengang mendengar penuturan Dava yang menyebut dirinya sebagai Ayah. Begitu juga dengan Mbok Nan dan Putri. Mereka semua kaget mendengarnya.

__ADS_1


"Pa-" Putri yang ingin protes dengan memanggilnya Paman terhenti saat Dava mengedipkan sebelah matanya.


Putri tersenyum sumringah dan bertos ria dengan Dava.


__ADS_2