Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 146. Terbongkarnya!


__ADS_3

Di ruangan kerja milik Dava, kini terlihat tiga pasang mata yang memandang ke arah pintu ruangan itu bersamaan. Mata mereka sama-sama membulat sempurna.


Namun berbeda halnya dengan ekspresi yang di tunjukkan wanita itu, ia menghilangkan ekspresi sedihnya berganti dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.


Ruth meneteskan air mata yang sejak tadi sudah ingin tumpah, hatinya benar-benar lega saat melihat siapa tamu yang ada di depannya saat ini.


"Sayang, aku membawakanmu makan siang." Ia berjalan cepat dan mencium punggung tangan sang suami. Lalu beralih pada sosok Sendi yang duduk di kursi sebelah sang suami.


"Kak," tuturnya meraih lalu mencium punggung tangan sang kakak.


Dava dan Sendi meneguk kasar salivahnya yang terasa seperti bongkahan batu besar. Mata keduanya bergerak mengikuti arah langkah satu-satunya wanita yang menjadi titik fokus mereka kini.


"Halo selamat siang, Ibu." Sapa Ruth dengan senyuman begitu lembut.


Tarisya yang sedari tadi diam kini membalas senyuman wanita anggun di depannya. Ia mengulurkan tangannya dan Ruth segera mencium punggung tangan wanita itu.


"Cantik sekali kamu, Nak." tuturnya sembari mengusap pucuk kepala Ruth saat ia menundukkan kepalanya.


Ruth hanya tersenyum dan segera duduk di samping Dava.


Ia tetap duduk dengan keadaan santai meski terlihat di kedua mata cokelat ada sisa air mata yang baru saja jatuh.


"Ternyata Ibu tamu suami saya? hehehe..." ia pun terkekeh geli mengingat betapa hancurnya hatinya barusan saat menduga jika Dava sudah berselingkuh darinya.


Tarisya yang mulanya tersenyum berubah menjadi bingung. Ia mencermati setiap ucapan yang terucap dari bibir gadis cantik itu.


"Kakak? Sayang? Tamu?" begitulah yang terus Tarisya pikirkan. Siapa wanita ini? Apakah dia kekasih anak pertamanya? akhirnya tanpa mau menunggu rasa penasaran itu lebih jauh lagi, ia pun langsung bertanya secara terang-terangan.

__ADS_1


Sedangkan Dava, ia terlihat sangat kikuk. Wajah tampannya berubah menjadi pucat. Selera makannya sudah hilang saat melihat kehadiran sang istri di ruangannya.


"Ini siapa, Jeff?" tanya Tarisya menunjuk ke arah Ruth yang duduk di sampingnya.


Sedangkan Ruth yang tengah mencermati masakan wanita yang ada di hadapannya merasa sungguh tak asing dengan masakan itu. Bahkan wajah yang tua benar-benar membuat hatinya tersentuh.


"Makanan kesukaan Dava?"  batinnya saat menatap makanan di meja tersebut dan pandangannya teralihkan pada wajah wanita tua itu.


Sekelebat bayangan yang ada di ingatannya tentang foto wanita dan pria yang selalu ia rindukan langsung terpampang jelas di kepala Ruth.


Matanya yang berbinar berubah menjadi bekaca-kaca, dan akhirnya pada detik berikutnya ia sudah menjatuhkan derasnya air mata itu.


"Bunda!" teriaknya menghambur memeluk tubuh sang bunda yang begitu sangat ia cintai.


Sedangkan Tarisya yang juga merasa tak asing dengan bola mata indah itu segera membalas pelukan sang anak. Ia menangis sejadi-jadinya.


"Shandy, anak bunda." ia berteriak histeris saat mendapatkan pelukan yang begitu erat dari anaknya. Berbeda rasanya saat ia memeluk tubuh Sendi dan Dava. Ruth jauh lebih menginginkan pelukan itu dari pada kedua anak laku-lakinya.


Yang ia tahu kedua orangtuanya sudah tiada bersama kakaknya yang barusaja terdengar namanya di sebut.


Dava tertunduk tak berani berkata apa-apa lagi. Begitu pun dengan Sendi, ia terdiam tanpa berani melihat ke arah dua wanita yang saling berpelukan.


"Tidak, Nak. Ini Bunda, sayang. Kamu benarkah anak Bunda? Shandy Chyntia?" Tarisya melepaskan pelukan itu dan menangkup wajah cantik sang anak dengan kedua tangannya. Ia sungguh tidak menyangka jika kedatangannya kemari untuk meminta jalan komunikasi dari Dava justru membuatnya bertemu dengan sang anak yang katanya masih harus beberapa bulan lagi menunggunya pulang.


Ruth mengangguk cepat dengan wajah tersenyum ceria, meski di matanya terus meneteskan air mata. "Apa hanya Bunda yang selamat? lalu dimana Ayah? Apa makam itu benar-benar milik Ayah? Lalu bagaimana Bunda bisa selamat?" tanyanya dengan pertanyaan yang beruntun.


Rasa penasaran di dalam diri Ruth muncul seketika, begitu banyak masalah yang tidak ia ketahui ternyata.

__ADS_1


"Dav, Kak, katakan apa yang sudah terjadi? Mengapa kalian bisa bertemu Bunda di sini makan bersama tanpa memberi tahuku?" tuturnya dengan wajah kesal.


Hatinya sudah tidak bisa tenang, bagaimana mungkin mereka menikmati waktu bersama bunda sedangkan ia hanya berada di rumah tanpa tahu apa yang sudah terjadi di luar sana.


"Ruth," Dava memanggilnya dengan suara tak berdaya. Ia sendiri bingung harus berkata apa saat ini.


Hatinya benar-benar kacau kali ini. Pupus sudah hubungan yang ia pertahankan kali ini. Matanya berubah memerah mengingat semua akan berakhir detik ini juga.


"Sayang, kakakmu tidak salah. Bunda tahu kau sangat sibuk. Sudahlah ini semua kakakmu lakukan demi ketenanganmu dalam bekerja, yang terpenting saat ini kita sudah bersama, Sayang." bujuk Tarisya mengusap lembut punggung tangan sang anak.


"Oke baiklah. Aku sungguh tidak tahu alasan kalian apa menyembunyikan ini semua darikua." ia menatap Sendi dan Dava bergantian lalu beralih pada sang bunda lagi dan berkata, "Bunda, ini bukan Kak Jeff, Bunda salah. Dia Kak Berson. Dan ini Dava, suamiku..."


Duar!! ledakan bom seakan sukses menghancurkan sesisi ruangan kerja itu tanpa sisa.


Jantung wanita tua yang bernama Tarisya mendadak panas seperti terbakar. Nafasnya seakan terputus saat itu juga kala mendengar pengakuan anak gadinya.


"H h h h h h h..." suara napas yang terputus-putus membuat semuanya ketakutan.


Tarisya menjatuhkan tubuhnya pada sandaran sofa yang ia duduki kini.


"Bunda!" teriak Ruth membulatkan matanya takut.


"Bunda," Dava dan Sendi berteriak bersamaan dan segera mendekati sang bunda.


Teriakan demi teriakan dari ketiga anaknya membuat ia seakan terus semakin sakit. Air matanya jatuh dengan derasnya saat kedua mata wanita tua itu tertutup perlahan.


Begitu hancur hatinya kala mengetahui hubungan anaknya yang sudah menikah dengan sesama saudara sendiri. Sehancur itukah keluarganya kini hingga tak bisa di perbaiki lagi?

__ADS_1


"Cepat! Cepat bawa Bunda ke rumah sakit, Kak, Dav!" teriakan Ruth terdengar di sisa kesadarannya hingga akhirnya Tarisya benar-benar tak bisa lagi mendengarkan suara apa pun.


Dava, Sendi, dan Ruth menangis sembari berlari membawa tubuh wanita yang paling berjasa dalam melahirkan mereka bertiga tentunya.


__ADS_2