Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 152. Antara Sabar atau Kuat


__ADS_3

Heningnya malam kini di temani dengan suara rintik hujan. Seakan rintik hujan menjadi penenang diri, teman dalam sunyi dan obat kala merindu. Bayangan akan semua kenangan indah yang pernah terlewatkan kini terus membuat hujan dan air mata itu jatuh beriringan.


Mengapa takdir begitu kejam? Mengapa semua yang menjadi indah akan berakhir sepahit ini?


Rintik hujan yang terlihat menetes di kaca jendela membuatnya berpikir sejenak tentang gambaran hujan dan gambaran hatinya.


"Hujan selalu mempunyai alasan mengapa ia jatuh, tapi aku tidak punya alasan mengapa hatiku jatuh padamu...pria yang adalah kakak ku sendiri."


"Dav, hari ini aku benar-benar merasa tidak berdaya...banyak sekali kata-kata yang ingin aku sampaikan namun tak sanggup lagi rasanya aku menatapmu. Janji yang tak bisa kau tepati lagi, kenangan yang mungkin akan kau lupakan, dan rindumu yang selalu kau berikan untukku, mungkin tidak akan abadi usai air hujan malam ini mengguyur hatimu." Ruth memeluk tubuhnya sendiri di dalam kamar yang penuh dengan kenangan indah itu.


Cuaca begitu dingin seperti biasanya di kala hujan turun, namun malam ini sangat berbeda. Dingin yang begitu menusuk hingga ke dalam dada.


Jika malam-malam sebelumnya selalu ada tubuh hangat yang menyelimutinya dari belakang dengan memeluk dan menciumnya mesra. Tidak untuk malam ini.


Sesekali ia menoleh ke arah pintu kamar yang tertutup, "Sepertinya kau tidak akan pulang malam ini, Dav? Apa kau tidak akan menemuiku di kamar ini lagi?" Ia menengadah menghirup napas begitu dalam dan meneteskan air matanya.


"Tuhan...biarkan ini semua adalah mimpi terburukku. Ku mohon bangunkan aku dari mimpi ini."


Deg! Pelukan lembut terasa menghampiri tubuhnya. Namun seketika Ruth sadar pelukan itu bukanlah pelukan seperti orang dewasa.


Tangan mungil dan lembut tampak melingkar di kedua pahanya.


"Mah, are you okey? Please don't cry, Mah..." Suara Putri terdengar begitu lucu.

__ADS_1


Seketika Ruth menghapus air mata yang membasahi pipinya.


"Iya, Sayang. It's okey. Kamu sudah makan?" tanyanya berusaha tersenyum meski terlihat jelas kedua mata yang sudah begitu sipit dan wajah yang memerah.


Putri jelas tampak terdiam memperhatikan wajah sang mamah. Ia sangat kasihan selalu melihat mamahnya menangis sedih tanpa kenal waktu.


"Apa Ayah menyakiti Mamah? Sama seperti Om Sendi dulu?" tuturnya dengan wajah polos.


Sontak saja Ruth tersenyum dan menggelengkan kepalanya cepat. Tidak mungkin orang sebaik Dava bisa menyakitinya. Takdirlah yang begitu kejam membuat mereka harus berpisah secara paksa.


"Tidak, Nak. Ayah adalah pria yang sangat baik. Tidak mungkin ia tega menyakiti Mamah. Ini...Mamah hanya rindu dengan Nenek dan Kakek Putri saja kok." Ingatannya pun tersadar dengan keberadaan sang bunda dan ayah yang sudah di temukan.


Seketika Ruth tersenyum lembut, "Sayang, Mamah ada kabar baik loh." ujarnya dengan memegang kedua pundak kecil Putri.


"Benelan Mamah tidak apa-apa? Memangnya apa kabal baiknya?" tanyanya dengan antusias.


Di sini Mbok Nan pun ikut tersenyum mendengarnya, ia juga begitu senang mendengar majikannya masih hidup. Dava sudah memberitahunya, namun Mbok Nan belum bisa bertemu dengan sang majikan karena takut Ruth mengetahuinya.


Putri tampak antusias kaget. "Benelan, Mah? Itu altinya Putri masih punya nenek dan kakek?" ia memeluk bahagia sang mamah dengan mengusap air mata yang tiba-tiba saja jatuh di kedua pipi gendutnya.


"Telimakasih, Ya Allah...akhilnya Putli punya kakek dan nenek. Putli senang banget, punya mamah, punya ayah, punya Mbok Nan, punya Om Sendi, dan sekalang Putli dapet Kakek dan Nenek juga." Ia berdoa dalam hati saat berada di pelukan sang mamah.


Betapa bahagianya sosok anak yang hidup sebatang kara itu, kini perlahan Tuhan mengirimkannya satu persatu personil keluarga hingga hidupnya akan benar-benar lengkap layaknya teman-teman sebayanya. Meski ia tahu itu semua bukanlah keluarga aslinya, namun ia bisa tetap bersyukur kali ini.

__ADS_1


"Putri senang, Sayang?" tanya Ruth menatap wajah mungil itu yang menangis terharu.


Dengan cepat anggukan kepala ia perlihatkan pada sang Mamah.


"Malam ini Putli mau bobok sama Mamah...ayo Mah." Ia memanggil Ruth untuk mengikuti langkahnya menuju tempat tidur itu.


Seketika, Mbok Nan mencegahnya. "Eh, Non Ruth, Putri kita makan malam dulu yuk. Nanti pada sakit loh cuaca dingin begini nggak di isi perutnya." ujar Mbok


Ruth terdiam mendengar perintah Mbok Nan. Ia menatap sendu Mbok Nan, sementara Mbok Nan yang memperhatikan keadaan raut wajah sang majikan bertanya-tanya.


Dengan tidak pulangnya Dava, dan wajah sembab Ruth membuatnya yakin jika terjadi sesuatu pada sang majikan saat ini.


Mbok Nan berjalan mendekat dan menggenggam tangan Ruth. "Ada apa, Non? Non Ruth sedang dalam masalah?" tanyanya lemah lembut karena tidak ingin semakin menyakiti hati sang majikan.


Saat itu juga, deraian air mata pun kembali banjir sangat deras. Bahkan Ruth tak mampu lagi menahan kesedihannya di depan sang anak. Hatinya sudah tidak bisa kuat lagi untuk berpura-pura baik-baik saja.


"Mbok..." Ia menangis memeluk tubuh wanita tua itu.


Mbok Nan menunggu dengan sabar sembari mengusap terus punggung rapu itu.


"Non yang sabar, Mbok tahu kesabaran Non Ruth sangat besar. Semua pasti berlalu dengan baik." ia membalas pelukan dari wanita bermata cokelat itu.


"Mbok, andai saja saya bisa memilih. Saya bisa untuk sabar Mbok, tapi hati ini yang tidak kuat. Saya benar-benar tidak kuat dengan masalah kali ini, Mbok." ia menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


Putri yang menengadah memperhatikan percakapan keduanya merasa semakin penasaran. Apa sebenarnya yang menyebabkan mamahnya sampai menangis sehisteris saat ini.


Ia pun mengusap air matanya pelan karena tanpa terasa juga ikut meneteskan air mata.


__ADS_2