Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 174. Haruskah Pergi?


__ADS_3

Helaan napas kasar terasa begitu berat ia hembuskan malam ini. Tubuh tua yang sudah banyak memperlihatkan kerutan di setiap tubuhnya kini terasa begitu lemah. Ia perlahan menyandarkan kepalanya pada sofa yang ia duduki kini.


Tatapan mata pada kelopak mata yang begitu pilu menemaninya malam dingin ini di ruangan tengah. Setelah beberapa saat memilih untuk menunggu di depan kamar sang anak tertua, akhirnya Tarisya melangkah dengan gontai ke arah ruang tengah. Disinilah ia berada saat ini.


"Maaf, Nyonya. Tuan Dava sudah saya bersihkan di bantu dengan Tuan Sendi." tutur Mbok Nan menunduk setelah sampai di depan Tarisya.


Jika dulu tubuh bocah itu dialah sepenuhnya yang mengurus, namun kini pertemuan mereka di usia yang begitu jauh membuat kecanggunan pada diri mereka masing-masing. Mbok Nan pun tidak seberani itu untuk menyentuh Dava seperti dulu layaknya perhatian ibu pada anaknya.


"Terimakasih, Mbok." ucap Tarisya yang mengangkat kepalanya dari sandaran sofa dan menatap wajah wanita yang begitu setia pada keluarganya itu.


Dengan perasaan berat, ia pun membawa tubuhnya berjalan pelan ke arah kamar sang anak. Setibanya di pintu kamar, matanya terasa memanas melihat keadaan wajah Dava yang babak belur.


Sesakit apa pun hatinya saat ini, tidak akan ada yang bisa ia lakukan selalin tetap membatasi kedekatan kedua anaknya. Tidak mungkin ia akan merelakan dosa itu terus berjalan selamanya.

__ADS_1


"Jeff, mengapa kau melakukan ini, Nak? Apa kau tidak tahu Bunda juga sangat sedih melihat kesedihan kalian saat ini? Bunda sangat sakit saat ini, Sayang..." di elusnya kening luas di depannya yang tengah terbaring tanpa sadarkan diri.


Air matanya yang sudah mengering pun kembali menetes seketika. "Mbok, tolong ambilkan alat kompres untuk Jeff." pintahnya dengan tetap fokus menatap wajah tampan sang anak.


Manik mata yang tidak secerah mata usia muda terlihat bergerak menatap ke arah tangan yang terletak di atas perut. Di genggamnya perlahan dan di bawa ke dalam pelukannya tangan yang terasa sangat dingin itu. Ia begitu sedih melihat kerapuhan sang anak.


Tak lama terdengar suara ketukan pintu di depan kamar yang memang sudah terbuka pintunya dengan lebar.


Tok Tok Tok


"Masuklah, Nak." tuturnya lemah lembut di sisa kesedihannya yang terus menjatuhkan air matanya dengan tanpa hentinya.


Ruth menoleh menatap Sendi yang juga berdiri di sampingnya. Sendi mengangguk pertanda setuju dengan bahasa isyarat itu.

__ADS_1


Dua kakak beradik berjalan pelan menuju arah sang bunda berada.


"Bunda sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi saat ini..." Tarisya menundukkan kepalanya dengan mata yang sudah tidak bisa melihat apa pun lagi di bawah sana.


Mata itu tertutup dengan air yang bergantian menunggu gilirannya jatuh.


"Bunda maafkan kami, Bunda." Ruth langsung memeluk tubuh bundanya melampiaskan seluruh kesedihannya yang terasa amat menyakitkan saat ini.


"BIarkan Shandy yang pergi saat ini, Bunda. Mungkin dengan seperti itu, Shandy akan bisa mengendalikan semuanya dengan baik." ia mencium punggung tangan sang bunda lalu menyandarkan kepalanya pada tangan hangat itu.


Sendi dan Tarisya serentak membulatkan matanya, mereka menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan keputusan yang Ruth buat.


"Tidak, Shandy. Kau bicara apa, Nak? Bunda tidak ingin salah satu di antara kalian pergi dari sini. Kita sudah di berikan kesempatan Allah untuk berkumpul, apa kalian mau menyia-nyiakan kesempatan itu begitu saja?" Ruth menundukkan kepalanya berat hati.

__ADS_1


Semuanya tidak ingin ia putuskan, tetapi keadaan sudah sangat sulit untuk di hadapi. Setiap hari harus bertemu dalam satu rumah dengan perasaan yang masih sangat besar cintanya. Bagaimana mungkin mereka akan tetap baik-baik saja sedangkan keadaan memaksa mereka harus berpisah?


__ADS_2