
Mendengar perkataan Dina, tatapan mata Dava terasa begitu menyala. Segera mungkin ia melajukan mobilnya.
Ramainya jalanan membuat Dava sungguh tidak bisa bersabar lagi.
Suara klakson mobil yang bersahutan benar-benar memperjelas keadaan jalanan yang tak bergerak sama sekali.
"Ah ****!" umpat Dava sembari memukul setir mobil miliknya.
"Ruth, tunggu aku." tuturnya lirih dan memastikan sekali lagi keadaan di depan sana.
Benar saja Dava akhirnya memutuskan untuk meraih ponsel dan menarik kunci mobil miliknya.
Pandangan mata yang terlihat memerah, segera ia usap dengan kedua tangannya.
Kaki jenjang melangkah tegas dan segera berlari. Tak perduli dengan keadaan kendaraan pribadinya. Baginya wanita yang ia cintai adalah hal yang terpenting.
Tinnnn!! suara klakson motor terdengar begitu nyaringnya. Dava sungguh terkejut mendengarnya.
Ia terperanjat hingga tampak menghela napasnya kasar.
"Pak, tolong jangan bunuh diri dong. Saya orang susah. Anak istri saya-"
"Pak, tolong antar saya. Tolong, Pak. Saya sangat buru-buru." Dengan menangkupkan kedua tangannya, Dava menghentikan ucapan bapak tukang ojek tanpa perduli apa yang di ucapkan pria di depannya tersebut.
Ada mata yang begitu penuh kekhawatiran terlihat jelas di tatapan netra hitam milik Dava. Ia sungguh tak bisa mengatakan apapun selain memikirkan sosok wanita yang begitu ia khawatirkan.
__ADS_1
"Saya mohon dengan sangat, Pak." tuturnya tulus.
"Baik, mari Pak. Saya antar." Terlihat begitu senangnya wajah Dava mendengar persetujuan sang pria tersebut.
Motor bermerek lama itu meluncur dengan segera menuju tempat yang di sebut oleh Dava.
***
"Sayang, ayo dimakan, Nak." bujuk Tarisya begitu cemas melihat Ruth yang sudah bungkam beberapa saat.
Ia hanya terdiam menatap ke arah dinding putih polos itu. Sesekali air matanya jatuh membasahi bantal putih rumah sakit.
Begitu sakit hatinya mengingat tinggal satu bulan lagi anak mereka akan lahir. Selama hamil, bahkan ia lupa kapan terakhir mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari Dava.
Masalah yang terus datang membuat usia kehamilannya berjalan sia-sia.
Tarisya pun menganggukkan kepalanya. Ia mundur perlahan dan memberikan piring makan sang anak pada Sendi.
"Pastikan dia makan, Berson. Bunda cemas melihat Shandy seperti ini. Kasihan bayinya..." Tarisya menatap Ruth dengan tatapan sedihnya.
Ceklek! Tiba-tiba saja suara pintu terdengar terbuka.
Sosok pria gagah dengan dada yang terlihat bernapas terengah-engah. Tatapan matanya begitu sendu menatap ke arah wanita yang terbaring tanpa mau menatap ke arahnya.
Tarisya dan Sendi yang baru saja bertukar posisi begitu terkejut. Mereka menatap ke arah pintu dan meyakini jika Dava akan sangat sedih melihat mantan istrinya saat ini.
__ADS_1
Langkah demi langkah pelan terus bergerak mengikis jarak antara Dava dan juga wanita yang begitu ia rindukan.
"Ruth," suara lirih itu terdengar lolos begitu saja.
Sedang wanita berbadan dua yang terbaring tak berdaya masih enggan memalingkan pandangannya.
"Tidak, ini pasti hanya halusinasi ku saja. Dia tidak mungkin akan datang menemui ku..." batin Ruth bermonolog.
Pendengaran yang membuatnya kembali tertarik kesadarannya namun Ruth mengingat dirinya tidak akan mungkin di kunjungi sang mantan.
Pelukan hangat dan aroma tubuh yang begitu ia yakini milik pria itu sungguh benar-benar nyata.
"Dav..." bibir Ruth bergetar kala merasakan pelukan hangat yang menindih tubuhnya.
"Aku disini, Ruth. Aku begitu khawatir denganmu..." Dava mengusap pucuk kepala Ruth yang masih terbaring lemah.
Tangannya enggan membalas pelukan sang mantan suami.
Hanya ada tetesan air mata yang jatuh di kedua sudut matanya. "Tidak. Ini bukan kau, Dav. Aku tidak percaya." Ruth menggelengkan kepalanya pelan.
Dava yang meneteskan air mata, segera melepaskan pelukannya. Di tangkupnya wajah sang mantan. "Jangan seperti ini. Jangan membuatmu sakit, Ruth. Kumohon..."
Ruth tak bisa berbicara apapun. Ia menatap dalam dua netra hitam milik Dava yang menatapnya dengan sangat dekat.
"Ini aku, Sayang. Ini aku, Ruth. Aku datang untukmu." Suara khas Dava begitu menggema di indera pendengaran Ruth.
__ADS_1
Begitu mendengar penuturan Dava, Ruth seketika menatapnya. Ia membalas pelukan Dava tanpa berpikir lebih. Pelukan dan isakan tangis bersamaan keluar begitu saja.
Keduanya berpelukan tanpa tahu jika sang bunda dan Sendi sudah keluar dari ruangan rawat tersebut.