Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 119. Pertemuan Part 2


__ADS_3

Di sinilah di tempat yang tidak begitu luas, ketiga orang yang sangat asing berpelukan dengan perasaan yang berbeda-beda tentunya. Tarisya menangis merindukan anaknya, sementara Dava tengah sakit menyadari jika waktunya untuk berbahagia bersama sang istri tidak akan lama lagi. Berbeda juga dengan Sendi yang hanya bisa menerima pelukan tanpa bisa merasakan apa pun.


"Kalian, Jeff, Berson. Apa kalian mengingat Bunda, Nak?" Tarisya menatap dua wajah tampan itu secara bergantian.


Sendi bungkam, ia menoleh menatap sosok Dava yang ternyata adalah kakak kandungnya.


"Ingat! Kita adalah adik kakak. Jangan membuat Bunda semakin drop. Meski kau tidak mengingat akan hal itu, tolong untuk saat ini bantulah Ruth, adik kita." begitulah Sendi mengingat permintaan Dava saat di perjalanan menuju rumah sakit tadi.


"Bunda, kami tentu mengingat Bunda. Jangan khawatirkan tentang hal itu. Saat ini istirahatlah dengan baik. Agar kau bisa kembali bersama kami." Dava tersenyum menatap wajah Tarisya yang semakin membaik saat mendengar perkataan Sendi pada Bundanya.


Ia menoleh dan berkata dalam sorot matanya. "Bagus, Sendi. Kau memang adik yang penurut."


Tarisya melepaskan kedua tubuh dari pelukannya lalu kembali memperhatikan arah pintu yang masih terbuka. "Dimana Shandy, Jeff? Dimana adik kalian?"


"Sumpah demi apapun...ini benar-benar drama gila! Aku bahkan tidak mengingat apa pun saat ini. Benarkah mereka adalah keluargaku? Hah! Mengapa kepalaku terasa kosong?" Sendi berulang kali memejamkan matanya yang terasa sangat pening.


Ia tentu saja sangat syok saat mengetahui langsung kebenarannya dari Dava, bahwa ternyata mereka bertiga adalah adik kakak.


"Em...dia masih belum bisa kemari, Bunda. Mungkin lain hari hari kasus yang menyangkut Bunda dan Ayah sangat bersangkutan dengan kesaksiannya. Jadi dialah yang mengurus lebih banyak tentang hal ini." terang Dava berusaha berbohong.


Ia benar-benar tidak ingin terjadi apa pun dengan Ruth jika sampai nekat membawanya ke hadapan Bunda saat ini juga.


"Semoga dengan kehadiranku dan juga Sendi sudah jauh lebih membuat Bunda tenang." batin Dava menatap sang Bunda yang tersenyum padanya dan juga Sendi.


"Bunda tidak menyangka kalian tumbuh menjadi sosok yang sangat tampan dan tinggi...maafkan Bunda, Nak. Maafkan Bunda yang tidak bisa membesarkan kalian dengan kasih sayang Bunda. Maafkan Bunda..." Tarisya kembali menangis.

__ADS_1


Ingatannya berputar, dalam waktu yang cukup lama ini ia membiarkan anak-anaknya hidup tanpa belaian dan kasih sayang dari dirinya dan juga sang suami.


Tarisya terisak dalam kesedihannya. Ia benar-benar mengutuk penjahat yang sudah berhasil memecah belah keluarga mereka selama ini.


Dava yang melihat kesedihan sang bunda segera menenangkannya dengan pelukan hangat.


"Bunda, semua sudah terjadi. Dan saat ini semuanya sudah berkumpul. Bunda harus bahagia dengan hal ini. Jangan menangis lagi. Kami masih sangat menyayangi Bunda meskipun kami tidak begitu lama bersama Bunda. Masih ada Ayah yang harus kita doakan saat ini, Bunda."


Tarisya langsung menatap wajah Dava saat mengingat sang suami.


"Jeff, bagaimana Ayahmu? Apa dia sudah baikan? Bunda ingin melihatnya. Tolong, Nak. Bunda sangat ingin bertemu dengannya..."


"Bunda, untuk saat ini Bunda tidak boleh kemana-mana dulu. Kita masih harus mengikuti proses hukum yang melindungi kita, Bunda. Jeff dan Berson yang akan memastikan keadaan Ayah setelah ini. Okey?" ucapnya setelah menatap wajah Sendi yang tampak acuh sedari tadi.


Pikirannya melayang entah kemana. Dalam keinginannya, ia sangat menginginkan hidup bahagia dengan Dina yang menjadi tujuannya saat ini. Namun, dalam hati terdalam ia sangat tidak bisa melupakan sosok Ruth yang sudah menjadi pemilik hatinya sepenuhnya.


Setelah begitu banyak perbicangan yang Dava lakukan pada sang Bunda, kini akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari ruangan tersebut.


Ia memeluk tubuh Tarisya dan mencium keningnya. Berbeda halnya dengan Sendi. Ia lebih memilih memeluk lalu mencium punggung tangan sang Bunda.


Tarisya terharu melihat sikap hormat kedua anaknya padanya. Air mata bahagia sangat deras berjatuhan di kedua pipinya.


"Jeff, Berson, salamkan Bunda pada Shandy yah? Katakan Bunda sangat merindukannya dan menginginkan ia datang segera."


"Baik, Bunda. Akan kami sampaikan." sahut Dava berlalu bersama dengan Sendi.

__ADS_1


Ceklek!


Suara pintu terdengar tertutup dari luar. Meninggalkan Tarisya kembali seorang diri di ruangan bernuansa putih ini.


"Saya titip Bunda kami." tutur Dava pada polisi yang bertugas menjaga di depan pintu.


"Siap, Pak." jawab mereka dengan serentak.


Setelah meninggalkan tempat itu, Dava langsung membawa Sendi kembali menuju ke parkiran di mana mobilnya berada.


"Tidak jadi menjenguk Ayah?" tanya Sendi refleks menyebut kata 'ayah.


Dava menoleh dan menatapnya. Ia tersenyum kecut dan masuk ke dalam mobil tanpa mengatakan apa pun.


"Hei, tunggu!" teriak Sendi menyusul masuk.


"Beliau tidak bisa di jenguk. Masih dalam keadaan kritis." tutur Dava seraya melajukan mobilnya tanpa mau menatap pria di sebelahnya saat berbicara.


Tubuhnya terasa sangat lemas. Ia sama sekali tidak bersemangat hidup saat ini.


"Ruth..."


"Anakku..." batin Dava yang ingin menangis sejadi-jadinya saat ini.


"Aku tidak rela, Tuhan! Aku tidak rela melepaskan mereka."

__ADS_1


__ADS_2