Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 27. Dava Tertangkap


__ADS_3

Kini di ruangan keluarga terlihat wajah yang bahagia berseri-seri dan tawa yang terdengar begitu cerianya. Meski hanya dua penghuni, namun kini terasa membawa suasana rumah kembali hidup.


"Geli, Paman. Ampun." seru Putri terus menggeliatkan tubuhnya di sofa hingga berbaring.


"Hahaha...Paman nggak kasih ampun yah, Putri. Kamu yang mulai sama Paman. Enak saja minta ampun secepat itu." ucap Dava terus melancarkan aksi tangannya yang menggelitik tubuh mungil sang anak.


"Oke, oke. Putli kasih tau satu lahasia Mamah Ruth ke Paman deh kalo gitu ahahahaha." Putri berucap dengan lantangnya tanpa bisa menahan tawa.


"Rahasia katamu?" Dava seketika menghentikan aksi tangannya yang jahil.


Putri merasa menang kali ini.


Dengan cepat bocah itu berlari melepaskan diri dari serangan sang Paman.


"Putri, kamu bohongin Paman yah?"


Terus suara tawa Putri terdengar menggema di seluruh rumah milik sang Mamah. Dava pun tampak tak tinggal diam. Lelaki berkaki jenjang itu segera melangkah mengejar arah lari sang anak.


"Mamah...Mamah tolongin Putli!"


Suara teriakan sembari tertawa kini menjadi arah langkah pria yang tertawa bahagia tersebut.


"Putri!" Dava berteriak mendekati bocah yang kini sudah memeluk kedua kaki sang Mamah. Ia menyembunyikan tubuh mungilnya di balik tubuh wanita langsing dan bertubuh tinggi itu.


Namun seketika langkah Dava terhenti kala melihat Mbok Nan berlari ke arahnya.


"Tuan,"


"Tuan, Dava." panggilnya seraya berlari kecil.


Dava menoleh, begitu juga dengan Putri yang saat itu juga berhenti tertawa dan berteriak.


"Mbok, jangan berlari-lari seperti itu. Nanti jatuh bagaimana?" Ruth tampak mencemaskan keadaan wanita yang sudah sangat tua itu.


Bagaimana pun juga, hanya Mbok Nan yang selama ini begitu menyayanginya layaknya anak kandung sendiri.


"Iya, Non. Maaf. Itu...di depan ada...anu, Tuan Dava."


Dava mengernyit melihat jari telunjuk Mbok Nan yang menunjuk ke arah pintu rumah.


Ia langsung melangkah keluar tanpa menunggu penjelasan dari sang Mbok yang terlihat gugup dan takut. Detik berikutnya, Ruth menyusul dengan rasa penasarannnya.


"Siapa, Dava?" tanyanya dan menoleh ke depan.


"Permisi, kami dari pihak kepolisian memberikan surat penangkapan untuk anda, Tuan Dava Sandronata." terang seorang pria yang berseragam lengkap dari pihak kepolisian.


Dava hanya menghela napasnya kasar. "Sudah kuduga." lirihnya sembari menatap hampa pada kertas yang di berikan kepolisian tersebut.

__ADS_1


"Silahkan." Dava berucap tanpa menjelaskan apapun pada sang istri maupun anaknya.


"Paman,"


"Mamah, Paman mau di bawa kemana?" Putri terdengar berteriak seraya menggoyangkan ujung baju sang Mamah.


"Dava, ada apa ini? Pak apa yang terjadi?" Ruth bertanya dengan wajah syok. Bibirnya yang pink berubah menjadi pucat.


"Tuan Dava terlibat penggelepan Dana di perusahaan Nata Hensana*.* Untuk kejelasan mari kita ke kantor."


Dava melangkah meninggalkan rumah tanpa menjelaskan apa pun pada pihak keluarga. Matanya terpejam kala mendengar suara isakan seorang bocah, "Paman,"


"Pak Polisi, jangan bawa Paman Putli. Dia olang baik, Pak Polisi!"


"Putri, jangan menangis, Nak."


"Pak Polisi, Putli mohon. Paman satu-satunya Ayah Putli!"


Suara teriakan Putri dan suara lembut Ruth kini mengantar kepergian Dava bersama dua anggota kepolisian. Tak lupa, beberapa mobil pengawal dari kantor polisi ikut menjaga keamanan.


Tentu tidak asing bagi mereka, nama Sandronata. Orang penting yang sangat berpengaruh di negara ini. Dengan usaha yang terbilang sukses. Hampir di seluruh Kota sudah memiliki cabang Hotel bintang lima. Dan tak hanya di seluruh Indonesia, namun di luar negeri juga terus ia bangun tanpa henti.


Putri bahkan menangis dalam gendongan sang Mamah kala menyaksikan kepergian sang Paman yang kini tak lagi terlihat di halaman rumahnya.


***


Brak!!


Suara televisi terdengar pecah kala remot televisi itu melayang menghantam layar.


"Brengs*k!! Sialan. Bagaimana ini bisa terjadi? Arghh!!" Wajah Deni tampak memerah seketika.


Tangannya mengepal, matanya terus berotasi tidak beraturan. Bahkan sesekali jemari miliknya mengusap pelu di kening yang sudah terasa panas dingin itu.


Ayunan kursi kerja terus berusaha membantu sang pemilik tubuh yang duduk agar berpikir cepat.


"Ini pasti ulah Iwan. Benar-benar keterlaluan. Rupanya-"


Plak! Plak! Plak! Suara riuh tepuk tangan yang beberapa kali terdengar membuat Deni menoleh. Pintu ruang kerjanya bahkan sudah tertutup kembali tanpa di sadari jika ada yang masuk ke dalam ruang kerja miliknya.


Wajah kesal, geram, penuh emosi kini tertuju pada kehadiran sosok pria yang terlihat seusia dengannya. Tubuhnya yang bersandar pada kursi singgasana kini ia tinggalkan dengan begitu saja.


"Untuk apa kau kemari, Iwan?" tanya Deni menatap tajam pada pria di hadapannya yang tak lain adalah Iwan Sandronata. Ayah dari Dava Sandronata yang saat ini sudah menjalani proses pemeriksaan di kantor polisi.


"Hahaha rupanya kau sedang emosi...Apa karena bonekamu telah ku lenyapkan? Deni...Deni...Kau pikir semudah itu menjatuhkan anakku dalam sumur itu? Kau salah besar. Wanita itu...heh! Sampai kapan pun tidak akan bisa menjadikan Dava pelarian." terang Iwan dengan terkekeh remehnya.


"Apa maksudmu?" hardik Deni berapi-api.

__ADS_1


Kini dua pria bertubuh tinggi itu sudah saling berhadapan dengan tatapan kemarahan masing-masing.


"Tentu saja maksudku adalah...aku tidak akan biarkan Dava hidup bersama wanita itu. Bahkan kalau perlu, aku yang akan menyatukan wanita itu dengan anakmu. Bukankah Sendi jauh lebih mencintai wanita bodoh itu?"


Deni benar-benar kesal melihat tawa merendahkan dari lawan bicaranya kali ini. Sungguh, tidak pernah ia duga jika seorang Iwan Sandronata akan datang ke tempat kerjanya hanya demi menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang ayah yang memiliki anak yang cinta mati pada wanita bodoh dan yatim piatu itu.


"Sampai kapan pun tidak akan ku biarkan itu terjadi. Anakmulah yang berhak atas wanita itu. Aku tidak akan tinggal diam Iwan. Ingat! Deni Sandoyo tidak sebodoh yang kau pikirkan. Aku akan menghancurkan hidupmu! Termasuk hidup anakmu."


Tangan Iwan yang sejak tadi terletak di kedua kantong saku celananya seketika bergerak memutar pergelangan tangan Deni.


"Argh! Lepas!" pekik Deni meronta dari serangan lawan bicaranya.


Iwan tersenyum menyeringai di belakang sang lawan. Lalu berucap lirih, "Anakmu...yang akan hancur, Deni. Dina yang malang akan ku pastikan mendapatkan siksaan dari Sendi hahahaha..."


Suara tawa itu terus terdengar setelah melepaskan genggaman tangannya pada lengan sang lawan dan melangkah keluar ruang kerja milik Deni.


Punggung yang sudah tidak terlihat lagi, kini meninggalkan kemarahan yang teramat sangat dari seorang Deni Sandoyo.


"Berani-beraninya kau mengancamku! Aku yang akan turun tangan sendiri kali ini."


 


***


Suasana riuh di kantor kepolisian semakin membuat Dava kesulitan untuk bergerak. Seluruh wartawan bahkan sangat antusias menanti penjelasan darinya.


Setelah usai mendapatkan waktu untuk investigasi demi melengkapi Berita Acara Pemeriksaan atau yang biasa di sebut (BAP), kini Dava di kembalikan pada ruangan penahanan di kantor kepolisian sembari menunggu beberapa bukti terkait kasus yang menjeratnya.


Tak hanya itu, beberapa pihak yang berkaitan juga akan mendapatkan panggilan di waktu yang sudah di tetapkan.


Dava kini hanya terduduk di sudut ruangan yang berukuran kecil itu, lebih kecil dari ruangan kamar mandinya. Sungguh sehina itukah dirinya sampai ayah sendiri tega menjerumuskan anaknya ke dalam penjara.


"Heh," Dava terkekeh meratapi nasibnya yang begitu buruk.


Seburuk apapun perlakuan Tuan Iwan padanya, Dava tetaplah anak bagi ayahnya. Dirinya bahkan sudah menjadi pria sukses sampai pada tahap seperti saat ini.


Namun, apa artinya kesuksesan, kemewahan, jika kasih sayang sang Ayah sama sekali tak pernah ia dapatkan sampai di usianya yang menginjak 27 Tahun.


 


"Ayah, terkadang aku tersenyum melihat wajah sempurnamu. Kadang aku tertawa bangga karena aku mirip denganmu yang tampan. Bahkan sukses sepertimu juga. Tapi kenapa Ayah, bibir yang mirip dengan bibirku itu jarang sekali tersenyum padaku. Tangan yang berbentuk seperti tanganku tidak pernah terulur untuk menyentuk tangan ini?"


Seketika lamunan pendek itu buyar kala mendengar kunci sel tahanan miliknya terbuka.


"Silahkan, ada yang menjenguk anda." ucap penjaga tahanan di kantor polisi tersebut.


Hai semuanya!

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian yah. Terimakasih. 1 Like dari kalian sangat berarti untuk author loh.


__ADS_2