Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 88. Keterkejutan Sendi


__ADS_3

Malam yang sunyi, sengaja Dava atur sebaik mungkin tanpa ada yang tahu. Ruth yang baru saja mensejajari langkah sang suami menatap sekeliling rumah.


Wajahnya mengernyit bingung. Kemana semua orang di rumahnya? apa di jam yang sangat awal seperti ini sudah terlelap semua pikirnya.


"Dav..." lirihnya memperhatikan seluruh sudut rumahnya mencari sosok bocah mungil yang selalu mengisi rumah tua itu.


Dava menghentikan langkahnya menoleh ke samping pada sang istri. Koper di tangannya pun ikut terhenti berjalan.


"Hem?" sahutnya.


Ruth menatapnya dengan penuh tanya. "Semua orang kemana yah? Apa Putri dan Mbok Nan tidur? Aku ingin memeriksa ke kemar mereka dulu sebelum berangkat." Ruth melangkah hendak meninggalkan sang suami, namun Dava dengan cepat menarik tangan sang istri.


Ia menggelengkan kepala. "Tidak, Ruth. Putri akan menangis jika melihat kita pergi. Ayo cepat, tiket kita segera berangkat." tuturnya memperingatkan sang istri.


"Dav, tunggu." Ruth mecegah ajakan sang sang suami yang hendak melangkah membawanya keluar rumah.


"Dav, ponselku tertinggal." Ruth merogoh isi tas genggamnya.


"Aduh dia mengingatnya lagi. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Jika Ruth mencari ponselnya, semuanya bisa gagal malam ini." batin Dava tampak gelisah mengingat persidangan yang berlangsung tadi siang bagaimana kabarnya.


Bahkan ia sendiri pun sampai tidak sempat mencari informasi tentang hasil persidangan hari ini.

__ADS_1


"Beruntung ponselku ada dua. Hehehe setidaknya ponsel kerja ini masih sangat berguna bagiku." batin Dava bermonolog sembari menatap wajah sang istri yang menatapnya penuh tanya.


"Ada apa sih? Dari tadi gelagatnya aneh begitu."  Ruth menatap sang suami heran dan bertanya dalam hati.


"Dava...ada apa? Aku harus ke kamar mencari ponselku. Siapa tahu ada yang penting menghubungiku dari perusahaan, atau dari pengaca kita."


"Tidak. Tidak ada apa-apa, Sayang." Dava tersenyum canggung lalu mengusap kepala sang istri.


"Ayo kita harus segera berangkat." Dava akhirnya berhasil membaksa sang istri untuk segera berangkat.


Ruth hanya bisa pasrah mengikuti langkah suami meski terasa sangat berat ia pergi malam itu. Penerbangan malam yang menjadi jadwal penerbangan terakhir di bandara membuat mereka berdua harus segera menuju ke bandara.


Di sini, di bandara keduanya tampak segera melakukan check ini lalu bergegas menuju tempat boarding seluruh penumpang pesawat yang akan segera terbang.


Tanpa ia tahu perjuangan sosok wanita tua renta dan juga bocah tengil itu yang baru saja terkekeh di hadapan pintu kamar Sendi.


"Tos," seru Putri mempertemukan telapak tangannya dengan telapak tangan sang Mbok.


Keduanya tertawa dengan ceria saat mendengarkan teriakan sosok korban di balik pintu kamar itu.


"Halo! Ada orang? Tolong pintunya di buka!" Sendi kini berteriak seraya terus menggedor pintu tersebut dengan nada suara yang semakin kesal.

__ADS_1


Ceklek! Suara pintu kini akhirnya terdengar terbuka dan nampaklah dua wajah wanita yang terlihat menyengir kuda tanpa ada ekspresi rasa bersalahnya.


"Hehehe..." tawa Mbok Nan memperlihatkan deretan giginya yang masih utuh alias bantuan gisu, gigi palsu.


"Mbok, ada apa ini? Kenapa main kunci-kunci segala?" tanya Sendi menatap keduanya bergantian.


"Maaf, Tuan. Ini perintah Tuan Dava." jawab jujur Mbok Nan segera.


"Dava? Untuk?" tanyanya tak mengerti tujuan dirinya di kunci entah sejak kapan. Karena terakhir ia sadar sore setelah berusaha menunggu sang adik keluar kamar hingga akhirnya menyerah dan memilih untuk tidur.


Niat hati ingin berbicara dengan sang adik setelah bangun dari tidurnya.


"Yasudah. Kalau begitu biar saya saja yang mencari mereka. Dimana mereka? Jangan bilang masih tidur di kamar dan butuh istirahat. Sudah cukup ini, Mbok." Sendi merasa tidak terima mendengar Ruth harus beristirahat yang cukup usai Mbok Nan mengatakan jika mereka baru saja membuat dedek semalaman.


Hal itu tentu saja membuat Sendi terus uring-uringan tak tenang. Hatinya terasa terbakar hingga mendidih api cemburunya.


"Tuan. Tuan, tunggu dulu." tutur Mbok Nan mencegah langkah Sendi yang sudah hendak berlalu meninggalkannya.


"Apalagi sih Mbok? Tolong jangan halang-halangi saya lagi."


"Tuan, tapi Non Ruth dan Tuan Dava sedang dalam perjalanan honeymoon." Mendengar perkataan sang Mbok, sontak Sendi meneguk kasar salivahnya.

__ADS_1


Matanya tampak membulat sempurna. Ia benar-benar tidak bisa menduga hal ini terjadi pada dirinya. Di tinggal sang mantan saat sayang-sayangnya untuk berbulan madu.


__ADS_2