
Tatapan dua pasang netra indah itu saling menyalurkan rasa cinta mereka masing-masing. Dava bergerak mendekat sang istri dan memberikan kecupan cukup lama.
"Aku harus pergi dulu. Beristirahatlah dengan baik." tuturnya memegang pucuk kepala sang istri.
Ruth tak bergeming, matanya masih terus bergerak mengikuti arah langkah suaminya yang kini kembali pergi lagi.
Yah. Dava hanya ingin memastikan istrinya baik-baik saja untuk membuatnya jauh lebih tenang menuju ke kantor polisi.
"Ini benar-benar keterlaluan, Dav! Gila! Aku sungguh tidak habis pikir dengan ini semua." Di sini, Dava sudah berhadapan dengan pria berseragam lengkap.
Perjalanan yang cukup singkat ia lalui dengan begitu cepat. Dava benar-benar tidak ingin membuang waktu untuk menyelesaikan semua persoalan sang istri.
Pria di depannya yang tengah menatap satu persatu bukti dan menyamakan beberapa berita yang sudah lama mereka tutup membuatnya menggelengkan kepala tak habis pikir.
"Bagaimana bisa kalian seorang polisi dengan mudahnya melewatkan hal sebesar ini?" Tatapan Dava seolah tengah menghakimi kedudukan temannya di depan saat ini.
"Maaf, Dav. Ini kejadian sudah sangat lama. Bahkan aku saja mungkin masih dalam masa sekolah untuk menduduki jabatan saat ini." terangnya mengingat jika berita yang ia akses kembali sudah sangat lama.
"Jangan khawatir. Semuanya akan ku usut tuntas mulai hari ini juga. Ini sangat membuatku begitu penasaran." tutur Rafael.
"Oke. Aku harap semua laporanku tidak terbuang sia-sia, Raf. Kalau begitu apa masih ada yang di perlukan lagi? aku akan melengkapinya." tutur Dava bernada serius.
"Tidak. Ini sudah cukup. Tinggal menunggu dua rekanmu yang di rumah sakit. Nanti aku akan kesana untuk meminta kesaksian mereka." Rafael menghela napasnya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya.
"Oh iya. Dan istrimu. Dia juga perlu kami mintai keterangan."
"Baiklah. Aku harus segera kembali ke rumah sakit. Terimakasih, Raf." Keduanya berjabat tangan dengan tegas.
"Sama-sama, Dav. Segera hubungi aku jika ada apa-apa." Rafael tersenyum menatap kepergian Dava.
Kini Dava melangkah meninggalkan kantor polisi. Wajahnya begitu sombong jika tidak tersenyum, namun tak mengubah tatapan kagum dari para polwan yang mencuri-curi pandang padanya.
Sementara disini, Ruth yang terbaring di rumah sakit mengaduk sarapannya tanpa aturan. Bahkan Mbok Nan yang baru tiba merasa heran sekaligus iba pada makanan yang menjadi pelampiasan kekesalan sang majikan.
__ADS_1
"Non," Mbok Nan bersuara lembut sembari memegang sisi piring itu.
"Mbok," Ruth terhenti dari kekesalannya.
"Ada apa dengan makanannya? Tidak enak? apa Mbok mau buatkan makanan buat Non Ruth?" tanyanya tersenyum melihat wajah lesu wanita cantik di depannya.
"Lagi nggak napsu, Mbok." ucap Ruth dengan ekspresi malasnya.
"Tuan Dava mana, Non? Apa sudah pergi bekerja?" tanya Mbok Nan menelusuri setiap sudut ruangan rawat itu.
"Tau. Paling pergi sama wanitanya kali, Mbok." Mbok Nan terkekeh melihat sikap sok acuh Ruth saat mengatakan dimana Dava berada.
"Oh...apa wanitanya Tuan Dava ada Non? Apa dia jauh lebih cantik dari Non?" Pancing Mbok Nan yang tersenyum-senyum mendapat tatapan tajam dari Ruth.
"Tidaklah, Mbok. Dimana-mana istri itu pasti lebih dari segalanya di bandingkan perempuan pengganggu suami orang. Iya kan, Mbok?" Ruth dengan percaya dirinya membandingkan dirinya.
"Hehehe...iya Non. Tapi Mbok yakin kok. Tuan Dava bukan pria seperti itu. Dia suami idaman, Non. Sangat menyayangi Non Ruth bahkan juga dengan Putri." ucap Mbok Nan mengusap bahu Ruth yang menyandarkan kepalanya pada bahu sang Mbok saat Mbok Nan duduk di sampingnya.
"Mbok..." panggilnya lirih.
"Tadi ada perempuan datang kemari, Mbok. Namanya Alana..."
"Hem...siapa dia Non?" respon Mbok Nan dengan sigap.
"Dia cuma bilang mencari Dava. Dan mengatakan jika Ruth sudah datang di kehidupan mereka berdua sebagai perusak, Mbok. Wajahnya cantik, Mbok. Dia juga terlihat seperti wanita sangat modern dan berkelas." Ruth mengatakan dengan kedua mata yang sudah berembun menahan tangisnya.
Sejak kepergian Alana, di susul kepergian Dava yang tidak mengatakan apa pun membuat hatinya begitu nyeri. Ia tidak rela, jika Dava bertemu dengan wanita itu di luar sana tanpa pengawasannya.
"Non...pernikahan itu bukan berdasarkan hanya dengan kata cinta. Tapi di dalamnya sangat penting dan sangat di butuhkan kepercayaan. Saat ini Non sudah merasakan cinta yang begitu hangat dari Tuan Dava. Tapi apa arti itu semua jika Non sendiri tidak bisa memberikan kepercayaan pada suami Non?"
Mbok Nan mengusap kepala Ruth lembut. "Non, Mbok tahu tidak mudah untuk kalian bersatu dalam pernikahan ini. Tapi dari keadaan itulah, Non Ruth harus belajar menghargai kerasnya perjuangan kalian untuk bisa saling jatuh cinta. Cinta yang sangat sulit kalian bangun, jangan mudah untuk bisa di runtuhkan oleh orang luar. Di luar sana banyak yang masih harus kalian hadapi. Pihak dari Non Ruth maupun pihak dari Tuan Dava. Mereka sama-sama berjuang untuk merusak pernikahan kalian. Maka satu-satunya jalan yaitu, kuatkan kepercayaan kalian berdua."
Ruth terdiam meresapi kata demi kata yang di ucapkan dengan Mbok Nan. "Ingat Non. Ada banyak orang yang tertawa di luar sana jika berhasil meruntuhkan cinta kalian di dalam pernikahan ini."
__ADS_1
"Iya. Mbok Nan benar. Sepertinya aku harus menunggu Dava pulang untuk menyelesaikan semuanya. Karena aku juga penasaran dengan wanita itu, Mbok." sahutnya mengerucutkan bibirnya.
Sementara di sini, Dava tengah berjalan dengan gagahnya mengarah pada kursi no 04, dimana sosok gadis dengan mata birunya tersenyum cerah saat melihat sosok yang begitu menggugah semangatnya.
"Dev," ucapnya sembari melambaikan tangannya ke udara.
Dava yang memenuhi janji temu dengan sosok gadis cantik bak model internasional itu langsung bergegas mendekat.
"I miss you..." Alana tanpa canggung memeluk tubuh Dava dengan eratnya.
"Hah," desah Dava dengan kasarnya saat mendapat serangan pelukan seperti itu. Bahkan tangannya pun langsung ia layangkan ke udara dua-duanya karena enggan membalas pelukan itu.
"Alana, cukup." tuturnya mencengkram kuat lengan Alana yang masih melingkar sempurna pada pinggang sispeknya.
"Are you oke? I miss you so much, Dev. Bagaimana denganmu? Apa kamu tidak demikian?" Dava menjauh dan duduk di kursi tanpa mendengarkan perkataan wanita di depannya.
"Apa Ayahku yang membawamu ke Indonesia?" Tatapan Dava begitu menyelidik. Bahkan ia tidak menjawab satu pun pertanyaan Alana barusan.
Alana dengan wajah lesunya duduk di kursi setelah kecewa tidak mendapat sambutan hangat dari Dava.
"Aku merindukanmu...Lagi pula impianku sudah terwujud semua. Dan sekarang saatnya aku mengejar satu impianku." Dava mengernyitkan dahinya dalam.
"Bukankah melukis, memanah, renang, bintang model semua sudah kau dapatkan. Apa lagi yang ingin kau kejar?" tanya Dava dengan respon biasanya.
"Dev...mengapa kau begitu dingin seperti ini denganku? maafkan aku soal waktu itu. Please...kita kembali seperti dulu, okey?" Alana meraih dan menggenggam tangan Dava yang ia letakkan di atas meja.
Dava dan Alana menoleh saat suara tepukan tangan terdengar di sisi lain restoran itu.
Senyuman ganjil terlihat jelas di wajah pria itu kala memergoki dua orang yang tengah duduk di satu meja dengan tatapan mata yang saling terikat.
__ADS_1