Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 184. Sambutan Hangat Tuan Wilson


__ADS_3

Kedatangan Wuri di kediaman Wilson tampak mendapatkan sambutan hangat dari pria tua itu. Ia tahu siapa wanita di depannya ini. Istri dari pria yang sudah menghancurkan keluarganya. Tetapi sedikit pun tak ada rasa dendam dalam dirinya.


Senyuman yang bergemetar karena sulitnya menggerakkan semua tubuhnya dengan baik terus di tampilkan wajah Tuan Wilson.


Begitu pula dengan wanita yang baru saja di persilahkan duduk itu, ia pun membalas senyuman sang tuan rumah dengan kikuk.


"Ba-bagaimana ka-bar a-anda Wuri?" sapa Tuan Wilson berusaha keras berbicara.


"Ba-baik, Tuan." sahut Wuri setengah menundukkan kepala lalu kembali menatap pria itu lagi.


Ia sadar kesalahan apa yang sudah mereka perbuat selama ini.


"Di minum, Bu." Dina pun baru saja kembali setelah membuatkan minuman untuk sang ibu. Sekaligus ia menghindari tatapan sang ibu saat ia menangis tadi.


Wuri pun beralih menatap sang anak. Begitu sopannya Dina saat ini, sungguh hatinya begitu tersentuh melihat sikap anaknya yang sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Senyuman bahagia pun ia perlihatkan pada Dina.


"Terimakasih, Nak." sahutnya kembali.


Dina ikut duduk di samping ayah mertua. Suasana tampak canggung kala itu.


Sampai pada akhirnya Wuri memberanikan diri untuk bersuara. "Tuan, maafkan saya dan keluarga saya...kami telah begitu banyak melakukan kesalahan fatal pada kelarga anda." ia menunduk penuh rasa bersalah. Sungguh ia sangat malu mengingat semua yang telah terjadi di masa lalu.


Begitu gilanya mereka dengan harta sampai tidak punya urat malu lagi. Bahkan dengan bangganya mempertontonkan kekayaan hasil rampasan pada setiap orang yang berada di sekitarnya.

__ADS_1


"Se-semuanya sudah terjadi. Kami memaafkan kalian sejak lama..." tutur Tuan Wilson begitu baik.


"Bahkan jika kalian tidak puas dengan hukuman suami saya, saya rela ikut di hukum. Karena jujur saya sangat malu menyadari sikap kami saat itu, Tuan." sesal Wuri tanpa menatap wajah mereka.


"Sekalipun kami menghukum anda, semuanya tetap seperti ini. Semua waktu sudah terlewatkan dengan begitu jauh. Tak ada yang bisa kembali pada kami lagi. Biarlah semua menjadi pelajaran, Wuri. Saat ini kita sudah menjalin tali persaudaraan. Kita adalah besan, bagaimana mungkin saya menghukum mu?" Dina yang mendengar kebijakan sang ayah mertua hanya bisa menatap kagum pria di sampingnya.


Ini adalah sosok ayah yang patut di sebut ayah, sikap bijaksananya membuat Dina begitu sedih. Andai ia merasakan hangatnya sosok ayah dahulu seperti ini, mungkin dirinya tidak akan semenyedihkan saat ini.


"Sekarang lupakanlah. Mari kita hidup damai dan menjadi orangtua yang baik untuk anak-anak kita. Dan saya begitu bahagia mendapatkan anakmu sebagai menantu." senyuman di wajah Tuan Wilson terlihatĀ  begitu teduh.


Ia melirik Dina sekilas lalu menatap Wuri yang kini sudah berani menatapnya. Meski terlihat kedua matanya tampak berkaca-kaca karena terharu.


"Dina gadis yang begitu baik. Terimakasih telah memberikannya pada anakku, Berson." Seketika air mata Dina pun menetes.


Karena selama ia ada di dunia ini, yang ia tahu orang tak pernah menghargai kehadirannya bahkan hanya datang ketika ada perlunya saja.


Wuri semakin menahan air matanya, ia begitu sakit melihat senyuman tulus di wajah pria yang sudah ia buat sengsara hidupnya bertahun-tahun lamanya.


Perbincangan yang sedih itu pelan-pelan berakhir berkat usaha Tuan Wilson yang menciptakan suasana begitu hangat. Sesekali ia melontarkan pujiannya pada sang menantu hingga akhirnya terjalinlah kedekatan dirinya dengan sang besan.


Wuri pun tak jarang memperdengarkan tawanya kala mendengar cerita Tuan Wilson tentang sikap lucu seorang Sendi dimasa kecilnya.


"Yah, dulu Berson begitu bijaksana. Bahkan Jeff saja tidak bisa membantahnya. Setiap saat Jeff ingin bermain di malam hari, Berson selalu sigap membawakan tongkat untuk menakut-nakuti kakaknya." senyuman terlihat di wajah Tuan Wilson meski ia sedikit kesulitan untuk bercerita panjang lebar.

__ADS_1


Dina pun tampak begitu antusias mendengarkan kisah sang suami di masa kecil.


"Jeff selalu takut pada adiknya. Mereka terlihat bukan seperti adik kakak, tetapi lebih seperti anak dan ibu. Berson suka mengomel dan mengancam, sedangkan Jeff anak yang begitu patuh, sekali pun pada sang adik. Ia selalu menurut saja." tawa di wajah Tuan Wilson terlihat sangat penuh arti.


Ada gurat kerinduan tentang masa lalu yang ia ceritakan. Masa lalu yang terlewatkan tanpa ia bisa saksikan. Hanya ada beberapa memori yang bisa ia abadikan di dalam ingatannya.


Segala tingkah lucu anak-anaknya terus membuatnya tersenyum tiap kali mengingat bahkan menceritakannya.


"Bahkan dulu Berson pernah, ketika Tarisya, Bundamu." tatapan mata Tuan Wilson beralih pada sang menantu.


"Bundamu mencari kakakmu dan juga Berson. Seluruh rumah ini ia kelilingi, tetapi tak juga bisa menemukannya. Sampai Ayah pun di telepon untuk pulang membantunya mencari anak-anak itu. Ayah begitu khawatir hingga Ayah pun memutuskan untuk ijin dari perusahaan. Dulu Ayah masih karyawan di salah satu perusahaan rokok." Dina dan Wuri antusias mendengarkannya.


"Setibanya di rumah, Ayah membantu Bunda untuk mencari mereka. Eh kalian tahu mereka dimana? Ternyata Berson tertidur di kursi taman karena menunggu Jeff yang bermain di dalam tenda kecil mereka. Saat itu Ayah bangunkan Berson. Lalu dia berkata ia sedang menunggu Jeff bermain di dalam karena di luar sedang banyak nyamuk. Dia rela menunggu kakaknya untuk bermain di dalam tenda sementara Berson hanya duduk di luar tenda. Ia tidak mau jika sang kakak terkena banyak gigitan nyamuk lagi."


"Hahaha masa sampai seperti itu, Ayah? Mereka lucu sekali. Mengapa Berson sangat posesif dengan kakak?" Dina tertawa geli mendengar tingkah sang suami yang sangat dewasa saat itu.


Kemudian Tuan Wilson kembali menceritakan. "Dulu kakakmu itu sangat sering sakit. Tubuhnya pun lebih kecil dari suamimu. Berbeda dari sekarang, bahkan Ayah saja sempat tidak mengenali mereka berdua. Pertama Ayah melihat, Ayah kira Berson adalah Jeff dan begitu juga sebaliknya." tutur Tuan Wilson yang menganggap Berson adalah Jeff saat itu.


Seiring berjalannya waktu, tubuh Dava tetap menjadi tubuh yang lebih besar dari sang adik, meski dahulu Sendilah yang lebih besar darinya.


Ada gurat kesedihan di wajah Tuan Wilson mengingat tingkah lucu-lucu dan menggemaskan anaknya yang terlewatkan begitu saja tanpa bisa ia lihat hari demi hari perkembangan sang anak.


Wuri yang melihat perubahan mimik wajah pria di depannya merasa sedih. Ia pun sama seperti Tuan Wilson, begitu banyak waktu yang ia buang saat masa-masa perkembangan Dina karena keinginan Tuan Deni untuk membawa Dina jauh dari mereka dan menggantinya dengan sosok Sendi.

__ADS_1


__ADS_2