Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 36. Pengakuan Dava


__ADS_3

Sebelum lanjut ceritanya...author boleh yah kakak-kakak semua minta jejak kalian komen atau pun like nya. Biar bisa semangat buat lanjutin ceritanya, nggak sedih lihat like yang cuman kehitung jari saja.


Terimakasih sebelumnya!


Back to story


Di ruangan yang hening. Kini Dava tertunduk memijat keningnya sembari memejamkan mata. Hatinya kacau usai mendengar penjelasan sang dokter setelah memeriksa keadaan sang istri setibanya di rumah sakit tadi.


Harga dirinya sebagai suami serasa tertampar kala mendengar jika sang istri mengalami tekanan pikiran hingga kesehatannya berangsur-angsur melemah seperti saat ini.


Apa gunanya dirinya sebagai suami jika tidak bisa menghidupi istrinya dengan kehidupan yang layak? bukankah itu yang ia janjikan pada Ruth saat menikah kala itu.


Bahkan sekali pun Ruth mengeluh padanya tidak pernah. Sungguh wanita yang benar-benar menyentuh hatinya.


Hingga malam pun beranjak tanpa sadar menenangkan perlahan sosok Dava yang sudah terdengar mengatur napasnya dalam alam bawah sadar. Kepalanya ia letakkan di sisi tangan sang istri yang terletak sempurna dengan satu jarum infus menempel di sana.


Keheningan ruangan rawat bahkan lorong rumah sakit menandakan waktu sudah begitu larut. Hingga udara di seluruh ruangan rawat pun terasa begitu meresap ke pori-pori kulit seiring pendingin ruangan yang sangat mendukung.


Berjam-jam terlewatkan...kini netra indah kecoklatan itu terbuka perlahan. Sayup-sayup ia mengerjapkan kembali penglihatannya yang tampak berat.


"Dimana aku?" tanyanya lirih hingga tak mampu terdengar oleh sosok pria yang menikmati dinginnya malam itu.


Matanya berotasi mengikuti setiap benda yang ada di ruangan itu. Tv, ac, nakas yang terisi dengan buah, selimut yang ia gunakan, tangan yang tertempel dengan infus, serta wajah tampan yang terbaring di sisinya pelan-pelan menyadarkan Ruth.


"Dava?"  batinnya tidak percaya melihat wajah tampan yang sangat ia rindukan tiga malam ini.


Tangan kirinya bergerak memijat kening yang terasa pusing. Ia memejamkan sejenak matanya dan mengingat kejadian terakhir kali yang ia alami sampai akhirnya sang suami datang.


"Kak Berson..."


Ruth menggeleng meningat nama yang ia ucapkan barusan dengan lirih. Dirinya masih tidak mengerti ada apa sebenarnya dengan dirinya dan kakaknya? mengapa sampai sang kakak tidak mengenalnya? apa yang harus ia lakukan saat ini?


Ruth frustasi di buatnya. Ia mengumpulkan kekuatan untuk bangun dari tidurnya.

__ADS_1


Decitan ranjang pasien pun masih tidak membangunkan Dava kali ini. Jelas terlihat jika pria itu benar-benar sangat kelelahan.


Di sibakkan perlahan selimut itu lalu tangan Ruth bergerak menyelimuti punggung sang suami. Ia berjalan perlahan keluar ruang rawat dan menutup kembali pintu dengan sangat pelan.


Di sini. Ruth memeluk sendiri tubuhnya sembari menatap langit yang begitu teduh di pandang mata dengan kerlap kerlip bintang di langit.


Sungguh indah pantulan cahaya bintang-bintang itu di bola mata wanita cantik ini.


"Ayah, Bunda...apa yang terjadi dengan kalian sebenarnya? apa yang Ruth alami saat ini? Ayah...Bunda, tolong bantu Ruth kali ini. Apa yang terjadi dengan keluarga kita?" Buliran bening itu lolos kala menatap dua cahaya bintang yang saling berdekatan memilik cahaya paling terang. Dan dua bintang yang berjajar di belakang sedikit redup.


"Kak Berson...apa dia benar kakak Ruth, Ayah? Mengapa semua begitu sulit terungkap sampai saat ini? Siapa yang pergi sebenarnya? Mengapa sampai saat ini aku belum bisa mengikhlaskan kepergian kalian semua?" Isakan tangis itu membuat tubuhnya yang lemas terlihat bergetar menahan suara yang sangat ingin ia keluarkan.


Setidaknya sesedih apa pun seseorang, hal yang paling menyakitkan adalah tidak bisa mengeluarkan suara tangisan. Selama apa pun menangis semua masih terasa bertumpuk di dalam dada.


Di sudut lain, wanita tua renta yang melihat punggung seseorang yang sangat ia kenali bergetar sudah jelas ia sedang menangis. Langkahnya yang baru saja menuju musollah rumah sakit bergerak menuju wanita yang memunggunginya kala itu.


"Non Ruth," Mbok Nan yang berucap pelan saat melangkah dengan tergesa-gesa namun tiba-tiba berhenti.


Matanya berbinar melihat adegan yang sangat mengejutkan jantung tuanya itu.


Ruth sontak membulatkan matanya yang menghujani air di kedua pipinya kala tangan kekar itu melingkar sempurna di tubuhnya dari belakang.


"Dava?" ucapnya dalam hati menyadari aroma tubuh yang sangat membuatnya nyaman satiap saat itu. Bahkan hembusan napas sang suami pun terasa meniup-niup di pundaknya yang menjadi titik temu antar tubuhnya dan dagu pria tampan itu.


Entah sadar atau tidak Dava melakukan hal ini. Yang jelas ia sudah sangat mencemaskan sang istri yang ia pikir sudah pergi lagi darinya.


"Tolong, Ruth. Lakukan sesuatu atas izinku. Aku suamimu, kau istriku sekarang. Kalian adalah tanggung jawabku. Jangan buat aku seolah tidak ada posisi di kehidupanmu." tutur Dava dengan mengeratkan lebih pelukan itu.


Ia pun merasakan sangat nyaman memeluk tubuh istrinya yang perlahan-lahan menjadi ratu di hatinya.


Ruth masih terdiam. Ia menggigit bibir bawahnya kecil. Dadanya begitu berpacu dengan kuat hingga rasanya sangat sulit mengendalikan rasa gugupnya.


"Dava...apa yang sebenarnya menjadi pembicaraan utamamu? apa kau ingin aku tunduk dengan perjanjian itu saja? atau kau ingin menyadarkan jika aku tidak ada hak lagi untuk diriku sendiri sekalipun? atau...kau menginginkan hubungan yang baik di antara kita?" Ruth masih tak mengerti apa maksud dan tujuan sang suami padanya saat ini.

__ADS_1


Ucapan yang begitu ambigu, namun perilaku yang sangat hangat membuatnya begitu bimbang.


"Ruth, katakan padaku." Dava melepaskan pelukan itu di dinginnya malam dan bergerak berpindah posisi di depan sang istri.


Dua pasang mata saling berpandangan saat ini. Mata bulat dan tegas mencoba memasuki pandangan sendu di depannya.


"Apa yang kau alami saat ini...katakan semuanya padaku. Tanpa terlewatkan satu pun."


Ruth menunduk, matanya yang berlinangan sejak tadi tampak berkaca-kaca. Ia bingung  harus menceritakan apa kali ini? dirinya sendiri pun bingung apa yang terjadi padanya saat ini. Hatinya benar-benar rapuh, ia sangat lelah.


Dava kembali membawanya ke dalam dekapan tubuh tegap itu. Begitu pun dengan Ruth yang mendapatkan tempat yang sangat ia butuhkan, kedua tangannya langsung masuk ke dalam dekapan sang suami.


Kepalanya ia sandarkan pada dada bidang Dava. Sepersekian detik keluarlah suara, "Dava...aku tidak mengerti apa yang Tuan Iwan dan Tuan Deni lakukan pada keluargaku..." tangisnya kembali terisak.


Saat itu juga Dava mengernyit heran. "Ayah dan Tuan Deni? apa yang terjadi, Ruth? katakan ada apa?" tanyanya dengan wajah yang sudah murka.


Kali ini ia tidak akan membiarkan sang ayah sekali pun untuk bertindak atas istrinya.


"Perusahaan ayahku...ternyata di akuisisi oleh Tuan Deni." Ruth menangis dengan sakitnya yang terlihat jelas saat memejamkan matanya yang tak kuasa melanjutkan ucapannya.


Bahkan Dava yang terkejut mendengarnya pun tampak memerah matanya. Hatinya benar-benar panas melihat tangisan yang paling memilukan di wajah sang istrinya saat ini.


Cup!


Kecupan hangat akhirnya mendarat malam itu dengan sempurna. Tak perduli jika keadaan pernikahan mereka begitu ambigu. Yang jelas hatinya menginginkan memberikan ketenangan dengan cara seperti itu.


Sejak tadi pun pelukan yang sangat erat itu tak pernah lepas.


"Katakan, Ruth. Katakan istriku. Katakan semuanya denganku. Memang apa yang terjadi dengan perusahaan Ayahmu?" tanyanya.


Namun Ruth kali ini bukan terfokus dengan pertanyaan sang suami. Hatinya seakan berhenti berdetak mendengar kata 'istriku' terucap dengan tulus di bibir sang suami.


Hatinya begitu tenang mendengar pengakuan yang akhirnya mampu menjelaskan status mereka saat ini. Meski tak ada kata cinta terucap, cukup dengan pengakuan jika dirinya adalah istrinya itu sudah sangat jauh lebih berharga. Setidaknya pernikahan mereka bukanlah hanya berdasarkan perjanjian karena simpati saja.

__ADS_1


Tapi sayang seribu sayang, semua kemesraan dan kehangatan itu sirna kala terdengar suara yang mengacaukan suasana malam yang syadu itu.


"Bagus! Bagus! Kau mau mempengaruhi anakku rupanya? hah!" Suara teriakan memekakkan telinga itu terdengar mengejutkan seluruh pasein yang tengah terlelap dengan tenang malam itu.


__ADS_2