
Di salah satu ruangan rumah sakit, kini hanya keheningan yang tercipta. Dalam tatapan yang begitu penuh arti, Dava benar-benar jatuh ke dalam cinta yang sangat menyakitkan. Mampu memandang namun tak mampu memilikinya.
Kini ia sadar betapa lemahnya dirinya tanpa wanita yang ia temani saat ini. Sejak kepergian Sendi, sama sekali pria itu masih belum mengalihkan pandangannya dari wajah Ruth yang terlelap dengan tenang di ranjang pasien itu.
Di elusnya lembut perut buncit sang mantan. Ada getaran yang sangat kencang di dada kala meyakini jika dirinya saat ini sudah menjadi calon ayah untuk anak pertamanya.
"Kau terlalu menderita karena cintaku, Nak. Maafkan Ayah..." ucapnya menatap nanar perut buncit yang kini di elusnya perlahan.
Sekali, ia merasa ada sentuhan dari dalam perut milik mantan istrinya. Kening Dava mengerut menyadari sentuhan yang kedua kalinya lagi.
Lalu ia tersenyum hingga tak mampu menahan air mata yang jatuh. Anaknya telah menyapanya dengan gerakan tubuh. Sungguh, Dava bahkan sangat tidak pernah terpikirkan jika kandungan Ruth yang membesar akan memberikan banyak perubahan termasuk perkembangan sang anak yang mulai aktif bergerak di dalam.
__ADS_1
"Kau menyapa Ayah, Nak? Ini Ayah..." Dava terus berbicara dengan wajah sangat bahagia. Bahkan tanpa sadar ia sudah menempelkan kepalanya di perut buncit itu.
Tendangan bahkan tinjuan dari calon bayi yang terus berpindah tempat membuat Dava tanpa sadar mengikuti pergerakannya. Dimana perut yang menonjol saat itu juga ia menggeser kepalanya untuk mendengarkan dan merasakan aksi anaknya.
"Hehehe...ayo sini tinju pipi Ayah lagi." Dava terus mengajak anaknya berbicara meski hanya mendapatkan balasan dengan gerakan saja. Ia tak perduli, itu adalah hal yang paling membuatnya sangat bahagia.
"Hahahaha...kau lucu sekali Sayang. Kemarilah, Ayah ingin mengelus kepalamu." tuturnya mengelus perut buncit itu tepat di bagian bawah pusat Ruth.
Tanpa sadar, aksi Dava yang begitu agresif membuat sang pemilik perut buncit itu sadar dari tidur lelapnya. Ruth mengernyitkan keningnya dan perlahan ia membuka matanya.
"Inilah yang ku tunggu, Dav. Momen bahagia seperti inilah yang sangat ku nantikan selama hamil. Kau bahagia bukan? Begitu juga aku, Dav. Aku sangat bahagia dengan momen kita bertiga seperti ini." batin Ruth yang masih tersenyum penuh haru menikmati suara sang pria yang berbicara penuh cinta pada calon bayi mereka.
__ADS_1
"Dav," panggilnya lirih dan saat itu juga Dava sangat terkejut mendengar suara wanita yang ia pikir akan terlelap dengan waktu cukup lama.
"Ruth, kau...kau sudah bangun? Maafkan aku." ucapnya sungguh tidak enak hati menyadari aksinya yang mengganggu tidur Ruth.
"Tidak. Tidak apa-apa. Kau berhak melakukan itu. Dia anakmu juga." Ruth tersenyum lembut.
Ia menatap wajah Dava dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.
"Maafkan aku," ucap Dava segera mendekap Ruth dengan erat. Ia sadar selama permasalahan mereka berdua, ia telah melupakan banyak momen yang seharusnya ia lewati bersama calon buah hatinya.
Ruth masih tidak bergeming kala mendapatkan serangan pelukan dari Dava. Ia begitu kaget melihat Dava yang tiba-tiba saja memeluknya tanpa kata.
__ADS_1
"Dav, apa yang kau lakukan?" tanyanya lirih.
"Biarkan seperti ini dulu, Ruth. Aku ingin memelukmu sebentar saja." ucapnya dengan mengeratkan kembali pelukannya.