Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 33. Terungkapnya Shandy Chyntia


__ADS_3

"Biarkan kali ini aku menyelesaikan masalah pribadiku sendiri. Tolong kalian pahami itu. Tunggulah di luar." Ruth menatap kelima pria yang baru saja berusaha mencegahnya untuk tidak memasuki kediaman megah itu.


Mereka pun tertunduk dan membisu.


"Tuan Deni!"


"Tuan Deni! Dimana kamu?"


Semua pekerja dengan seragam mereka masing-masing tampak berlarian mendekat arah sumber suara. Di ambang pintu, kini terlihat wanita dengan tampilan sangat menyedihkan tak berdaya berdiri tegap.


"Maaf Nona...anda-"


"Dimana Tuan besar kalian?" tanya Ruth menatap geram.


Satu orang pun kali ini tidak ada yang bisa mencegahnya untuk menemui pria yang benar-benar ingin ia cabik-cabik.


"Ada apa kau mencariku? Hah!" Suara bariton terdengar dari arah halaman luar.


Ruth membalikkan tubuhnya dan menoleh. "Kau!"


Ia berjalan cepat hendak menyerang tubuh pria di hadapannya, namun sayang. Kecepatannya masih kalah di bandingkan dengan ketangkasan tangan seorang Deni Salim Perdana.


"Beraninya kau menyentuhku?" ucap pria itu menggenggam erat pergelangan tangan Ruth.


Ruth menahan emosi di wajahnya. Tangannya masih terus di cengkeram oleh pria di depannya itu.


"Apa yang kau lakukan pada kami? Baj*ngan!"


Mendengar pertanyaan sekaligus makina wanita di depannya, Deni hanya terkekeh kecut.


"Cih, kami? siapa yang kau maksud, Ruth?"


Keduanya masih saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Kedua tangan sebelah kanan mereka pun masih tertahan di udara.


"Kakakku...kau mengambilnya dariku. Sendi! Keluarlah!" Ruth berteriak begitu nyaring di dalam rumah itu.


Semua pria yang berjaga di ambang pintu tetap waspada. Takut-taku jika Tuan Deni akan melukai Nona mudanya.


Namun, sampai sejauh ini semua masih terlihat baik-baik saja.


"Sendi!"


Sekali lagi Ruth berteriak memanggil sang kakak.


Brakk!!


Deni mendorong begitu kasar tubuh Ruth ke lantai.


"Awh..." Sekujur tubuh yang lemah itu terasa begitu sakit kala terbentur di lantai marmer mewah rumah Deni.

__ADS_1


"Kau pikir kau siapa?" Deni berjongkok menatap penuh amarah pada wanita yang baru saja di hempaskan ke lantai itu.


"Dia Kakaku! Kau pembunuh! Kau orang yang sudah merencanakan ini semua kan?" Ruth berteriak hingga tetesan air matanya pun ikut jatuh.


Rasanya sungguh sakit ketika ingin melampiaskan kemarahan, namun kekuatannya sendiri pun begitu lemah.


Wajah yang pucat baru keluar dari rumah sakit, kini terlihat membiru. Bahkan seluruh tubuhnya terasa begitu dingin kali ini.


Di sini, Sendi yang tengah bermalas-malasan di dalam kamarnya mendengar suara ribut-ribut lalu memutuskan untuk keluar kamar.


"Seperti ada yang memanggilku." ucapnya mengernyitkan dahinya.


Ceklek.


Pintu terbuka. Manik matanya menelusuri sekitar dan berjalan mendekat ke arah tangga.


Deg!


Matanya membulat kala melihat punggung wanita yang jelas ia sangat hapal siapa pemiliki tubuh itu.


"Ruth!"


Sendi berlari secepat yang ia bisa untuk menuruni anak tangga. Di bawah sana, Ruth tengah beradu mulut dengan sang Ayah.


"Ruth! Ayah!" teriaknya sembari meraih kedua bahu wanita yang tengah tersungkur di lantai itu.


"Sendi! Apa yang kau lakukan?" teriak Deni dengan bola matanya yang membulat penuh.


Sendi benar-benar kaget melihat tingkah kasar sang Ayah padanya dan juga pada Ruth.


"Apa yang Ayah lakukan?" Sendi menghempaskan tangan sang Ayah lalu membantu Ruth kembali.


Perdebatan antar anak dan ayah itu membuat Sendi tak menyadari tatapan sang mantan kekasih padanya yang sudah begitu pilu.


Ruth tak perduli dengan perilaku hangat Sendi yang memapahnya untuk segera bangun dari lantai. Netra cokelat miliknya menatap dalam wajah yang begitu dekat dengannya saat ini.


Keduanya sudah berhadapan, sementara Tuan Deni tampak mengatur napasnya yang memburu.


"Kakak..." lirih Ruth meneteskan air matanya tanpa bisa ia kurangi derasnya aliran kristal bening itu.


Bagaimana dirinya tidak kacau saat ini? jaraknya begitu sangat dekat dengan pria yang tak di sangka-sangka masih hidup justru selama ini menjadi kekasihnya. Sungguh ia sangat menginginkan pelukan hangat itu di rasakan saat ini juga.


Tetapi Sendi yang begitu geram pada sang ayah tak mendengar apa yang Ruth panggil padanya barusan.


"Ruth, are you okay?"  tanya Sendi sembari menangkup wajah lemas Ruth dengan kedua tangannya.


Keduanya saling menatap. Netra milik Sendi bergerak ke kanan dan kekiri memastikan wanitanya saat ini baik-baik saja. Namun kedua alis tebalnya seketika mengkerut kala menyaksikan derasnya air mata yang berjatuhan.


 

__ADS_1


Ruth terisak. Kedua bahunya yang di genggam sang kakak bergetar mengikuti suara isakan yang tak lagi bisa ia tahan.


"Kakak," Sendi begitu kaget mendapatkan pelukan hangat itu.


Ruth memeluknya dengan sangat erat sembari menangis tersedu-sedu. Tak perduli akan komentar Sendi maupun Tuan Deni padanya. Kali ini ia hanya ingin menangis di pelukan kakak satu-satunya harapan ia berlindung.


"Kak, kamu kakakku. Kak, ini aku adikmu. Mengapa selama ini kamu bahkan tidak memberitahuku? apa ini rencana kalian? Kak, aku sakit kak melihatmu jahat padaku."


Isakan demi isakan membuat Sendi terdiam membisu. Ia sungguh tidak mengerti harus berucap apa kali ini. Hatinya begitu berbunga-bunga di peluk seorang wanita yang sangat ia rindukan. Tapi wajahnya sangat bingung dengan ucapan yang terlontar dari bibir sang mantan.


Kakak? siapa yang Ruth panggil kakak? dirinya? apa itu artinya mereka akan kembali merajut cinta dan memberikan panggilan sayang seperti itu padanya?


Sendi mendorong pelan kedua tangan Ruth yang melingkar di pinggangnya. Ia menatap kedua mata cokelat yang tampak berkilau karena air mata.


"Apa yang terjadi, Ruth? ada apa ini? Apa kau menerimaku lagi?" Wajah Sendi sedikit tersenyum saat melihat kesedihan yang mendalam di paras ayu tersebut.


"Kak, Kak Berson. Aku adikmu, Kak. Aku Shandy Cyntia. Mengapa selama ini Kakak diam saja?" Ruth berucap sembari menggelengkan kepala seolah tak percaya.


"Hehehe..." Sendi terkekeh.


"Ruth, siapa Berson? Siapa Shandy Chyntia? drama apa ini, Ruth?"


Ruth pun ikut menggelengkan kepalanya. "Tidak, Kak. Kamu bercanda kan?"


Wajah Ruth yang begitu sedih semakin bingung. Ada apa ini? apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Sendi bahkan menertawakan nama-nama yang ia sebutkan.


"Cih," Suara Tuan Deni terdengar berdecih dan tersenyum ganjil. Lalu pria itu melangkah mendekat ke arah keduanya. Tangannya dengan kasar melempar tangan Ruth agar terlepas dari genggaman Sendi.


"Berhenti berdrama. Pergi dari sini. Kau wanita sangat memalukan. Pergi dari sini!"


Teriakan Tuan Deni benar-benar membuat tubuh Ruth ikut bergetar.


Di ruangan luas rumah itu semua wajah hanya mampu menunduk. Tentu mereka semua sadar jika mereka hanyalah orang luar yang tidak berhak ikut campur urusan keluarga siapa pun. Begitu pula dengan para penjaga Ruth. Mereka hanya berdiri memastikan tidak ada kekerasan di dalam sana.


"Kak Berson, aku adikmu. Kita adik kakak, Kak. Tolong aku, kak. Jangan menyiksaku seperti ini..." Ruth kembali bersuara tanpa takut pada siapa pun.


"Ruth, apa-apaan ini? Siapa Berson? aku Sendi. Sendi Sandoyo. Mantan kekasihmu, kita akan segera menikah, Ruth. Sekali pun dia tidak merestui hubungan kita. Aku sudah berjanji padamu bukan?" tutur Sendi panjang lebar.


"Pergi dari sini!!!" Sekali lagi, Deni berteriak dengan wajah yang sudah memerah menahan amarahnya.


Ia terlihat tidak hanya marah, tapi ada ekspresi lain di kedua bola mata itu yang begitu sulit di artikan.


"Ruth, aku akan mengantarkanmu." ucap Sendi yang hendak melangkah namun terhenti kala tangannya di cengkeram begitu erat oleh sang Ayah.


Plakk!


Tatapan bengis kini akhirnya muncul juga setelah melampiaskan amarahnya pada sang anak.


Sedangkan di sini. Dalam ruangan besukan wajah tampan yang sejak tadi tampak layu terlihat begitu marah.

__ADS_1


"Bagaimana bisa sampai kecelakaan?" Ia berteriak seraya menggebrak meja yang menjadi pembatas di antara dua kursi itu.


__ADS_2