Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 150. Merasakan Apa Yang Sebelumnya Sendi Rasakan Juga


__ADS_3

Tanpa terasa kini waktu sudah beranjak sore, awan-awan yang cerah dengan teriknya matahari kini terlihat mulai sejuk seiring terpaan angin yang berhembus lembut menyentuh setiap dasar kulit tubuh.


Dinginnya tiupan angin seakan tahu jika kini keadaan seorang wanita cantik yang menangis di sudut taman rumah sakit tengah begitu panas hatinya.


Kesedihan maupun kebahagiaan silih berganti menjadi kabar setiap pasien di rumah sakit itu. Ada yang mendapatkan kabar bahagia atas kesembuhan, ada pula yang mendapat kabar sedih atas kepergian keluarga.


Semua jelas dengan penyakit masing-masing yang di derita. Namun berbeda dengan rasa sakit yang di alami Ruth saat ini.


Sakit yang tak bisa di lihat dengan hasil pemeriksaan. Sakit yang tidak bisa di resepkan obatnya dari dokter di rumah sakit.


Begitu perih rasanya menusuk kalbu, ia bahkan tak tau harus melakukan apa saat ini dan kedepannya. Hanya tangisan yang bisa terus ia keluarkan.


Apakah rela untuk kehilangan pria yang sangat ia cintai untuk yang kedua kalinya...


"Mengapa kau mengujiku dengan hal yang sangat sulit jalannya, Tuhan? Mengapa?" Suara lirihnya kini hanya memperlihatkan kedua punggungnya bergetar dari balik punggung.


Ia tampak duduk menyendiri di sudut taman rumah sakit. Tak perduli bagaimana orang-orang di sekeliling memandangnya.


"Kasihan sekali kamu, Ruth...apa yang harus ku lakukan saat ini untuk membuatmu bisa tenang?" Kini Sendi tampak berdiri di luar taman rumah sakit.

__ADS_1


Pandangan matanya jelas tertuju pada satu titik, yaitu punggung wanita yang tengah rapu saat ini.


Untuk yang kedua kalinya, Ruth menangis karena patah hati. Dan Sendi jelas mengerti bagaimana rasa sakit itu. Bahkan ia lebih dulu merasakan sakit seperti ini sebelum Dava dan Ruth yang merasakan.


"Andai ini adalah sebuah keberuntungan untuk cintaku, mungkin dengan senang hati aku melihatmu menangis kali ini. Dan...kita akan memulai hubungan kita dari awal lagi. Tapi...sayang, itu semua tidak akan pernah terjadi. Aku dan Dava sama-sama kakakmu saat ini. Tidak ada satu pun dari kami yang bisa mencintaimu selamanya, Ruth."


Dengan langkah gontai dan pandangan terus tertuju pada wanita yang memunggunginya, Sendi perlahan mendekat dan semakin mempersempit jarak di antara mereka.


Di genggamnya erat bahu yang bergetar kala itu. Seketika, Ruth menghentikan tangisan yang lirih itu. Ia menoleh ke pundaknya dan menengadah melihat sosok siapakah yang baru saja datang menghampirinya.


Sendi, pria itu adalah Sendi. Bukan Dava seperti yang ia harapkan.


"Kak," sapanya dengan mata yang sudah menyipit karena sembab.


Dan di situlah Ruth kembali menangis hingga ia tak bisa lagi menahan sesenggukan di mulutnya.


"Mengapa ini semua terjadi padaku, Kak? Mengapa cobaan begitu jahat padaku?" Sungguh mendengar pertanyaan yang di tujukan padanya, Sendi bahkan tak kuasa untuk menahan air matanya.


Ia memejamkan mata dengan paksa. Bukankah ini juga telah terjadi padanya selama ini? Dan begitulah pertanyaan yang selalu Sendi tanyakan pada sang kuasa.

__ADS_1


Mengapa? Mengapa Tuhan memberikan cobaan yang sama sekali tidak ada jalan keluar untuk hati mereka bisa bersatu?


"Andai aku tahu jawabannya, Ruth. Mungkin aku tidak akan terjebak dengan cinta itu sampai detik ini. Andai aku tahu alasannya mungkin aku tidak akan menjadi serapu seperti saat ini." Ia hanya menjawabnya dalam hati karena tak mungkin jika ia memberitahukan pada sang adik tentang perasaannya yang masih utuh untuknya.


"Kak, katakan padaku..."


"Mengapa sejahat ini takdir mempermainkan hatiku? Aku sangat mencintai Dava, Kak. Tolong..." Ia melepaskan pelukan dari tubuh Sendi dan menatap penuh makna.


"Ruth, tenangkan dirimu. Semua memang sudah jalannya seperti ini. Mungkin Tuhan memberikan kita pilihan...apakah kita mau terus saling bahagia dengan cinta yang kita miliki tetapi dengan satu pengecualian. Kita tidak akan bertemu dengan orangtua kita dan selamanya kita menjalin hubungan terlarang...Atau, kita mau semua terbuka meski sangat sakit, dan kita akan menemukan orangtua kita dan hidup utuh berkeluarga." Kata-kata yang di ucapkan Sendi seakan membuat Ruth berpikir sejenak.


Ia tentu sangat menginginkan kehadiran kedua orangtuanya dan kedua kakaknya, tetapi...haruskah dengan mengorbankan keluarga kecilnya yang begitu membuatnya bahagia? Semua memang sangat sulit untuk di pilih. Keluarga di masa lalu dan keluarga di masa depan semua sangat berperan penting untuknya.


Ruth menggelengkan kepalanya cepat. Ia tentu saja menolak dua pilihan itu. "Tidak, Kak. Sampai kapan pun aku tidak akan bisa memilihnya."


"Seperti itulah perasaanku dulu. Bahkan kalau boleh aku meminta lebih baik Ayah memanfaatkan ku lebih kejam lagi asal aku tidak tahu dengan hubungan sedarah kita. Aku lebih bahagia menderita namun tetap bisa bersama wanita yang ku cintai. Dari pada hidupku baik-baik saja tetapi aku akan sakit setiap saat melihat wanita yang ku cintai bersama pria lain."


Tatapan Sendi begitu perih kala mengingat bagaimana perjuangannya untuk merebut hati Ruth kembali padanya.


Tanpa keduanya sadari, dari sudut lain tampak sepasang mata yang menatap ke arah mereka berdua dengan pandangan tak percaya.

__ADS_1


Air matanya bercucuran dengan deras saat melihat tangan Sendi terus mengusap kepala Ruth di kursi taman rumah sakit itu.


"Inikah yang kau katakan dengan memulai semuanya dari awal? Apakah semua yang kita perjuangkan hanya menjadi percobaanmu saja? Aku benar-benar tidak menyangka dengan perilakumu saat ini? Betapa bodohnya aku bisa begitu mudah mempercayaimu, Sendi..."


__ADS_2