
Di sini di ruangan rawat, Dava sudah bisa duduk menemani sang istri yang terlihat sangat lemas. Tangannya sudah terhiasi dengan jarum infus yang menempel sempurna.
Matanya sedari tadi tak lepas menatap wajah cantik sang istri yang juga menatapnya dengan penuh permohonan.
'Dav...aku mohon kita pulang." tuturnya memegang jemari sang suami yang berada di di tangan sebelahnya.
Dava terdengar menghela napas kasar. "Huh."
"Sayang...kita harus tetap di sini beberapa hari. Tubuhmu sangat lemas, jika kita memaksa, bukan hanya anak kita saja yang menderita di dalam. Tetapi kau juga akan semakin drop. Itu sangat berbahaya. Dengarkan aku. Okey?" Ruth akhirnya terdiam.
Tidak ada gunanya ia membantah sang suami saat ini. Ia juga sangat ingin memiliki anak dari kandungannya sendiri.
"Ayo istirahatlah. Aku harus mengurus adiministrasi terlebih dahulu." Satu kecupan mendarat di kening Ruth saat itu juga.
Dava mencium lalu mengusap kening itu dengan penuh perhatiannya.
"Cepatlah kembali." pintah Ruth saat pria itu sudah ingin berbalik meninggalkannya.
"Iya." sahut Dava.
Pintu tertutup dengan rapat.
Di luar ruangan rawat, Dava terlihat sibuk menyalakan ponselnya yang sudah beberapa hari ia matikan. Hanya ponsel pribadi saja yang memang selalu aktif untuk mengurus keperluan lainnya. Seperti pemesanan tiket online dan lain-lain.
Tring Tring Tring Tring
__ADS_1
Dering pesan begitu bergantian masuk kala layar ponselnya baru saja selesai menyala.
"Tuan Dava, dimana?"
"Dav,"
"Dav, ini sangat gawat. Cepat kembali."
"Astaga, sumpah demi apa pun. Bulan madumu sangat tidak lucu, Dav."
"Dava, aku menunggumu. Segera datang temui aku dan jangan menunda-nunda lagi."
Di sini Dava mengerutkan keningnya usai membaca rentetan pesan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya.
"Rafael..." batinnya lirih.
Sambungan telepon terhubung.
"Halo..." sapa Dava.
"Dav, dimana sekarang? Kau harus kesini sekarang juga..."
"Apa?" Dava berteriak tanpa sadar saat mendengar penjelasan dari polisi di seberang telepon sana. Matanya sudah membulat sempurna karena syok.
Tangannya yang selalu menggenggam apa pun dengan erat dan koko berubah menjadi bergetar sangat hebat. Matanya sampai memerah pedas menahan tangisan yang siap pecah saat itu juga.
__ADS_1
"Baik, aku segera kesana." Dava mematikan telepon dan ingin berlari dari rumah sakit itu sekarang juga.
"Ruth," Namun di detik berikutnya langkah kaki jenjang itu terhenti saat mengingat sosok wanita yang ia dampingi saat ini.
Bagaimana mungkin ia akan kembali, sementara di sini Ruth sedang lemah tak berdaya akibat mengandung anaknya.
Dava benar-benar dilema, ia terduduk lemas di kursi salah satu ruangan rawat yang tak jauh dari tempat sang istri di rawat.
Ia memejamkan matanya dan memijat keningnya keras. Tetesan air mata sudah berhasil membasahi kedua pipi keringnya saat ini.
Akankah semua mimpi indah ini akan hancur seketika?
Di saat seperti ini, ternyata seorang musuh bisa juga menjadi seorang malaikat.
"Halo, Sendi." Dava menelpon kakak ipar yang tidak pernah mau ia anggap keberadaannya.
"Hem, ada apa?" sahut Sendi dengan ketus.
Tentu saja ia sangat kesal mendengar jika Ruth dan Dava pergi berbulan madu tanpa sepengetahuan darinya.
Dava memintanya sesuatu, tentu saja Sendi tercengang kaget saat mendengarnya.
"Hah? Kau bercanda, Dava?" ucap Sendi tidak menyangka.
"Aku tidak bercanda. Tolong untuk saat ini jaga istriku, adikmu. Aku sedang ada urusan penting kali ini." mohon Dava pada Sendi yang masih tercengang karena syok mendengarnya.
__ADS_1
"O-oke. Baiklah. Aku segera kesana." Sendi pun yang sangat mengkhawatirkan Ruth, akhirnya memilih untuk menyanggupi perintah sang adik ipar yang sangat tidak sudi untuk ia akui sampai detik ini.
Sambungan telepon terputus.