
Di saat kedua tubuh saling menyatu, tiba-tiba saja Dava terkejut.
"Lepas, Dav." Ruth mendorong dengan kasar tubuh pria yang sangat ia cintai itu.
Ia menatap wajah wanita yang sudah memperlihatkan mata cokelatnya. "Kau akan sangat menyakitiku jika terus seperti ini, Dav." ucap Ruth meneteskan air matanya dan menggelengkan kepala pelan.
Ia tidak ingin jika selamanya akan terus menderita dengan cinta yang memenjarakan hatinya. Dava terdiam sembari terus mendengarkan kata demi kata yang terlontar dari bibir pucat wanita itu.
"Aku lelah, Dav. Aku sangat lelah jika harus membiarkan cinta ini tumbuh. Aku sangat lelah, Dav." Ruth menangis hingga tubuhnya terlihat jelas tengah bergetar menahan suara tangisannya.
Dava pun ikut menangis melihat ekspresi Ruth, ia sungguh tidak kuat melihat kehancuran wanita yang begitu ia cintai.
"Aku yang salah. Aku yang salah datang di kehidupanmu, Ruth. Aku benar-benar mengakui kesalahan itu. Tetapi aku mohon, biarkan kali ini aku akan memperbaiki semuanya. Biarkan aku yang akan memperbaiki kesalahanku." Dengan ucapan tulus, Dava berusaha kembali mendekati Ruth yang menangis bahkan menutup wajahnya dengan bantal.
"Hei...ku mohon jangan menangis lagi. Aku mohon, Ruth." Di peluknya sangat erat tubuh wanita yang mengandung benihnya itu.
"Aku lelah, Dav..." tutur Ruth dengan suara lemahnya.
__ADS_1
Namun Dava yakin, sesulit apa pun masalah tentu akan ada jalannya. Ia menggelengkan kepalanya setelah menangkup wajah Ruth dengan kedua tangannya.
"Ini semua akan segera berakhir. Tatap mataku, Ruth. Aku begitu mencintaimu, apa pun halangannya aku tidak akan membiarkannya begitu saja. Kita tetap bisa melewatinya untuk tetap bersama." Ruth menatap dalam netra hitam yang juga menatapnya saat ini.
Ia percaya, Dava bukanlah pria yang berucap asal tanpa berpikir dan ada kepastian. Dibalik setiap ucapannya pasti akan ada proses yang sudah ia jalankan.
"Apa arit ini semua, Dav?" tanyanya mulai penasaran.
Dava tersenyum dan memejamkan matanya
"Aku tidak berjanji untuk selalu membahagiakanmu, Ruth. Tapi aku akan berusaha selagi aku mampu untuk tetap memberikan kebahagiaan padamu." kata-kata Dava sungguh terdengar serius.
Pelukan hangat yang ia berikan bahkan tak lepas hingga keduanya benar-benar larut dalam pikiran mereka masing-masing.
Suasana kamar rawat yang semakin terasa dingin membuat Ruth tak bisa menahan matanya untuk tetap terbuka. Ia begitu tenang dalam dekapan Dava, hingga sayup-sayup mata itu pun kembali tertutup.
Aroma khas tubuh Dava seakan menjadi aroma therapy untuk wanita hamil itu. Ia terpejam larut ke alam mimpi, namun tidak dengan Dava. Pria itu masih setia mengeratkan pelukannya jelas ia takut jika Ruth akan melepaskan pelukan itu.
__ADS_1
Perlahan-lahan Dava menaikkan kedua kakinya dan seluruh tubuhnya pun berhasil terbaring sempurna di samping Ruth. Ranjang pasien yang berukuran sangat kecil membuat mereka sangat menempel.
Setelah memastikan jika Ruth benar-benar terlelap, barulah Dava memperbaiki posisi tidurnya. Ia memeluk tubuh Ruth dari arah samping tempat ia berbaring dan menelusupkan wajahnya ada leher putih itu.
Sedangkan di kediaman Nicolas tampak Sendi yang baru saja sampai di rumah.
Ia segera di sambut oleh semuanya yang ada di rumah.
"Kalian belum tidur ternyata?" sahut Sendi yang berjalan semakin dekat ke arah keluarganya.
Semua mata menatapnya dengan ekspresi berbeda-beda.
Namun Dina yang memilih untuk memalingkan pandangannya segera memfokuskan diri pada ponsel miliknya. Ia bahkan menahan segala rasa sakit di hatinya, lagi-lagi suaminya menghabiskan waktu untuk menjaga Ruth. Wanita yang jelas bukanlah saudara kandungnya.
"Bagaimana Shandy, Berson?" tanya Tarisya yang mewakili perasaan sang suami saat itu juga.
Tuan Wilson terlihat menganggukkan kepalanya. "Dia sudah membaik, Bunda. Jeff ada di sana menemaninya." jawab Sendi dengan wajah tak berdaya.
__ADS_1
Ia sadar dirinya sangat dan sangat masih mencintai Ruth, namun sekuat mungkin perasaan itu harus ia lawan. Apalagi Dina saat ini sudah berada bersamanya dan keluarganya.
"Jadi karena ada Dava di sana, makanya dia pulang? Astaga, ku pikir dia kembali memang karena mengingat aku ada di sini. Dan ternyata semuanya salah. Aku benar-benar tidak ada artinya untukmu, Sendi. Dina...harus berapa kali kau terluka untuk bisa sadar akan posisimu di hatinya?" batin Dina yang ingin sekali marah pada dirinya sendiri saat ini.