
Setelah menceritakan semuanya tanpa terlewatkan, kini barulah sosok Tarisya menghentikan sesak di dalam dadanya. Dava sudah memilih jalan hidupnya saat ini untuk tetap mempertahankan keluarganya.
"Apa keputusanmu murni, Jeff? muallaf itu bukan semata-mata karena soal hati. Tetapi murni karena sentuhan niat baik untuk mempelajari segala jalan menuju surganya." Tentu saja pertanyaan sang bunda langsung mendapatkan anggukan mantap dari sosok anak yang paling tua.
"Jeff yakin Bunda. Sangat yakin." ucapnya dengan menatap kedua bola mata sang bunda.
"Ayah mendukung keputusanmu, Jeff. Lanjutkanlah, dan untuk saat ini Ayah akan ikut membantumu." tutur Tuan Wilson menatap haru sang anak.
Dava sangat senang melihat respon kedua orangtuanya yang turut memberikannya semangat untuk melangkah ke jalan yang benar.
"Ayah, terimakasih." mata hitam milik Dava menatap hangat sang ayah lalu mendekat dan melihat sambutan dari sang ayah yang merentangkan kedua tangannya untuk memeluk tubuh sang anak.
Kedua pria berbeda generasi itu saling berpelukan. Tarisya yang menatap dua pria di depannya hanya bisa mengembangkan senyumannya bahagia. Kini ketiga prianya sudah berkumpul kembali, di tambah dengan kesehatan sang suami yang sudah semakin membaik.
"Terimakasih Tuhan...kau sudah melengkapkan kembali para priaku." Tatapan mata wanita itu mengembun karena rasa haru yang menyelimutinya.
Kini keadaan sudah membaik, kepergian Dava yang tiba-tiba nyatanya karena ada alasan tertentu yang memang membuat dua orangtuanya tak menyangka.
Berbeda halnya dengan keadaan sepasang suami istri yang kini tengah terbakar emosi sesaat.
__ADS_1
"Dina!" teriak sosok pria yang tak lain adalah Sendi.
Ia berhasil mengejar sang istri, namun sayang tak sempat mencegah sang istri yang sudah melaju dengan ojek.
"Ah, sial!" umpat Sendi begitu kesal.
Matanya pun menatap ke segala arah dan ia memutuskan untuk menghentikan salah satu mobil taksi.
"Taksi!!"
Secepat mungkin ia memasuki taksi tersebut dan meminta sang supir untuk mengejar sang istri yang entah pergi kemana.
Ruth tampak sangat menyayangi putranya yang masih memerah. Tak sedikit pun ia biarkan Rava bergerak dalam tidurnya. Ia terus mengayun bayi mungil itu di dalam dekapannya.
Tak berselang lama, Dava, Tarisya dan sang ayah pun masuk ke dalam ruang rawatnya. Ruth yakin jika Dava sudah menceritakan semuanya pada sang bunda dan ayah.
Jelas terlihat tatapan tenang di kedua pasangan suami istri itu.
"Shandy, besok kau sudah boleh pulang. Hari ini Bunda membawa ayah untuk beristirahat di rumah tidak apa?" tanyanya dengan lembut.
__ADS_1
Bagaimana pun, Tarisya tidak ingin membuat hati sang anak perempuan sedih karena di tinggal dengan penuh kesalahpahaman nantinya.
Senyuman hangat di wajah Ruth pun terlukis dengan sempurna. "Iya, Bunda. Tidak apa. Lagi pula Ayah masih sangat butuh suasana tenang saat ini dan sehat. Di sini tidak baik untuk Ayah dan Bunda. Shandy tidak apa jika di sini bersama dengan Rava saja." jawabnya dengan penuh pengertian.
Meski ia tahu jika Dava tidak akan mungkin mau meninggalkannya sendiri di rumah sakit saat ini. Tapi, ia tidak ingin besar kepala menganggap Dava akan siap siaga untuknya di rumah sakit.
"Aku akan menjaga kalian. Bukan hanya kalian berdua di sini." Ralat Dava menyadari akan sindiran halus dari sang mantan istri dan itu tentu membuat Tuan Wilson dan Tarisya tersenyum geli.
"Iya, Nak. Jeff akan bersamamu di sini. Maka dari itu Bunda dan Ayah akan sangat lega meninggalkan kalian karena ada Jeff." sambung Tarisya lagi.
"Em..." Mata Tarisya menatap ke segala sudut ruangan itu seakan tidak menemukan hal yang ia cari.
"Berson dan Dina..." ucapnya menggantung dan Ruth segera menjawab dengan cepat.
"Mereka sedang ada urusan di luar, Bunda. Mungkin nanti langsung pulang ke rumah. Mereka juga sangat lelah pastinya. Bunda segeralah bawa Ayah pulang untuk istirahat. Aku baik-baik saja di sini." sahut Ruth lagi.
Namun, mata cokelatnya tertuju pada Dava saat ini. "Kak, kau juga bisa pulang. Aku aman di sini..." tuturnya dengan penuh pengertian.
"Tidak. Aku akan pulang bersamamu besok. Ayah dan Bunda tunggulah kami kembali di rumah besok." sahut Dava kemudian meminta kedua orangtuanya untuk tidak kembali ke rumah sakit esok hari.
__ADS_1