
Jika biasanya hari-hari akan selalu menjadi waktu paling menyibukkan, tidak kali ini. Sebagai istri yang patuh Ruth terpaksa harus masuk kembali ke dalam rumahnya setelah sampai dari kantor polisi. Rasanya sungguh membosankan, wanita karier yang terkadang berangkat sebelum terbitnya mentari dan pulang setelah terbitnya rembulan malam.
"Bertahanlah, Ruth. Ini semua demi menghargai suamimu. Dia sedang berjuang di luar sana untuk kalian." lirihnya seraya menatap halaman rumah miliknya yang sama sekali tidak terawat.
Meski pun ada Mbok Nan, namun jika untuk merawat tanaman ia kurang berpengalaman. Karena memang tugasnya hanya seputar dalam rumah saja. Jika mungkin ia merawat halaman rumah hanya sebatas membersih-bersih saja tentunya.
"Huuuuh." Helaan napas Ruth di iringi senyuman penuh rencana.
Dirinya melanjutkan menutup mobil dan melangkah hendak memasuki rumah.
Namun terhenti saat itu juga kala terdengar suara, "Ruth,"
Ia menoleh, "Tuan Iwan,"
Wajah Ruth yang tenang seketika berubah menjadi syok. Perlahan-lahan wanita itu bergerak melangkah menjauh dari pria yang melangkah dengan tatapan tajam ke arahnya.
"Tidak, jangan berani mendekat!" Ruth berucap setengah berteriak.
Bayangan malam itu benar-benar membuatnya tak berani berjarak sedikitpun lebih dekat dengan sang mertua. Tuan Iwan hanya terkekeh melihat ekspresi sang menantu.
Wajah cantik, tubuh tinggi dan langsing, benar-benar menggugah selera seorang pria yang tak lagi muda itu.
"Hentikan!" Suara bariton terdengar memekakkan telinga kala dua senjata sudah terarah ke Tuan Iwan.
"Kalian." Tuan Iwan begitu terkejut kala melihat beberapa orang yang berseragam hitam dengan setelah jas rapi tampak berdiri tegap di belakangnya.
"Tuan, hentikan perilaku anda." pintah salah satu dari pria tersebut.
Ruth yang menyaksikan beberapa orang pria bertubuh atletis tampak tertegun. Inikah orang-orang yang di maksud suaminya itu? begitulah pikirnya.
"Apa-apaan kalian? Kalian memerintahku?" Wajah Iwan begitu geram mendengar perintah dari anak buah yang selama ini bekerja dengannya. Lebih tepatnya bekerja dengan Dava sebagai tim khusus yang tersembunyi.
"Pergi dari sini, Tuan. Nona Ruth adalah tanggung jawab kami. Kami mohon jangan mempersulit kami atau anda kami tembak sekarang juga?" Tanpa memperdulikan pertanyaan kemarahan Iwan, mereka meminta Iwan untuk segera meninggalkan halaman rumah majikannya.
__ADS_1
Sungguh tidak habis pikir mereka berani berucap seperti itu padanya. Tapi jika menyangkut nyawa, mereka tidak akan berpikir lagi jika sudah berkata habiskan, maka nyawa pun akan lenyap di peluru pistol itu.
Mendengar perintah tersebut, Iwan tampak berwajah murka. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya sembari menatap Ruth.
"Kau tidak akan lepas begitu saja, Ruth. Dan tidak akan ku biarkan wanita sepertimu menguasai anakku."
Manik cokelat milik Ruth tertutup kala ia bisa bernapas lega melihat punggung sang mertua yang sudah menghilang masuk ke dalam mobil.
"Semuanya...terimakasih yah atas batuan kalian." ucap Ruth merasa benar-benar tertolong dengan kehadiran orang suruhan sang suami.
"Tentu, Nona. Anda sudah tugas kami untuk menjaga." Secepat kilat beberapa orang tersebut langsung bubar dan menghilang.
Ruth tercengang melihat pergerakan mereka yang berhambur entah kemana saja arahnya. Yang jelas kali ini, ia terlihat seorang diri lagi di halaman rumah miliknya.
"Mamah," seru Putri yang berlari ke arah pintu rumah kala Mbok Nan terlihat membukakan pintu untuk sang majikan.
"Putri, sayang kamu masih demam Nak. Ayo ke kamar." ajak Ruth yang memeluk tubuh mungil anaknya. Beberapa bagian tubuh Putri ia periksa dengan menggunakan punggung tangannya sendiri.
"Mah, Putli mau ketemu Paman ganteng, Mah. Ayo Mah, kita bawa Paman ganteng pulang, Mah." Ruth menatap Mbok Nan.
"Putri, Mamah baru pulang. Nanti kita bicara soal Paman lagi yah. Kasihan tuh wajah Mamah Putri juga sedih jadinya. Yuk Putri ke kamar dulu Mbok Nan antar yah?" bujuk Mbok Nan yang menggandeng tangan Putri ke kamarnya.
Ruth merebahkan tubuhnya di sofa empuk yang ada di ruangan tv tersebut. Sejekan ia memejamkan matanya yang lelah.
"Apa yang harus aku lakukan untuk membantu Dava, ya Allah?" lirihnya mencari cara.
Sejenak rasa rindunya pada sang pencipta timbul begitu saja. Semua permasalahan ini begitu membuatnya lupa dengan satu-satunya tempat biasa ia mengadu.
"Aku rindu solat. Aku rindu bercerita denganMu, Tuhan." Ruth memijat pangkal hidungnya.
"Ya Allah, mengapa semua jadi seperti ini? Bahkan aku merasa diriku sangat hina. Aku wanita tidak beragama. Bagaimana aku berdoa sekarang? aku sangat ingin solat, Ya Allah. Mengapa semua jadi seperti ini?"
Mungkin di luar sana banyak orang yang menilai dirinya begitu buruk. Yah itu memang benar. Tapi apakah dirinya sama buruknya dengan orang yang memiliki agama namun tidak pernah sekalipun untuk menghadap pada sang kuasa? sekedar untuk berterimakasih atas apa yang mereka dapatkan di hari-hari sebelumnya? Semua hanyalah sang kuasa yang mengetahui. Tidak ada satu pun makhluk di dunia ini yang bisa menentukan mana yang jauh lebih baik ataupun buruk. Mana yang pantas masuk surga maupun neraka.
__ADS_1
Perasaan rindu pada sang kuasa tak semudah itu bisa di rasakan pada setiap makhluknya. Saat ini Ruth benar-benar ingin merasakan hal yang dulunya selalu ia lakukan. Sholat dan mengaji, meminta kemudahan meski sering kali semua cobaan yang ia hadapi begitu saja tanpa pertolongan.
Namun, semua doa terkadang tak langsung saat itu juga terkabul. Karena sejatinya manusia hanyalah sang pemohon. Sedangkan Tuhanlah yang maha tahu apakah harus di kabulkan? apakah itu adalah permohonan yang tepat untuk masalah yang hambanya hadapi? ataukah pertolongan itu sudah tepat waktunya? semua adalah kuasa sang pencipta.
"Non Ruth," sapa Mbok Nan yang sukses membuyarkan lamunan nona mudanya.
"Eh, iya Mbok." Ruth tersentak kaget dan langsung bangun dari rebahannya di sofa.
"Bagaimana keadaan Tuan Dava, Non? Apa semua baik-baik saja di sana?"
Ruth menggeleng pelan. "Itu dia Mbok. Saya bingung mau bertanya dengannya saya takut menyinggung perasaan suami saya. Sedangkan saya ingin membantu, tapi saya bingung Mbok. Saya harus pergi ke kantor untuk menyelidiki sendiri. Tapi, kalau saya bertemu dengan Tuan Iwan lagi pasti semuanya jadi masalah besar Mbok. Saya tidak mau jadi menambah masalah Dava." terang Ruth di kala perasaanya menjadi begitu serba salah.
Tring...Tring...Tring
Suara dering ponsel di dalam tas Ruth sontak memutus perbincangan mereka kala itu.
Kening Ruth mengerut melihat siapa nama yang menelponnya. Jemarinya langsung bergerak menolak panggilan itu.
Benda pipih miliknya kembali terdengar berdering. Ruth dengan cepat menolaknya lagi.
"Mau apa sih ini orang?" gerutu Ruth menatap layar ponsel yang berubah menjadi sebuah notifikasi masuk.
"Keluar ke depan, atau aku akan masuk ke dalam menarikmu paksa, Ruth?"
"Haaah." Ruth merentangkan kedua tangannya di soda. Rasanya sungguh lelah menghadapi sikap-sikap pria ambisius itu.
Sedangkan di sudut rumah tampak dua pria yang tengah menggeleng-gelengkan kepalanya. "Belum juga jadi janda, lihat. Sudah dua pria datang ke rumah ini. Sepertinya Tuan Dava harus berjuang keras menjadi garda terdepan di rumah tangganya hehehe." guyon salah satu dari pengawal yang Dava kerjakan.
"Istrinya saja cantik begitu, bagaimana tidak jadi saingan? ayah sendiri pun jadi musuh sekarang. Benar-benar dunia sudah mau kiamat."
__ADS_1