Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 79. Merayakan Bersama


__ADS_3

Wajah antusias tampak berubah berseri-seri bahagia karena puas dengan apa yang mereka dengarkan dari suara lebuh nan tegas sosok wanita di depan sana.


Begitu pula Dava, pria tampan itu tersenyum puas dengan hasil yang di capai sang istri. Semuanya benar-benar sempurna. Meski terlihat jelas di wajah sang istri mengucur deras keringat yang tak bisa terhenti saat itu.


Wajah gugup dan tangan yang terus saling menggenggam memperlihatkan jika Ruth benar-benar gugup saat ini.


"Perfect," tutur Dava berbisik di samping sang istri seraya mengacungkan jempolnya.


Kesepakatan satu demi satu telah mereka dapatkan setelah sesi persentasi yang Ruth lakukan di bantu dengan sang suami.


"Huh...Dav jantungku ingin loncat rasanya." Ruth memegangi dadanya lega merasakan hari pertama yang menjadi kesannya kali ini.


Dava mengusap kepala sang istri lalu tersenyum. "Bagaimana hari ini?" tanya Dava menatap puas sang istri.


Ruth mengangguk dan tersenyum senang. "Aku berhasil karena kamu, Dav. Terimakasih yah, suamiku." peluknya erat saat semua yang ada di ruangan sudah berlalu meninggalkan mereka lebih dulu.


Dava membalas pelukan sang istri dengan hangat.


Ia genggam tangan Ruth dan menatapnya penuh cinta. "Kita rayakan?" ucapnya meminta persetujuan sang istri.

__ADS_1


Ruth langsung mengernyit heran. "Rayakan?" tuturnya bingung.


Tanpa mengatakan apa pun, Dava sudah menggendong tubuh sang istri ala bridal style.


"Dava...turunkan hahaha." Ruth terkekeh geli mendapat perlakuan yang membuatnya malu di lihat banyak pekerja di kantor itu.


"Dav, ayo turunkan aku, Please." ucapnya memohon. Namun sayang, sang suami enggan mendengarnya. Ia tetap kekeh menggendong sang istri menuju keluar kantor.


Tawa keduanya terhenti saat melihat sosok pria yang berdiri di depan langkah mereka. Ruth langsung terdiam.


"Kak Berson," tuturnya tanpa melepaskan lingkaran tangannya yang menggantung di leher sang suami.


"Kak," Ruth menggenggam lengan besar sang kakak.


Sendi berhenti melangkah. Ia kembali menatap sang adik. "Kakak harus bekerja keras demi perusahaan ini juga. Pergilah dengannya." Sendi melepas dengan pelan pergelangan tangan sang mantan yang masih sangat ia cintai.


Kebahagiaan yang Ruth rasakan saat tadi seketika hilang terbawa dengan suasana mendung hati sang kakak. Ia sangat sakit melihat tatapan begitu sedih di kedua mata Sendi.


"Kak...ikutlah bersama kami." ajaknya dengan lemah lembut.

__ADS_1


Ruth tahu, Sendi sangat sakit melihat kebersamaannya dengan sang suami. Tetapi bagaimana pun juga, ia tidak akan bisa selamanya menjaga perasaan sang kakak. Mereka selamanya akan tetap menjadi saudara kandung, sedarah yang tidak akan pernah bisa bersama dalam ikatan cinta.


Sendi tersenyum miris mendengar ajakan sang adik. "Pergilah, adikku. Kakak masih banyak hal yang harus di kerjakan." tuturnya tetap melangkah tanpa mau mendengarkan panggilan sang adik lagi.


Dava terdiam, ia sangat paham tak mudah bagi Sendi untuk menghapus nama Ruth di hatinya meski sudah ada wanita lain sebelumnya di hidupnya.


 


"Ayo kita pergi," Dava menggandeng tangan sang istri dengan sedikit memaksa.


Keduanya pergi dan masuk ke dalam mobil. Di sana Dava menjalankan mobil tanpa mau menundanya lagi. Ruth berhak bahagia dan menerima penghargaan darinya.


"Kenapa begitu sulit menyatukan kakak dan suamiku?" batinnya tampak sedih.


Rasa serba salah terus menghantui pikirannya. Jika ia bersama sang kakak sebagai adik, tentu akan melukai hati sang suami. Tetapi jika ia bersama dengan sang suami, hati Sendi akan terluka melihat hal itu.


Mobil melaju meninggalkan pelataran perusahaan D Group, dengan menyisahkan kesedihan yang menyayat hati sosok Sendi.


Matanya yang berkaca-kaca menatap kepergian mobil yang perlahan-lahan menjadi tampak seperti titik dan menghilang dengan sendirinya.

__ADS_1


"Aku tidak bisa melihatmu bahagia dengannya terus menerus, Ruth. Hatiku tidak bisa menahannya lagi." batin Sendi  mengusap buliran yang sudah ingin jatuh dari kedua sudut matanya.


__ADS_2