
Siang itu Ruth menghabiskan waktu bersama Putri di dalam kamar usai makan bersama dengan Mbok Nan. Keduanya terlihat sangat dekat.
Ruth terus tersenyum-senyum saat mendengarkan curhatan hati dari Putri yang begitu antusias menceritakan banyak hal yang ia dapatkan di sekolah selama masuk.
"Mah, Mamah. Di sekolah ada yang nanyain Mamah juga loh." tuturnya saat mata Ruth sudah hampir terpejam karena sangat mengantuk.
"Oh yah?" Ruth membulatkan matanya seketika itu juga rasa kantuk yang menderanya pun hilang begitu saja.
Putri mengangguk cepat.
"Iya, Mah. Katanya gini nih...'Em Putri, kamu ini anaknya Mamah Ruth atau Mbok Nan? Tiap hari kamu yang antal kok Mbok Nan telus.' gitu Mah." Putri mempraktekkan ucapan seseorang itu dengan gerakan tubuh yang di buatnya semirip mungkin.
Meski baginya itu hanya pertanyaan biasa yang bisa ia jawab sendiri, namun bagi Ruth itu adalah pertanyaan yang sangat menohok hatinya.
Sebagai seorang ibu, seharusnya ia selalu berada di dekat sang anak. Bukannya menjadi berganti posisi menjaga anak dengan Mbok Nan.
Ruth terdiam sejenak lalu ia mengusap lembut rambut panjang sang anak. "Putri...maafkan Mamah yah, Nak. Mamah memang seharusnya berada di dekatmu setiap hari. Bukannya Mbok Nan." jawab Ruth menatap kedua netra milik Putri.
"No, problem, Mamah. Putri bisa lawan pertanyaan itu dengan baik kok." ia menggeleng seraya melambaikan tangannya seolah menolak dengan apa yang ingin mamahnya katakan padanya.
"Putli bilang mamah Putli itu wanita hebat. Mamah Putli memimpin pelusahaan, pasti dong sibuk dan Putli bangga punya mamah yang juga jago mimpin pelusahaan dan banyak olang kelja. Nanti Putli kalo sudah besal mau juga sepelti Mamah. Putli mau jadi pengusaha, nggak mau jadi bawahan pokoknya."
Ruth yang merasa lemas seketika terkekeh mendengar penuturan sang anak yang sangat menggemaskan. Ia memeluk tubuh mungil itu layaknya menjadikannya seperti guling.
"Kamu ini yah. Mamah gemes sekali sama kamu, Nak." Ruth bereriak sambil tertawa bersama dengan anaknya.
"Sudah, sekarang kita tidur yah? Mamah ngantuk banget ini. Putri juga tidur. Nanti sore Ayah dan Om Sendi pasti akan pulang. Okey?"
"Okey, Mah."
Keduanya memilih untuk segera memejamkan matanya sambil berpelukan dengan erat.
__ADS_1
"Masya Allah...senangnya melihat seperti ini. Semoga kebahagiaan selalu tercipta di rumah ini, Ya Rabb..." Mbok Nan tersenyum saat ingin menutup pintu kamar Ruth.
Dengan perlahan-lahan ia menarik gagang pintu dan pintu kamar pun tertutup dengan rapat.
Mbok Nan berjalan menuju dapur, ia memilih untuk mulai mempersiapkan segala masakan yang ingin di masak nanti.
Tubuh tua yang sudah lama sangat menekuni pekerjaan dapur tak membuatnya lagi merasa terbebani. Tanggung jawabnya sebagai pengurus dapur dan juga membesarkan anak majikannya menjadi sebuah kesenangan tersendiri untuknya.
Tak ada lagi beban yang ia pikirkan, hanya kebahagiaan kala melihat orang-orang di sekelilingnya hidup dengan bahagia.
"Kehidupanku mungkin tidak seperti yang orang lihat. Aku merasakan kebahagiaan saat menjalankan amanah dari majikanku... Entah ini hal yang munafik atau tidak. Yang jelas, aku merasakan hati yang sangat bahagia memiliki orang-orang yang begitu sayang padaku dan juga menghormatiku tanpa memandang siapa diriku."
"Tuan...Nyonya...jika memang benar kalian masih ada saya mohon segeralah kembali. Saya sangat merindukan kehadiran kalian berdua. Saya begitu berharap kita semua bisa kembali berkumpul dengan anak-anak kalian yang sudah besar."
Setetes air mata pun jatuh di pipinya yang tampak berkerut itu. Mbok Nan tak kuasa menahan kesedihannya saat mengingat kehidupannya jauh sebelum kepergian keluarga majikannya itu.
"Astagfirullah...apa yang ku pikirkan ini? Ayo Nani semangat kerjamu. Kasihan Non Ruth kalau sampai lihat kamu sedih."
Akhirnya ia tersenyum kembali dan mulai aktif memotong sayuran yang sudah ia bersihkan dan siapkan barusan.
"Lalelo...lola lola legong. Cah ayu ojo sedih sedih...Gusti Alloh pasti-"
"Mbok,"
"Eh, Ya Allah Gusti." Mbok Nan yang baru saja bersenandung sembari mengelap meja makan tersentak kaget saat tak menyadari kehadiran sosok pria tampan yang sudah berada di dekatnya dengan suara khas yang ia miliki.
Dava terkekeh tanpa suara. Ia tampak menggelengkan kepalanya.
"Lanjutin gih Mbok nyanyinya." pintah Dava yang melihat Mbok Nan masih mengatur napasnya seraya mengusap dadanya.
"Eh, Tuan Dava. Maaf Mbok nggak denger suara mobilnya datang loh." tutur Mbok Nan yang melupakan lagu ciptaannya tadi.
__ADS_1
"Iya, Mbok. Tidak apa-apa kok. Dimana Ruth dan Putri, Mbok?" tanya Dava sembari menatap seluruh sudut rumah itu tampak begitu sunyi.
"Eh...itu, Tuan. Non Ruth sama Putri sepertinya masih tidur berdua di kamar." tunjuknya ke arah kamar milik Ruth berada.
Dava ikut menatap arah yang di tunjuk oleh Mbok Nan.
"Baiklah, Mbok. Kalau begitu saya ke kamar dulu. Mbok lanjutkan saja nyanyinya lagi." Dava menepuk pelan pundak Mbok Nan dan segera berlalu pergi dari dapur.
"Beh...beh...beh...gantenge anake uwong. Tuan Dava memang seperti malaikat wajahnya apalagi hatinya. Beruntung Non Ruth dapat suami seperti Tuan Dava. Eh, tapi Tuan Dava juga beruntung sih dapat Non Ruth yang sangat tulus, cantik lagi." ucapnya menatap kepergian Dava yang kini sudah tak terlihat lagi.
***
Berbeda rasanya dengan suasana di sel tahanan yang saat ini terdengar curahan hati penuh kehancuran.
"Ayah, terimakasih untuk semuanya." Dina menatap dengan mata yang sudah penuh dengan buliran bening di kelopak indah itu.
Deni menatap tak berdaya pada putrinya. "Dina, maafkan Ayah..." lirihnya kini sudah menundukkan wajahnya.
"Ayah, Dina tidak menyalahkan Ayah. Mungkin semua memang sudah jalannya. Tapi Dina bersyukur dengan keadaan seperti ini. Maafkan jika Dina keterlaluan, Ayah. Setidaknya dengan seperti ini Dina bisa tahu mana yang salah dan yang benar."
Ia menangis sementara Sendi memilih bungkam. Ia menggenggam tangan sang istri untuk menyalurkan kekuatannya.
"Ayah sudah sangat terlalu jauh bertindak. Bahkan Ayah sudah membodohi suami Dina sendiri bertahun-tahun."
"Tidak, Dina. Tidak seperti itu, Nak. Ini semua Ayah lakukan demi kamu, Nak. Lihatlah Ayah berhasil menyatukan kalian dengan cara Ayah, bukan? Kau mencintai Sendi. Kau menginginkan Sendi, Dina. Sekarang dia ada di sampingmu karena siapa? karena Ayah."
"Tidak! Tidak, Ayah." Dina berteriak histeris saat mendengar pengakuan sang Ayah yang tidak tahu apa-apa selama ia di dalam sel tahanan.
Begitu banyaknya hal yang di alami sang anak tanpa ia tahu, dan kini ia mengakui semua adalah hasil jerih payahnya.
Bagaimana ia bisa berkata ini semua adalah hasil jerih payahnya? sedangkan di luar Dina kerja keras untuk menata hidupnya kembali setelah begitu hancur namanya di depan sang suami.
__ADS_1
Mungkin memang benar, ayahnya telah berhasil menyatukan mereka, tetapi bukan hatinya. Hanya dua tubuh yang berhasil ia nikahkan tanpa rasa saling mencintai. Lebih tepatnya hanya Dina yang mencintai Sendi.
"Mengapa semua mengatakan jika aku bukanlah anak mereka? Apa memang kebenarannya adalah aku anak dari orangtua Ruth dan Dava? tapi jika memang itu benar, mengapa ingatanku sampai saat ini masih tidak bisa mengingat apa pun juga?"