
Elusan tangan berjari lentik perlahan-lahan membuat tubuh kecil nan berisi tampak mulai tenang. Jika sebelumnya ia terus memohon untuk mengajak sang mamah tidur bersama ayahnya, berkali-kali Ruth membujuk Putri untuk tidak keras kepala hingga ia menangis malam itu, tak ada yang bisa Ruth lakukan selain mengajarkan sang anak untuk membiasakan diri.
"Mah..." panggilnya lembut sembari mulai mengusap air mata yang sudah lelah ia keluarkan terus menerus.
Tangan Ruth masih bergerak membelai rambut panjangnya yang terurai di atas bantal empuk itu. "Hem? Kenapa Putri belum bobok? Mamah sudah bilangkan Mamah akan sangat sedih kalau Putri menangis terus seperti ini?" tanyanya dengan lemah lembut pada sang anak.
"Apa Tuhan itu tidak suka dengan Putri, Mah? Kenapa sih setiap Putri punya orangtua, Tuhan selalu mengambilnya." Jantung Ruth serasa ingin terhenti saat itu juga. Hatinya perih mendengarnya.
"Kenapa mereka pergi dengan memaksa Putri untuk baik-baik saja? Padahal Tuhan tahu Putri sangat bahagia memiliki orangtua. Dulu Putri sendirian kata Mamah terus sekarang Ayah dan Mamah harus di pisahkan dari Putri satu persatu..." Ia mengerucutkan bibirnya dengan pipi yang juga menggelembung karena kesal dan sedih saat mencurahkan isi hatinya pada sang mamah.
"Kenapa, Mah? Apa Putri anak yang nakal?" Ia pun menengadah demi bisa menatap mata sang mamah yang lebih tinggi darinya di posisi berbaring saat ini.
Dengan cepat Ruth menggelengkan kepalanya. "Tidak, Nak. Bukan seperti itu. Putri tentu saja anak yang baik. Selama ini Putri sangat baik..." ia terdiam berpikir sejenak harus berkata seperti apa pada anaknya kini.
Rasanya tidak mungkin memberi tahu semuanya di usia Putri yang masih begitu kecil.
"Sayang...Putri pernah mendengar bukan? jika di dunia ini semua...semuaaaanya itu adalah milik Tuhan. Dialah yang paling maha mengetahui apa yang terbaik dan yang paling buruk untuk kita. Dan...semua yang di titipkan Tuhan pada kita, ada saatnya satu persatu akan di ambil kembali. Karena semua yang ada di dunia ini adalah sementara. Tidak ada yang kekal."
"Nah...mungkin saat ini Tuhan bilang pada Mamah. 'Ruth, saat ini semuanya sudah selesai. Aku akan memberikanmu suatu kebahagiaan yang jauh sebelum kau bahagia dengan hidupmu sekarang selalu menjadi doa permohonanmu. Yaitu kedua orangtuamu akan ku kembalikan lagi padamu. Berbahagialah dengan mereka dan biarkan anakmu, Putri merasakan mendapat kasih sayang dari kakek dan neneknya.' Begitu sayang. Sekarang kita bahkan sudah berkumpul menjadi satu di rumah yang sama."
"Kalau begitu nanti kapan-kapan Tuhan akan balikin Ayah lagi di kamar ini dong Mah? Sama seperti kakek dan nenek yang kembali lagi ke rumah ini." sahutnya dengan wajah yang sudah tersenyum bahagia meski matanya sudah sembab karena terus menangis sedari tadi.
Senyuman kaku tampak di wajah Ruth. Dalam hati ia berkata dengan sedih, "Itu tidak mungkin, Nak. Ayahmu tidak akan bisa kembali pada Mamah lagi."
"Sekarang Putri tidur yah? sudah malam, Mamah juga ngantuk banget ini." tuturnya dengan mata yang setengah memerah menahan kesedihan.
Seketika Putri pun menganggukkan kepalanya setuju. "Iya, Mah. tapi Putri mau berdoa dulu sebelum bobok. Putri mau doa buat Tuhan bisa kembaliin Ayah bobok bareng kita lagi. Putri kangen banget bobok bertiga lagi, Mah."
Sungguh semua harapan yang Putri ucapkan padanya, hanya terus membuat Ruth sedih sekali. Andai ia bisa marah pada sang anak tentu saja ia akan marah. Berkali-kali Putri selalu memaksa keadaan dan menentang semua yang terjadi pada mereka. Sementara rasa sayangnya pada Putri sang anak tidak mungkin bisa membuatnya tega memarahi anak sekecil itu. Selain hanya bisa menganggukkan setuju dengan semua harapan yang Putri ucapkan barusan.
__ADS_1
Akhirnya dengan segala drama keduanya pun memutuskan untuk memejamkan mata. Putri mengeratkan pelukannya pada sang mamah sementara dalam hatinya ia berdoa dengan penuh harapan.
"Ya Allah...Putri mohon malam ini. Segera kembalikan Ayah lagi pada Mamah untuk bobok bareng sama kita bertiga. Jika Engkau tidak mau mengembalikan Ayah pada kami, Putri tetap mohon harus di kembalikan. Aamiin Ya Rabbal alamiin." Kedua tangan mungil itu pun mengusap wajahnya dengan penuh harap.
Akhirnya tanpa menunggu lama lagi, kini mereka berhasil memejamkan mata di iringi nafas yang mulai terdengar teratur.
Pelukan yang mulanya begitu erat perlahan-lahan mulai merenggang seiring lelapnya tidur keduanya. Tak lama kemudian terdengar suara decitan pintu kamar yang begitu pelan.
Kreeeek!!
Muncullah sosok wanita tua dengan pandangan mata yang langsung tertuju pada dua permpuan di tempat tidur itu.
"Syukurlah mereka sudah tidur semua." tutur Tarisya mengecek keadaan sang anak dan cucu angkatnya.
Dengan pelan tangannya kembali menutup pintu lalu menjauh dari kamar sang anak untuk kembali ke kamarnya.
Di sini, kamar yang baru saja terisi sepasang suami istri tampak suasana yang kikuk.
"Em," keduanya sama-sama berucap di waktu yang sama.
"Maaf, bisa aku lewat?" tanya Sendi dengan nada datar dan wajah tanpa ekspresi.
Tentu saja Dina mengangguk cepat dan meminggirkan tubuhnya, namun lagi-lagi tubuh mereka bergeser ke kanan bersamaan.
"Maaf..." wajah Dina yang tenang seketika merona malu dan ia pun menundukkan kepalanya tanpa mau memandang wajah sang suami lagi.
Sendi melangkah meninggalkan sang istri dengan wajah yang tak kalah malunya. "Astaga bisa-bisanya aku bertingkah konyol seperti itu. Apa susahnya aku menyingkirkan tubuhnya unuk aku lewat tidur perlu mendapatkan hal yang bodoh seperti tadi. Sendi Sendi." rutuknya dalam hati sembari menggelengkan kepalanya heran.
Di sisi Dina saat ini ia pun sama. Tampak mengumpat kegugupannya disaat bersama sang suami barusan.
__ADS_1
"Ya Allah...Dina kau ini sangat memalukan. Kenapa harus melangkah ke arah situ sih? Haduhhh benar-benar memalukan sih. Tapi...aku suka melihat wajahnya seperti itu..." Ia tersenyum geli mengingat ekspresi Sendi yang berusaha datar namun ada ekspresi malu yang ia tahan di depan sang istri.
Tidak pernah dalam sejarah mereka berdua tertawa bersama selama ini, jadi jika sampai hal itu terjadi tentu saja sangat aneh di rasa. Dina hanyalah sebatas istri sah, bukan wanita yang akan memiliki hatinya sampai kapan pun. Dan tentu saja sampai kapan pun juga, Sendi akan tetap mengabadikan nama Ruth Surya Dinata atau Shandy Chintya di hatinya yang paling dalam.
Semua tampak sibuk dengan kehidupan rumah tangganya masing-masig. Namun tak ada yang tahu jika di malam yang mulai terasa begitu dingin mencekam sosok Dava termenung di depan jendela kamarnya seorang diri.
Segelas kopi hangat menemani dinginnya angin malam yang dengan liarnya masuk ke dalam kamar itu. Sengaja Dava membuka jendela kamarnya. Ia sangat ingin merasakan udara yang bisa membawa napasnya sedikit lega kali ini.
Tak ada kata yang bisa ia ucapkan lagi selain hanya menguatkan hati untuk menyambut esok hari. Hari dimana sang istri akan benar-benar berpisah darinya. Kesedihan begitu terpancar di netra hitam miliknya. Bibirnya terus menyeruput kopi hangat itu tanpa bisa merasakan manisnya gula yang terlarut dalam gelas tersebut.
Pahit sepahit hidupnya kali ini. Dava tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan kedepannya untuk kembali menata kehidupannya. Yang ia tahu selama ini adalah ingin menjadi seorang ayah dan suami yang membahagiakan keluarga kecilnya dengan segala usahanya.
Tanpa terasa angin yang terus berhembus dengan lembutnya menelusuri setiap sudut kamar itu perlahan mampu meniup mata bulat milik Dava hingga tanpa terasa ia pun memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya pada kursi kayu di kamar itu.
Hembusan nafas perlahan menandakan jika sang pemilik tubuh yang gundah sudah tertidur dengan lelap meski begitu banyak beban pikiran yang masih berkelana dalam kepala itu.
Mata teduh yang selalu terlihat tenang kini telah tertutup meski beberapa kali ada tetesan air bening yang jatuh dari dalam kelopak tersebut.
Kehilangan sosok wanita yang benar-benar ia cintai, wanita pertama yang pernah menghiasi hari-harinya dengan senyuman kini tak ada lagi sudah. Bahkan dengan perpisahan ini Dava pun harus bisa mempersiapkan patah hati yang lebih pahit lagi jika sampai suatu saat nanti Ruth bisa mendapatkan tambatan hati yang benar-benar Tuhan berikan untuknya selamanya.
"Ruth, jangan pergi, Sayang. Ku mohon jangan pergi dariku."
"Ruth, aku tidak sanggup melihatmu menjauh dariku..."
"Tidak, Tidak, Sayang. Kita saling mencintai. Ku mohon tetaplah seperti ini. Jangan pernah meninggalkanku."
"Ruth!"
Rentetan suara yang penuh dengan makna permohonan terdengar lirih dari bibir merah sosok Dava.
__ADS_1
Tarisya yang baru saja ingin melihat sang anak tanpa terasa meneteskan air mata mendengar suara ngigau Dava.Ia menangis terisak tanpa suara, tubuhnya tampak gemetar membungkam bibirnya sendiri. Hati ibu mana yang bisa tega melihat anak-anaknya menderita. Tidak akan ada yang bisa tenang tentunya.
"Ya Allah...mengapa? Mengapa harus seperti ini nasib anak-anakku?" batin Tarisya menjerit pilu.