
Ketiga para asisten rumah tangga itu menatap kikuk pada kedua pasangan suami istri yang sama-sama berkeringat di seluruh keningnya itu.
Sedangkan Mbok Nan hanya mengangguk ragu dan menatap wajah baby Rava yang berada di dalam gendongannya.
"I-ya, Non. Maaf, tadi Mbok kira Non ada di dalam kamar yang ini." tunjuknya pada pintu kamar di depannya.
Ruth menutup pintu kamar sang anak dan begitu pula Dava yang mengekor di belakang sang istri berjalan mendekati mereka.
"Kemari, Mbok." Ruth meraih tubuh sang anak yang saat itu juga terdiam dari aksi tangisnya.
Semua tatapan keempat wanita itu menunduk saat melihat tatapan datar sosok Dava.
"Ada apa, Nak? Rava haus? Ayo kita ke kamar sama Mamah yah, Nak?" Ruth berlenggang pergi meninggalkan semuanya termasuk sang suami yang bingung harus pergi kemana.
Pasalnya di dalam kamar yang baru saja mereka tempati sangat-sangat berantakan.
__ADS_1
Kini akhirnya Mbok Nan memilih untuk memecah kecanggungan di antara mereka. "Bi, ayo kita siapkan sarapan di meja makan." ajaknya dan segera berpamitan pada Dava.
"Tuan, kami permisi dulu." tuturnya menundukkan kepala dan Dava pun hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Setelah kepergian keempat wanita itu, Dava segera menuju ke kamar sang istri untuk menyusul Ruth dan juga bayinya.
"Sayang," panggilnya ketika ia sudah tiba di dalam kamar itu.
Disana Ruth tampak memberikan asi pada sang anak.
"Dav, kenapa kita harus melakukannya di kamar itu sih? Lihat mereka pasti tahu apa yang kita lakukan di dalam sana tadi." Ruth tanpa memberikan jeda pada sang suami seketika mengatakan semua kekesalannya tanpa henti.
"Ssstt." Ia pun mendekat pada sang istri yang tengah menenangkan sang anak di tempat tidur.
"Cepat letakkan Rava, Sayang. Aku masih menginginkannya." tuturnya sembari mendekat dan duduk di samping sang istri. Sangat dekat, Dava sudah memeluk tubuh istrinya tanpa perduli dengan anak bayi yang masih meneteskan sisa air mata kesedihannya karena teracuhkan pagi-pagi seperti ini.
__ADS_1
"Dav, nanti Rava menangis lagi."
"Ti..."
"Oek oek oek." Dan benar saja suara tangisan pun kembali memenuhi kamar mereka kala Rava sadar akan kehadiran sang ayah yang mendekati sang ibu.
"Sayang, kenapa Nak? Sudah ayo kita keluar yuk. Lihat kakak Putri sudah siap-siap belum yah?" Ruth segera membawa sang anak meninggalkan kamar mereka dengan mata yang berputar malas pada sang suami.
Dava kali ini hanya bisa pasrah kala hasrat yang menggebu terpaksa ia tahan karena suasana sama sekali tidak mendukung saat ini.
"Si Rava anak siapa sih sebenarnya? Sama ayahnya sendiri begitu iri sekali. Huh." gerutu Dava kala melihat setiap kali ia ingin mendekati sang istri, bayi itu selalu menangis dan membuatnya tak bisa memiliki Ruth seutuhnya.
"Sayang aku pergi ke kantor dulu." Dava dengan wajah melas dan enggan untuk pergi ke kantor terpaksa berpamitan pada sang istri usai menyantap sarapan pagi dengan yang lainnya.
"Iya, Dav. Hati-hati yah? Semangat kerjanya. Oh iya nanti makan siangnya biar aku saja yang mengantarkannya." Dava mengangguk mendengar ucapan sang istri lalu bergegas pergi ke kantor bersama sang adik, Sendi.
__ADS_1
"Din, jangan terlalu lelah yah? Aku juga ingin di antarkan makan siang seperti mereka." tuturnya meminta sang istri untuk ikut ke kantor bersama Ruth nanti siang.
Dengan senang hati, wanita itu mengangguk tersenyum.