Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 120. Bahagianya Dina


__ADS_3

Di perjalanan kini Sendi dan Dava hanya saling diam. Keduanya memiliki pemikiran masing-masing. Mobil terus melaju kembali menuju ke perusahaan dimana mereka akan melanjutkan pekerjaan mereka lagi.


Padatnya perjalanan tak membuat kendaraan beroda empat itu terhambat ke tempat tujuan. "Sudah aku sampai di sini saja, Dav." ucap Sendi saat melihat mobil itu hampir masuk di depan loby perusahaan yang memang tidak begitu besar.


Dava menoleh dan menatapnya. Refleks kaki jenjangnya menginjak rem mobil miliknya.


"Sen, tolong kali ini bantu aku. Ini demi keluarga kita." tutur Dava menatap wajah Sendi yang hendak keluar dari mobilnya.


"Yah, tentu saja." jawab Sendi datar.


Ia melangkah keluar dari mobil dan memilih untuk berjalan kaki masuk ke kantor. Entah apa yang menjadi pikirannya saat ini. Hanya dialah dan Tuhan yang tahu.


"Hari ini benar-benar membuat kepalaku ingin pecah..." gumam Sendi seraya menggelengkan kepala menatap kepergian mobil Dava.


"Tidak. Akut tidak bisa bekerja jika seperti ini. Sebaiknya aku mendinginkan kepalaku yang panas." ucapnya menuju parkiran mobilnya.


Sendi terpaksa harus keluar kantor di jam yang masih menunjukkan jam kerja. Pikirannya mendadak kacau memikirkan keadaannya dan keluarganya.


Ia pergi meninggalkan kantor bersama mobil kesayangannya.


Sementara disini Dina mulai kembali bekerja tanpa mau mendengarkan perkataan sang suami yang memintanya untuk menetap di rumah saja.


"Dina, mau kemana kamu, Nak?" tanya Wuri yang hendak pergi bekerja sementara Sarah sudah berangkat lebih pagi.


"Bu, aku harus masuk kerja. Kalau tidak nanti kelamaan libur aku bisa di pecat, Bu." jawab Dina dengan wajah tenangnya.


Kini di hatinya sudah tak ada lagi beban yang terasa berat. Suaminya telah kembali padanya meski jelas sampai kapanpun mereka tidak akan bisa memiliki anak lagi.


Wuri menghela napas mendengar penuturan sang anak. "Dina, sebaiknya kamu di rumah saja. Ibu dan Tante Sarah yang akan bekerja saat ini. Sendi sudah memintamu untuk di rumah saja, Nak." tutur Wuri yang juga sangat mengkhawatirkan sang anak.

__ADS_1


"Bu, keadaan kita sangat membutuhkan uang. Dengan Ibu dan Tante Sarah bekerja semuanya tidak akan cukup. Tante Sarah juga punya kebutuhan sendiri tentunya." Dina tersenyum meyakinkan sang Ibu.


"Bu, Dina baik-baik saja. Percayalah, kasihan Sendi jika harus bekerja sendiri untuk kami. Terlebih biaya kontrol kesehatan Dina tidak murah, Bu." Wuri menatap kasihan pada anak semata wayangnya yang susah payah membentuk dirinya saat ini.


Tangan lentik dan mulus yang sama sekali tidak pernah di ajarkan untuk mencari uang, kini terpaksa harus bekerja keras demi gaji yang sama sekali tidak seberapa jika di bandingkan dengan kebutuhan hidupnya sebelumnya. Namun, lagi-lagi keadaan mengajarkan banyak hal padanya. Penampilan yang sempurna dan apa adanya ternyata tak mampu melunturkan kecantikan yang ia miliki.


Meski tak mampu lagi membeli make up mahal dan segala pakaian brended, Dina tetap cantik di mata yang memandang. Wajah manis dan tubuh mungil memiliki daya tarik tersendiri untuknya.


Wuri sungguh sedih melihat pendirian sang anak yang sangat berubah drastis kali ini. Ia sampai meneteskan air mata saat menyadari sang anak sudah benar-benar berubah.


Wuri menggenggam kedua lengan sang anak. "Hiks hiks maafkan Ibu, Dina. Ibu tidak bisa memenuhi kebutuhanmu lagi, Nak. Ibu sangat gagal menjadi Ibu yang melindungi anaknya. Maafkan Ibu, Sayang."


Dina sampai ikut meneteskan air mata, Kesadaran membuatnya bisa sekuat saat ini. Bagaimana pun ada rasa sedih yang mendalam bagi mereka. Sebelumnya untuk menghabiskan uang miliaran mereka tak pernah berpikir dua kali, namun apa yang terjadi saat ini? Satu lembar uang lima ribu pun mereka harus berpikir puluhan kali untuk mengeluarkannya demi kebutuhan pokok mereka.


"Bu, Dina baik-baik saja. Kita berdua saling menguatkan demi kehidupan kedepannya. Dina bersyukur masih memiliki Ibu di dunia ini." Dina memeluk tubuh wanita paruh baya itu semakin erat.


"Meski Ibu tidak mampu menghidupi Dina dengan bergelimang harta, tetapi...Dina bersyukur, Bu. Dina mendapatkan banyak kesadaran dari kehidupan yang saat ini bersama Ibu. Ibu begitu wanita berhati malaikat. Tanpa Ibu, Dina tidak yakin bisa mendapatkan kekuatan untuk bertahan hidup. Terimakasih, Bu. Terimakasih telah membawa anakmu ini berada di jalan yang baik." Keduanya saling berpelukan di depan rumah yang menampakkan pintu masih terbuka lebar.


Sendi berdiri mematung memperhatikan perbincangan dua wanita yang sama-sama saling menguatkan.


"Dina sudah benar-benar berubah..." tuturnya dalam hati tanpa sadar bibirnya melengkung membentuk senyuman kecil.


Cukup lama hal itu berlangsung, sampai akhirnya pandangan Wuri menoleh pada sosok pria tampan di sudut sana.


"Sendi," tuturnya sangat kaget melihat kehadiran pria yang sedari mematung menatapnya.


Wuri dan Dina melepaskan pelukan mereka serentak dan menoleh ke arah Sendi.


"Ehem...maaf. Aku hanya ingin-em...itu yah aku ingin mengambil berkas di kamar." Sendi berlalu masuk ke dalam rumah karena merasa tertangkap basah tersenyum diam-diam.

__ADS_1


Wuri tersenyum seraya mengusap air matanya. "Gih, sana susul suamimu. Bantu dia mengambil apa yang di perlukan." pintahnya pada Dina.


"Baik, Bu." Dina bergegas masuk ke kamar yang sudah di bersihkan mereka bersama pagi tadi.


"Biar ku bantu. Yang mana?" tanya Dina mendekat pada Sendi yang berjongkok pada laci meja mini di kamar mereka.


Sendi menoleh menatapnya dan menutup kembali laci itu segera. "Em, tidak. Ini yah ini sudah ada. Kalau begitu aku harus pergi lagi." Sendi melangkah ingin meninggalkan kamar itu.


"Sen," Panggil Dina lirih dengan menggenggam lengan sang suami.


Sendi menoleh ke belakang. Kedua pasang mata mereka saling bertatap begitu dalam.


"Bisakah aku memintamu untuk menemaniku bertemu dengan Ayah?" Dina bersuara pelan takut-takut jika Sendi akan marah padanya.


Namun tanpa di duga, Sendi langsung menyanggupinya dengan anggukan kepala. "Sekarang? Bisa." tuturnya mantap.


Kebetulan, hari ini ia sangat suntuk. Ingin mencari udara segar, mungkin akan jauh lebih baik jika ia menghabiskan waktu bersama istrinya yang tak di inginkannya.


Dina tersenyum bahagia, untuk pertama kalinya Sendi mau menerima ajakannya meski itu bukanlah bertujuan untuk kencan. Tapi, jauh dari perlakuan biasanya, Dina selalu mendapatkan penolakan bahkan sekalipun ia memaksanya.


"Terimakasih, Sen. Terimakasih." Tanpa sadar ia memeluk Sendi karena rasa bahagia yang tak terucap lagi.


Manis. Satu kata yang terlintas dari tatapan Sendi pada Dina dalam diamnya.


-----------------------------------


Jika kau tidak mampu melihat kecantikan dalam diri seseorang. Mungkin suatu rasa yang menutupinya dari dalam pandanganmu.


Maka dari itu, sebelum menilainya...cobalah untuk menerimanya terlebih dahulu. Saat kau mau menerima kehadirannya, kecantikan itu akan terlihat dengan sendirinya tanpa kau cari.

__ADS_1


Jika kau tidak mampu menerima kehadirannya, bagaimana mungkin kelebihan itu akan berani menampakkan dirinya padamu.


__ADS_2