
Malam yang begitu terasa sedih dan perih kini berlalu juga seiring mentari pagi yang sudah mulai menampakkan sinarnya.
"Pak,"
"Pak," Suara seseorang yang memanggil sosok pria yang baru saja mengusap kedua matanya karena kantuk yang begitu masih terasa baginya.
"Hem? I-ya. Ada apa yah, Sus?" tanya Dava menatap wanita di depannya berseragam serba putih.
Ternyata sepanjang malam pria itu tertidur di kursi rumah sakit dengan mata yang masih terlihat sangat merah. Entah pengaruh kantuk atau pengaruh kesedihan yang menemaninya sepanjang malam ini.
"Pasien di dalam memanggil anda, Pak." tuturnya menunjuk ke arah ruangan dimana Tarisya sang bunda berada.
Dava pun menoleh dan mengangguk lagu mengatakan, "Baik. Terimakasih, Sus." Ia segera mengusap wajah kusutnya dan merapikan jas yang masih menempel di tubuhnya.
Sungguh rasanya sangat lelah, mulai dari hari kemarin ia tidak ada merasakan empuknya tempat tidur. Bahkan untuk sekedar mengisi perut pun tidak ia lakukan.
Tarisya tersenyum lembut melihat kedatangan sang anak yang perlahan melangkah mendekat padanya. Ada rasa teriris pisau di dalam hatinya melihat betapa kuatnya anak-anaknya saat ini.
"Selamat pagi, Bunda." sapa Dava dengan tenang. Ia duduk di kursi dan menggenggam tangan Tarisya hangat. Di ciumnya tangan itu, tangan wanita yang sangat berjasa dalam melahirkan dirinya dan sang adik-adik.
Betapa besar rasa tidak teganya pada sang anak, namun ini semua harus ia bicarakan secepatnya.
"Jeff, bagaiman langkah selanjutnya, Nak?" tanyanya langsung to the point.
Dava terdiam, ia meneguk kasar salivahnya. Ia sendiri bahkan tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini.
Beberapa detik ia diam, dan akhirnya Tarisya kembali bersuara. "Bawa Bunda pulang ke rumah, Jeff. Kita pindah ke rumah utama." tuturnya benar-benar mengejutkan Dava.
__ADS_1
Menganggukkan kepala saat melihat tatapan penuh tanya dari Dava. "Yah...Bunda ingin segera kita berkumpul. Ayo segera urus kepulangan Bunda, Nak. Bunda baik-baik saja." ia meyakinkan sang anak untuk tetap pada pendiriannya.
Semuanya sudah terlanjur kacau, sebagai orang tua ia harus segera mengambil tindakan untuk anak-anaknya terutama Dava dan Ruth yang masih berstatus suami istri saat ini.
***
Di rumah tidak begitu megah, kini tampaklah Ruth yang tengah duduk di sisi taman halaman rumahnya. Taman yang sudah begitu tak beraturan, hanya tersisa kursi-kursi yang masih layak di duduki.
Tiba-tiba saja sosok bocah berlari menghampirinya, "Mah, please jangan bersedih lagi. Putli jadi tidak bisa semangat untuk bersekolah hari ini. Bagaimana jika Mbok Nan yang mengizinkan Putli di sekolah biar bisa temanin Mamah di lumah?" ucapnya memberikan penawaran dengan raut wajah yang begitu sedih.
Hatinya ikut lemah tanpa semangat melihat sinar mentari yang selalu menerangi hidupnya meredup kala itu. Ruth adalah matahari bagi sosok Putri selama ini.
"You are my sun. If you are sad, then i will be weak. Mah, please don't be sad anymore..." Ruth terhenyak merasakan pelukan hangat dari tangan mungil milik sang anak.
Satu-satunya sosok yang tidak akan pernah membencinya, tidak akan pernah meninggalkannya, tidak akan pernah marah padanya, dan selalu menyayanginya tanpa syarat.
Lemah di tubuh seakan terasa mulai kuat meski sakit di hati masih begitu terasa menyayat.
"Sekarang Putri tetap berangkat sekolah dengan Mbok Nan yah? Mamah tidak ingin Putri bolos-bolos sekolah. Biar pintar dan jadi wanita sukses nanti. Biar bisa tolongin banyak orang kan?" Putri menganggukkan kepalanya setuju meski dalam hati ia sungguh berat meninggalkan Ruth seorang diri di rumah itu.
"Tapi...Putli-"
Jari telunjuknya segera menutup bibir kecil milik sang anak. "Sssst...Ayo sekarang Putri ikut Mbok Nan ke sekolah. Tuh taksinya sudah datang..." Ia menunjuk ke arah taksi online yang Mbok Nan pesan barusan.
Karena memang di rumah itu sedang tidak ada kendaraan hari ini.
"Yaudah deh, Putli pelgi dulu yah, Mah?" Ia memeluk sekali lagi tubuh Ruth dan mencium kedua pipi wanita kesayangannya.
__ADS_1
Meski berat hati, namun melihat kesedihan di wajah sang mamah ia bahkan tidak berani untuk membantah dengan keras kepalanya seperti biasanya.
"Iya sayang. Hati-hati yah, Nak." ia mengusap kepala kecil itu dengan lembut dan tersenyum lemah.
Di tatapnya mobil yang bergerak meninggalkan pelataran rumah miliknya. Kini tinggallah Ruth seorang diri yang melanjutkan kembali meratapi nasib malangnya.
"Huek! Huek! Huek!" tiba-tiba saja perutnya begitu terasa teraduk-aduk hingga tak tahan Ruth segera memuntahkan seluruh isi perutnya pada lantai halaman itu.
Perasaannya begitu tidak nyaman, bahkan untuk bangkit dari duduknya ia tidak sanggup lagi setelah beberapa kali terjadi proses muntahnya.
"Aduh yah Tuhan, mengapa perasaanku tidak enak sekali yah?" Dengan berusaha sekuat tenaga, akhirnya Ruth berdiri dan melangkah perlahan ingin masuk ke dalam rumah.
Tap tap tap tap tap
Derap langkah kaki yang samar-samar dan lemah itu seketika terhenti di pertengahan saat pandangan matanya tak lagi mampu melihat suasana di sekitar. Ruth merasakan kepala dan bagian perut yang teramat sakit.
"Ruth!"
"Shandy!" teriakan dua orang yang terkejut saat mendapati Ruth sudah terjatuh di lantai dengan tidak sadarkan diri lagi.
"Sayang,"
"Sayang, bangun Sayang!" teriak Dava saat memangku kepala sang istri yang begitu tak karuan wajahnya. Hatinya sungguh miris melihat keadaan Ruth yang baru ia tinggalkan satu malam sudah seperti ini kacaunya.
"Jeff, cepat Nak. Bawa Shandy ke kamarnya." pintah sang bunda yang lansung di sanggupi oleh Dava.
Ia berlari menggendong sang istri menuju rumah dan berlanjut menuju ke kamar mereka. Sejenak Dava menatap sedih kamar itu, begitu banyak kebahagiaan yang mereka ciptakan di dalam kamar itu, namun tak bisa lagi ia lanjutkan kali ini.
__ADS_1
Apalagi dengan kedatangan sang bunda dan ayah di rumah ini, mereka tidak akan mungkin bisa melakukan hal apapun yang mereka inginkan di bawah tentangan orangtua mereka. Sekali pun Dava adalah anak pertama dari ketiga saudara itu.