Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 19. Kehamilan Dina


__ADS_3

Tertawa dan bahagia bersama orang yang memahami kita adalah sebuah keberuntungan bahagia dalam hidup. Pelukan hangat di saat yang tepat dan bahu yang tepat untuk bersandar adalah sihir terampuh untuk kita tetap melanjutkan kehidupan yang penuh luka lara.


Sedikit banyak orang di luar tidak mempercayai kebenaran jika sebuah pelukan yang  teramat tulus akan mampu menutup segala luka hati maupun tubuh seseorang. Kemustahilan itu kini terjadi pada diri seseorang gadis yang bernama Ruth.


Pelukan hangat yang ia dapatkan sangat menutup rasa sakit pada luka di tubuhnya. Hingga tanpa sadar matanya terpejam menikmati setiap tarikan nafasnya. Aroma maskulin sangat menyujukkan hati dan pikirannya.


Di hati yang lain tampak debaran jantung yang begitu laju pacuannya. "Ada apa ini? Astaga Tuhan, jangan membuatku salah mengambil rencana ini. Dia bukan wanita pilihanku."


Dava terdiam tanpa melanjutkan pergerakan tangannya yang mengolesi luka sang istri sejak tadi. "Ehem," ucapnya menetralkan perasaan yang membuatnya begitu bingung dan melepaskan perlahan lingkaran tangan di pinggangnya.


"Ma-maaf," Ruth menunduk malu.


"Istirahatlah, aku akan keluar." Dava bergegas meninggalkan kamar itu dan menutup rapat pintu kamar sang istri.


Pintu kamar tertutup, Tubuh tegap wajah tampan itu tampak bergerak mengusap peluhnya yang bercucur di kening mulus miliknya.


"Tuan Dava,"


Dava tersentak kaget mendengar suara Mbok Nan yang tiba-tiba muncul di dekatnya. Wajahnya tampak gugup melihat tatapan menyelidik wanita tua renta itu padanya.


"Em, Mbok. Saya tinggal dulu. Mereka akan aman di sini." ujarnya meninggalkan Mbok Nan yang belum sempat berucap apa pun itu.


"Eh, Tuan," panggil Mbok Nan namun tetap saja tidak menghentikan langkah Dava yang berlalu pergi meninggalkan rumah itu.


"Ada apa sih ini? Tuan Dava saja belum bicara apa-apa tadi. Ya Allah cobaan apa lagi ini? kasihan Non Ruth tidak habis-habisnya menderita. Semoga tidak terjadi apa-apa kedepannya. Non Ruth, Mbok hanya bisa bantu doa saja sekarang. Non sudah dewasa dan harus menjadi bijak sebagai ibunya Putri."


Di luar halaman, tampak mobil sedan mewah berwarna hitam melaju meninggalkan halaman rumah dengan kecepatan tinggi.


"Sal! Argghh!" pekiknya sembari menepikan mobil dengan mendadak.


Dava meraih ponsel miliknya di saku jas mewah yang bertengger di tubuhnya. Jemari besar itu mulai bergerak mendail kontak yang bertuliskan Densal.


Sambungan telepon tersambung. "Halo, Tuan Dava Sandronata." ucapnya menyapa dengan suara sangat menggeramkan bagi sosok Dava. "Hahahaha," detik berikutnya terdengar tawa menggelegar dari seberang sana.


"Katakan! Dimana Ibuku?" teriak Dava begitu menggelegar.

__ADS_1


Manik matanya tampak memerah menahan amarah, andai ia tidak memikirkan semuanya, mungkin sudah lama dirinya melenyapkan nyawa seorang Deni Salim Perdana. Meski jelas terdengar suara gemerutuk gigi yang tentu ia tahu siapa pemiliknya, namun hal itu pun tak sedikit pun menyentuh perasaan seorang Deni Salim Perdana.


Ia bahkan tertawa puas mendengar kemarahan yang berusaha keras Dava kendalikan saat ini. "Heeemmm...Tuan Dava, sepertinya anda masih belum sempurna melakukan syarat-syarat yang aku berikan."


Mendengar ucapan pria di seberang sana, Dava hanya bisa mengepal erat genggamannya. Matanya sejenak terpejam kemudian sebelah tangannya memijat pelipisnya yang mendadak pusing.


 


"Tolong jangan bermain-main denganku! Anda sudah terlalu banyak mengulur waktu saya," ucap Dava sembari memukul setir mobilnya.


"Eits...jangan terlalu cepat marah, Tuan Sandronata. Kali ini saya hanya ingin menuntaskan masalah yang masih setengah jalan anda lakukan. Bukankah saya ingin anda menjadikan wanita itu istri anda sepenuhnya? Apa yang anda lakukan malam ini? Bahkan malam pernikahan pun anda meninggalkannya bukan? Benarkah yang saya katakan saat ini?"


Dava terdiam, ia sungguh terjebak dalam perjanjian sesat antar dirinya dengan pria yang tak lain adalah ayah dari Sendi, mantan kekasih dari istrinya tersebut.


"Jadikan dia istri dan tiduri dia. Jika tidak, saya akan memberi tahu tujuan anda yang sebenarnya menikah dengan wanita itu. Bagaimana? setuju tidak?"


"Sampai kapanpun saya tidak akan menjadi boneka bodoh anda, Sendi! Cukup sampai di sini permaina kita, saya tidak sebodoh yang kau pikirkan."


"Halo! Halo! Halo!" teriak Deni Salim begitu marah kala menyadari jika sambungan telepon sudah tidak tersambung lagi.


Berikutnya, ia kembali bergerak menghubungi seseorang. "Segera cari tahu semuanya malam ini juga,"


Dava mematikan sambungan telepon saat itu juga tanpa mendengarkan jawaban dari seberang.


"Sudah cukup sampai di sini. Lagi pula tujuanku menikah dengan Ruth bukan hanya untuk menuruti kemauan pria brengsk itu, Aku benar-benar ingin melindungi mereka."* Seketika Dava mengerjap dan menggelengkan kepalanya.


"Aku ingin melindungi Putri. Yah itu yang benar, Dava."


***


Di sisi lain, dalam kamar yang tampak kacau malam itu.


Seorang pria bertelanjang dada dengan bawahan tertutupi selimut tebal tampak mengatur napasnya setelah berpacu kuda dengan wanita yang tak lain adalah istrinya sendiri.


Yah, istri hanya di atas ranjang. Bukan istri seperti pada umumnya.

__ADS_1


"Kapan jadwal kontrol ke dokter?" tanya seorang pria yang berwajah masam kala melihat kehadiran sang istri yang baru saja muncul dari dalam kamar mandi usai membersihkan diri.


Dina tersenyum, "Kalau aku berhenti kontrol ke dokter, bagaimana Sayang?"


Pertanyaan yang benar-benar membuat seorang Sendi murka seketika. Tubuhnya yang lelah tanpa sadar bergegas bangun dari pembaringan dan melangkah cepat tepat di hadapan sang istri.


"Aw...Sendi, apa yang kau lakukan? sakit! rintih Dina berusaha keras melepaskan cengkaraman tangan suami pada dagu lancip miliknya.


"Jangan pernah bermimpi! Dengar! Aku tidak akan pernah mau kau hamil anakku. Ingat, Dina! Hanya Ruth, hanya dia wanita yang aku cintai. Bahkan kau sama sekali tidak pernah aku ijinkan menikmati sentuhanku sedikit pun."


 


Dua mata Dina membulat mendengarnya. Ia menggeleng tak percaya, setega itukah perasaan Sendi padanya. Apakah ini hanya omongan belaka? setiap orang akan berubah tentunya jika sudah mendapat kabar bahagia tentang anak. Begitulah yang ada di benar Dina saat ini.


"Sayang, aku mohon jangan seperti ini. Aku sudah hamil, kita tidak perlu mengontrol ke dokter lagi untuk memastikan aku tidak mengandung."


Plak!


Suara tamparan terdengar menggema di ruangan kamar yang berukuran besar itu.


Plak! Plak! Plak!


Tamparan bertubi-tubi mendarat di wajah mulus nan segar itu. "Kau! Berani kau?" Sendi kembali mendekati Dina yang sudah terlempat di sudut kaki nakas kamar itu.


Wajahnya memerah karena jejak tamparan sang suami. Air mata pun menetes di sudut matanya yang terasa perih.


"Tega kamu seperti ini padaku? Apa kamu pikir dengan begini, Ruth akan mau menerima mu kembali, Sendi? Tidak! Wanita seperti dia tidak akan mau dengan pria tempramen sepertimu."


"Diam kamu!" teriak Sendi geram mendengar penghinaan sang istri yang benar-benar membuatnya tidak bisa terima akan hal itu.


"Ruth, akan terus mencintaiku selamanya. Hehehe kau harus tahu itu, Dina. Wanita itu adalah kekasih sejatiku. Kau dan Ayah yang sudah merusak semuanya. Kalian berdua baj*ngan!"


Sendi menghentikan tawanya meski tatapan matanya begitu tajam, kini ia menarik lengan sang istri agar bangun dari lantai. "Ayo, bangun! KIta gugurkan anak itu. Cepat!"


"Tidak, Sendi. Tidak. Dia anak kita!"

__ADS_1


"Arghh! Dia bukan anakku. Anakku hanya akan ada di janin Ruth. Mengerti kamu?"


__ADS_2