
Matahari yang mulai bergerak semakin menampakkan kilauannya dengan sapaan hangat yang membangunkan semangat pada siapa pun.
Di sini, di rumah yang terasa begitu ramai, Ruth perlahan membuka matanya saat melihat silau dari arah gorden kamar.
"Astaga, sudah siang." ucapnya terkejut sembari menyibakkan selimut dari tubuhnya.
Di tatapnya seluruh sudut kamar itu. Tidak ada sosok yang ia cari saat ini.
"Dav!" panggilnya.
"Dava!" teriaknya mulai bersuara tinggi.
"Apa dia sudah pergi ke kantor?" gumamnya berjalan dengan wajah baru bangun tidur lalu membuka pintu kamarnya.
Suara Putri yang terdengar tertawa di dalam kamar membuatnya melangkah ke arah kamar itu. Ruth melebarkan pintu kamarnya, sungguh ini adalah pemandangan yang paling memanjakan mata yang pernah ia lihat.
"Ayah, geli!" Putri terus tertawa dan menggeliat saat tangan besar Dava menggelitik tubuhnya dan sebelah tangannya memegang pakaian sekolah.
"Hayo...sini pakai baju. Kalau tidak mau, Ayah akan gelitik perut gendut ini lagi." Dava mencolek perut buncit sang bocah dengan wajah yang tak pernah lepas dari senyumannya.
Tanpa keduanya sadari dari arah pintu, Ruth tersenyum penuh haru. Ia sangat bahagia dengan apa yang Dava lakukan.
"Eh Non Ruth." sapa Mbok Nan yang baru saja ingin masuk ke dalam kamar itu namun terhenti saat melihat Ruth tengah berdiri di sisi pintu dan memandang ke dalam.
"Sssst." Jari telunjuk yang lentik itu menekan bibir ranum miliknya. Seolah memberikan isyarat agar Mbok Nan tidak bersuara.
"Eh...iya Non." ucapn Mbok Nan tanpa suara dan menganggukkan kepalanya paham.
__ADS_1
"Tadi Tuan Dava yang mau memandikan Putri sendiri Non. Katanya mau pakaikan Putri baju dan ikaat rambutnya juga hari ini." terang Mbok Nan yang berbisik di teling Ruth.
Mendengar hal itu tentu saja Ruth tersenyum bahagia. Ia menunduk menatap perut ratanya. Di sana ada anak yang akan mendapatkan kasih sayang dari suaminya. Sama seperti yang Dava berikan pada Putri selama ini. Di elusnya perut yang berisi buah cintanya itu.
"Sayang, kelak kamu lahir...tentu akan sangat bahagia mendapatkan perlakuan seperti Kakak Putri. Ayahmu sangat baik dan penyayang. Apa kau tidak ingin cepat besar dan keluar dari perut Mamah?" Ruth tersenyum penuh haru.
"Kau akan tumbuh dengan kebahagiaan yang sempurna, Nak. Mamah janji untuk itu." lanjutnya lagi.
Hingga akhirnya kini Dava pun menyadari ada sosok yang memperhatikan aktifitas mereka dari pintu kamar bernuansa merah muda itu.
"Sayang," sapanya menyadarkan Ruth dari lamunannya.
Sontak Mbok Nan yang sedari tadi tersenyum dengan segala bayangan di kepalanya pun segera tersadar dan berhenti tersenyum.
"Mamah," Putri memanggil Ruth seraya menarik tangan Dava agar mengikuti langkahnya ke arah pintu.
"Putri, sudah selesai pakai bajunya sayang?" tanyanya dengan wajah tersenyum lebar.
Ia sangat bahagia melihat kedekatan anak angkatnya dan sang suami.
Putri mengangguk dan berkata, "Mah, lihat." menunjukkan kepalanya yang berhasil terikat.
Ruth dan Mbok Nan mengerutkan kening mereka bersamaan.
"Ssssst." pintah Putri dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir kecil itu.
"Oh oke sayang." Ruth tertawa menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Putrinya sungguh dewasa sekali, pikirnya.
"Baguskan, Mah?" tanya Putri kemudian.
"Sayang, kita buka saja yah? Ayah sungguh tidak pandai mengelabang rambut seperti itu." mohon Dava yang menyadari akan karya tangannya yang sama sekali tidak ada bagus-bagusnya.
"No, Ayah. Ini sangat bagus. Putri sangat suka. Mamah saja tidak bisa sebagus ini." bantahnya dengan mantap.
Bahkan demi mendapatkan perhatian sang Ayah, ia pun rela berpenampilan buruk untuk pergi sekolah.
"Iya, ini bagus kok. Tapi apa Putri tidak mau Mamah yang rapiin sedikit saja?" jawab Ruth yang tidak tega dengan penampilan anaknya hari ini.
Tema kelabang tapi hasilnya jadi seperti badan kaki seribu. Panjang polos hanya ada seribu kaki yang terbentuk dari anak rambut tergulung-gulung.
"Putri maunya hasil dari Ayah, Mamah. Besok baru giliran Mamah. Okey?" Putri berjalan dengan angkuhnya menuju meja makan meninggalkan para orang dewasa di depan pintu kamarnya.
"Non, Mbok permisi mau siapkan bekal Putri dulu." ucap Mbok Nan yang terkekeh geli.
"Iya, Mbok. Silahkan." ucapnya dan beralih menatap sang suami.
"Dav, kau tidak perlu melakukan hal itu. Ada aku dan Mbok Nan." tuturnya dengan wajah lemas.
"Maaf, Sayang. Aku tidak bermaksud seperti itu. Tapi aku janji...besok aku akan memberikan yang terbaik. Hari ini biarkan jam istirahat aku tidak pulang. Aku harus belajar tutorialnya."
"Huuh..." Ruth hanya bisa pasrah setelah mendengar ucapan sang suami.
"Ada-ada saja kalian ini." Ia pun melangkah bersama Dava menuju ke kamar kembali.
__ADS_1