
Di sini, Rafael yang berpusing ria akhirnya melihat sosok Sendi di dalam ruang persidangan.
"Dia sudah ada...tapi dimana Dava dan istrinya?" Tanpa bisa menunggu lama lagi kini akhirnya Rafael memilih untuk segera bergabung dengan yang lainnya.
Tak lupa ia menyodorkan berkas itu pada pihak pengacara yang berada di bagian keluarga korban.
"Baik, terimakasih Pak Rafael." ucap sang pengacara.
Rafael mengiyakan dan segera bergegas keluar setelah mengatakan beberapa temuan hasil dari kerjanya yang baru saja usai.
Langkahnya bergegas menuju ke rumah sakit untuk memastikan semua baik-baik saja.
Di sini, Dava tampak terlelap dengan memeluk tubuh sang istri yang masih polos usai ia menyegarkan tubuhnya di kamar mandi.
Matanya sungguh benar-benar berat akibat kerja kerasnya yang non stop. Tanpa ia sadari jika ponsel yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya terus bergetar.
Dava sengaja tidak mengaktifkan dering ponselnya karena takut jika sang istri terbangun dan menyadari jika hari ini adalah jadwal persidangannya.
__ADS_1
***
Di sisi yang berbeda, Sendi yang bersama dengan yang lainnya sangat terkejut saat mendengar pernyataan seorang pengacara dari pihak keluarga korban.
"Terimakasih ya Mulia untuk waktu yang sudah di berikan..." tuturnya mulai menatap ke arah depan setelah ia di persilahkan untuk berdiri membacakan kasus baru yang menyusul di persidangan kedua ini.
"Silahkan," pintah hakim ketua.
"Di sini, saya mendapatkan hasil laporan jika tersangka Tuan Deni telah melakukan penyekapan kepada sepasang suami istri. Yang dimana mereka adalah korban yang selama ini kita ketahui telah tiada."
"Apa? Sial! Bagaimana bisa mereka mengeluarkan kasus ini? Apa yang terjadi di sana?" Deni kembali menggeram menahan kekesalannya. Bahkan matanya sudah membulat sempurna.
"Tidak! Itu tidak benar! Kalian pasti menjebak saya!" Deni yang tidak bisa menerima hal itu langsung berteriak tanpa bisa menahan diri lagi.
Jika sampai semua terbongkar, hidupnya akan benar-benar berakhir di penjara tentunya.
Seketika suara ketukan palu terdengar dari depan. "Di mohon untuk tetap tenang." ujar hakim ketua di depan sana memberikan peringatan.
"Tuan, bisa anda berbicara saat waktunya anda berbicara? Biarkan proses berjalan dengan baik." tambahnya lagi.
__ADS_1
"Silahkan dilanjutkan lagi." pintahnya kemudian pada sang pengacara.
"Di tuliskan jika Nyonya Tarisya Permata dan juga Tuan Darwin Surya Dinata alias William Nicolas masih hidup sampai saat ini. Dan keduanya sudah berhasil di temukan. Sesuai dengan laporan jika tersangka Tuan Deni sudah melakukan penyekapan sejak terjadinya kecelakaan berencana tersebut." tuturnya membaca catatan dalam kertas yang ada di tangannya saat ini.
Sang pengacara kemudian kembali membacakan, "Di sini sudah terbukti jika anak dari keluarga korban yaitu, Sendi Sandoyo alias Berson Nicolas, dan juga Ruth Surya Dinata alias Shandy Chyntia telah mengetahu identitas mereka masing-masing setelah penyelesaian sidang pertama."
Sendi menatap serius seraya mendengarkan apa yang dibacakan oleh pengacara pihak penuntut. Ia benar-benar masih belum percaya dengan garis hidup yang Tuhan berikan untuknya.
"Baiklah, di sini saya akan menyampaikan berita terbaru yang kedua, setelah pengungkapan penemuan kedua korban yang sudah berhasil di temukan dan saat ini sudah di amankan oleh pihak yang berwajib."
Mendengar penemuan kedua, wajah Mbok Nan dan juga Sendi sangat penasaran. Antusias dengan berita yang akan mereka dengar dari mulut sang pengacara. Tentu berita terbaru ini ia dapatkan dari sosok pria yang menemuinya baru saja, yaitu Rafael.
Dua pasang mata yang berada di depan sejak persidangan di mulai saling menatap. Tentu jika satu rahasia sudah berhasil di temukan, mereka akan tahu rahasia apa lagi yang akan terungkap saat ini.
"Kau benar-benar bodoh!" umpat Iwan berbisik di telinga Deni yang juga meliriknya kesal.
"Aku benar-benar menyesal telah mempercayaimu." lanjut Iwan lagi berusaha tenang meski keringat di keningnya berjatuhan sangat deras menahan segala ketakutan yang akan menjadi penentu nasibnya kedepannya.
Di sisi yang berbeda, seorang pria dengan pakaian serba hitam dengan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Ciiiit!!! Suara decitan mobil terdengar mengerem mendadak di kediaman yang tidak begitu luas halamannya.