Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 202. Kedatangan Gadis Kecil


__ADS_3

Usai jam makan siang, semua masih duduk di kursi meja makan masing-masing. Makanan yang begitu banyak terhidangkan habis tanpa tersisa. Sungguh nikmat kebersamaan keluarga hari ini.


"Oh iya semuanya. Maaf, sepertinya saya dan Wuri harus pergi lebih dulu, Tuan WIlson dan Nyonya Tarisya." tutur Sarah membuka pembicaraan.


"Loh kenapa kok buru-buru?" tanya Tarisya yang mengernyitkan keningnya begitu juga dengan yang lain.


"Ini kami ada keperluan sedikit di luar. Iya kan Wuri?" Sarah menatap sahabat di sampingnya dan Wuri menganggukkan kepalanya cepat.


"Iya, kami ada janji dengan teman di luar." ucapnya.


"Baiklah. Tidak masalah. Kalian mau di antar? ada Jeff dan juga Berson di sini." Tuan Wilson pun menawarkan untuk kedua putranya mengantar mereka pergi.


"Hehehe...tidak usah Tuan. Kami di jemput kok."


"Permisi," tiba-tiba saja suara lembut terdengar di tengah pembicaraan mereka di meja makan.


Semua menoleh ke arah pintu utama, masih tak terlihat sosok yang baru datang bertamu itu.


"Suruh dia masuk, Dina." titah Tarisya pada sang menantu karena melihat Dina yang lebih mudah menjangkau ke arah pintu.


Setelah Dina melangkah mendekat ke arah pintu, kini ia kembali dengan wanita cantik bermata sembab itu.


"Kau," Dava berdiri seketika melihat kehadiran gadis kecil yang baru bertemu dengannya beberapa hari lalu.


Anjani hanya tersenyum dengan yang lain tanpa menghiraukan sosok Dava. "Maaf semuanya. Saya mengganggu." ia menangkupkan kedua tanganya di depan dada.


"Tidak, Nak. Tentu saja tidak. Ayo kau ingin makan siang bersama kami?" Tarisya tersenyum dan menyambutnya dengan sangat ramah.


"Bunda, makanannya kan sudah habis semua." Sendi yang melihat sang bunda tidak sadar jika di depan mereka kini semua piring sudah kosong hanya ada sisa kuah-kuah dari sayuran.


Tarisya pun seketika tersadar saat melihat ke arah depannya. Lalu ia tersenyum malu. "Oh iya, baiklah kalau begitu kau ingin makan apa? Biar kami siapkan terlebih dahulu?"


"Sudah Ibu, tidak perlu repot-repot. Saya kemari hanya ingin menjemput Tante dan Ibu." Anjani tersenyum sangat manis.


Dan senyuman itu membuat Ruth menatap bergantian antara Dava dan juga gadis di depan sana.

__ADS_1


"Apa? Tante dan Ibu? Sejak kapan mereka jadi akrab seperti itu? Tidak. Ini tidak bisa di biarkan, bisa saja wanita ini salah satu orang jahat yang ingin mencelakai keluargaku. Bagaimana bisa aku melupakannya berhari-hari sih? Seharusnya saat itu aku segera membawanya kembali ke rumahnya tanpa meninggalkannya di rumah." Dava menggerutu kesal. Ia sangat takut jika Anjani bukanlah wanita baik-baik dan memiliki maksud tidak baik pada kedua wanita yang ada di rumah itu.


"Bu, boleh saya tahu kalian ingin pergi kemana?" Dava menatap penuh curiga pada sosok Anjani yang masih berdiri di sana sejak tadi.


"Kami hanya duduk-duduk di kafe saja kok, Saya ingin bercerita dengan mereka." Anjani menjawab tanpa rasa takut dengan tatapan mata tajam Dava.


"Mereka sudah tua. Tidak nyaman bukan jika duduk di tempat seusia kalian para bocah." ketus Dava.


Lagi-lagi perdebatan itu membuat Ruth bertanya-tanya ada hubungan apa mereka sebenarnya? itulah yang ada di dalam pikirannya.


"Dav, ayolah. Dia sedang banyak masalah. Ibu hanya ingin mendengarkan ceritanya." Sarah merasa kasihan dengan Anjani karena mendapatkan perlakuan tidak ramah dari sang anak.


"Justru itu, Bu. Saya tidak ingin kalian ikut terkena masalahnya. Gadis ini masih sangat labil." tunjuk Dava yang sangat tegas. Ia takut jika sampai sang ibu terseret-seret masalah orang lain.


"Dav, percaya dengan Ibu." Sekali lagi Sarah membujuk sang anak dengan suara lemahnya.


Akhirnya Dava kembali duduk di kursi meja makan dengan tatapan kosongnya. Ia pun menganggukkan kepala membiarkan sang ibu pergi dari rumah itu.


"Semuanya, kami duluan." Sarah dan Wuri berpamitan pada semua yang ada di sana.


"Mah, itu siapa sih? Kok cantik yah?" celetuk Putri yang melihat senyuman Anjani sangat cantik.


"Putri, dia hanya orang asing." Dava bersuara datar.


Ruth hanya menatap wajah Dava yang juga menatapnya saat ini. Tak ada perbincangan lagi yang terdengar saat ini. Hanya suara piring dan barang lainnya yang terdengar saling bersentuhan pelan kala Mbok Nan mulai membereskan barang di meja makan itu.


Usai kepergian ketiga wanita itu, Tuan Wilson pun meminta sang istri untuk membawanya kembali ke kamar.


"Sya, aku sangat mengantuk." ucap Tuan Wilson lirih.


Dengan sigap, Tarisya beranjak dari kursi meja makan itu lalu mendorong kursi roda sang suami menuju kamar.


"Kalian semua istirahatlah. Karena besok akan kembali ke kantor." tutur Tuan Wilson sebelum ia benar-benar pergi ke kamar.


"Baik, Ayah." jawab semuanya dengan serentak.

__ADS_1


"Ayo, Putri bareng Mbok Nan istirahatnya." dengan patuh bocah kecil itu menurut dan meninggalkan meja makan bersama dengan Mbok Nan.


Ia tahu saat ini sang mamah sedang butuh banyak istirahat karena mengingat perkataan Mbok Nan, jika sang mamah akan melahirkan dalam waktu dekat ini.


"Ayo kita istirahat." Giliran Sendi yang pergi bersama dengan Dina.


Tersisa dua orang di ruangan makan saat ini.


Ruth dan Dava saling menatap dalam diam.


Beberapa saat berlalu, akhirnya Ruth mendorong bokongnya untuk menggeser kursi lalu berbalik bada usai berdiri.


"Tunggu!" Dava menghentikan langkah Ruth saat itu juga.


Namun ia melihat, Ruth masih enggan membalikkan tubuhnya.


"Katakan." ucapnya tanpa mau menatap wajah Dava yang kini masih berdiri mematung.


Pelan namun pasti, langkah kaki Dava terdengar mendekat ke arahnya.


"Dav," suara lirih Ruth kala merasakan pelukan yang tiba-tiba saja menghangatkan punggungnya saat itu.


"Aku mohon jangan melawan. Aku ingin merasakan kehangatan ini sejenak. Setidaknya aku bisa mengingat ini saat jauh darimu." Dava bahkan memejamkan matanya meresapi setiap hembusan nafas wanita yang ia cintai itu meski dari belakang, aroma itu jelas tercium dengan tajam.


Dengan patuh, Ruth hanya berdiam diri tanpa membalas pelukan Dava. Ia tak ingin menatap wajah yang selalu menjatuhkan air matanya itu.


"Sampai saat ini apa kau tidak merasakan apa pun di perutmu? Apa anak kita baik-baik saja?" tanya Dava yang beralih melepas pelukan dan memutar tubuh Ruth. Ia mengusap perut buncit itu. Berjongkok lalu mencium perut yang berisi buah cintanya.


"Ayah sangat tidak sabar melihatmu, Sayang. Jadilah anak yang pintar dan kuat. Ayah akan terus berada di dekatmu sekali pun kita berjauhan. Jangan menyusahkan Mamah, Nak." sekali lagi Dava mengecup puncak perut buncit itu.


Ia berdiri dan mengusap kedua pipi Ruth yang terasa memanas. Mata cokelat yang terlihat indah seketika menjadi memerah menahan kesedihan di dalam sana.


"Istirahatlah," pintah Dava pada Ruth, dan ia melangkah meninggalkan mantan istrinya dan calon anaknya itu ke kamar miliknya sendiri.


Ruth menutup matanya sekilas dan jatuhlah kembali air mata yang sekuat tenaga ia tahan sedari tadi. Tanpa berkata apa pun Ruth berjalan ke arah kamarnya dan memeluk guling yang ada di kasur empuk itu.

__ADS_1


Ia menangis sangat sedih, meski tak ada suara yang ia keluarkan, tapi di hatinya terasa begitu sesak. Entah mengapa setiap kali Dava bersikap baik dan lembut padanya, hal itu akan semakin membuatnya merasakan sakit yang luar biasa.


__ADS_2