Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 177.


__ADS_3

Di sebuah rumah sakit kini terlihat sosok pria tampan dengan wajah yang sudah bermandikan keringat usai meminta pertolongan pada pihak rumah sakit.


"Baiklah...sebaiknya aku harus segera menghubungi Bi Nan. Siapa tahu mereka sudah sampai juga di rumah sakit." batinnya sembari merogoh ponsel di dalam saku celana.


Belum sempat sambungan telepon itu terhubung, seorang suster sudah menyapanya kembali.


"Maaf, Bapak. Pasien di dalam mencari anda."


"Loh tapi saya bukan suaminya, Suster. Saya hanya menolongnya saja. Saya ada urusan penting ini...istri saya juga mau melahirkan." wajah Wilson tampak mengernyit heran.


"Tapi pasien yang memintanya, Bapak. Saya hanya menyampaikannya saja. Kemungkinan beliau hanya ingin mengucapkan terimakasih saja." ujar suster mencari pembelaan.


Dengan berat hati, Wilson pun melangkah masuk ke dalam ruangan bersalin yang memang pada saat itu masih belum berjalan proses persalinannya.


"Dokter, bisa tinggalkan saya berdua dulu dengan Bapak ini?" tanya wanita itu dengan lemah.


Keringat tampak mengucur deras di dahinya.


Sang Dokter pun menganggukkan kepalanya dan berlalu pergi dari ruangan tersebut.


Tinggallah Wilson berdua dengan wanita asing itu. "Maaf, saya hanya menolong tidak bermaksud apa-apa pada anda." sekali lagi ia menjelaskan pada wanita itu setelah pada sang suster. Ia sangat takut jika menjadi prasangka buruk oranglain. Selama ini cintanya begitu ia jaga sepenuh hati untuk sang istri.


Senyuman di wajah wanita itu tampak teduh. Ia merasa terhibur dengan ucapan pria di depannya saat ini.


"Tuan...terimakasih telah menolongku. Tapi...bolehkah aku meminta sekali lagi pertolongan darimu?" tanyanya lemah dengan penuh permohonan.


Kening pria itu mengernyit dalam. Perasaan gelisah semakin mengganggu ketenangan dalam dirinya. "Minta tolong? Maafkan saya. Saya hanya orang biasa tidak bisa terlalu banyak menolong orang lain. Bahkan keluarga saya pun hidup pas-pasan."


"Di dalam tubuhku, ada satu penyakit. Jika memang janin ini yang selamat, itu pertanda tubuh ini yang kalah. Aku tidak meminta banyak darimu pertolongan. Aku hanya meminta tolong jika janin ini selamat dan aku tiada, aku mohon bawalah anakku hidup di tempat yang aman. Tunjukkan dia tempat tinggal di panti asuhan jika anda tidak sanggup mengadopsinya." Mendengar penuturan gila itu sontak saja mata pria ini begitu membulat sempurna karena terkejut.

__ADS_1


"A-apa? itu tidak mungkin. Saya hanya berniat menolongmu sampai di sini saja. Istriku juga sedang dalam perjalanan untuk melahirkan. Sekarang saya harus segera pergi."


Belum sempat kaki itu melangkah pergi, teriakan dari sosok wanita di depannya sudah memenuhi ruangan bersalin. Rasa sakit itu kembali menyerang tubuhnya. Ia berteriak hingga membuat semua tim medih segera masuk ke dalam ruangan.


"Bapak, sebaiknya anda keluar. Biarkan kami menangani dengan baik." pintah Dokter pada Tuan Wilson.


Akhirnya ia memilih keluar sementara hati dan pikirannya kembali gundah. Apa yang harus ia katakan pada sang istri saat ini? bagaimana mungkin mereka mengambil anak orang lain yang tanpa ia kenal sama sekali. Sementara ada anak mereka yang juga akan lahir sebentar lagi.


Tring Tring Tring


Suara dering ponsel pun mengejutkannya seketika.


"Halo, Bi." sahut Wilson dengan cepat.


"Tuan, sekarang kami ada di depan rumah sakit. Ini mau masuk." ucap Bi Nan dari seberang sana dengan terbata-bata karena gugup mendengar teriakan sang majikan yang terus merintih kesakitan.


Tak perduli dengan banyaknya orang yang tertabrak oleh tubuh tingginya.


Singkat cerita, kini ia pun sudah berada di ruang bersalin bersama Mbok Nan.


"Bapak, silahkan tunggu di luar, Kami harus memeriksa keadaan istri anda terlebih dahulu." sang Dokter mempersilahkan semuanya untuk keluar dari ruangan tersebut.


Mbok Nan dan Tuan Wilson hanya bisa menunggu di depan ruangan saat ini dengan wajah penuh ekspresi gelisah.


Mondar mandir beberapa menit, tak membuatnya bisa tenang sedikit pun.


Ceklek! pintu terbuka dengan wajah Dokter yang terlihat pias.


"Maaf, Tuan. Keadaan janin sudah tidak bisa di selamatkan. Kami sudah memeriksanya terlebih dahulu dan detak jantungnya sudah tidak ada." terang sang dokter merasa sedih.

__ADS_1


Air mata di kedua bola mata Wilson seketika jatuh begitu saja. Ia tercengang mendengar penuturan sang dokter yang tidak bisa membuatnya percaya begitu saja.


"Hehehe...anda ini bicara apa, Dokter? Bagaimana mungkin itu terjadi? Istri saya sedang bertaruh di dalam sana dengan rasa sakit, anda bilang anak saya sudah tidak memiliki detak jantung? Bagaimana mungkin?" wajahnya tertawa mengejek. Merasa jika dokter tersebut sedang mengerjainya.


"Air ketuban sudah mengering, namun kami harus tetap melakukan operasi saat ini, Tuan. Janin sudah tidak bisa di selamatkan mengingat air ketuban sudah tidak ada sejak beberapa saat sebelum sampai di rumah sakit di iringi keluarnya banyak darah dari jalan kelahirannya." Dokter itu menjelaskan kembali dengan penuh rasa sabar.


Ini adalah bukan pertama kalinya ia harus menghadapi keluarga pasien yang mengamuk padanya karena tidak berhasil melakukan kerja dengan baik.


"Tidak, tidak Dokter. Anak saya tidak mungkin tiada." Wilson menggelengkan kepalanya terus menerus tanpa bisa mempercayai ucapan sang dokter.


"Maafkan kami, Bapak. Mohon persetujuannya segera mungkin untuk melakukan tindakan operasi. Karena kami tidak punya waktu banyak, jika lambat bisa saja nyawa sang ibu juga akan menjadi taruhannya." Bagai terhantam batu kedua kalinya, kepanikan dan rasa takut yang teramat sangat membuat Wilson seketika terkejut bukan main.


"Segera! Segera lakukan apa pun yang terbaik, Dokter. Saya mohon, saya tidak sanggup jika istri saya juga harus pergi, Saya mohon Dokter," ia meraih kertas yang berikan suster padanya dan menandatangi surat itu segera mungkin.


Usai mendapatkan persetujuan, tim medis pun segera bergerak menuju ke dalam ruangan bersalin untuk membawa pasien ke ruang operasi. Terlihat keadaan Tarisya yang sudah tidak sadarkan diri. Wajah pucat dan bengkak membuatnya terlihat begitu asing di mata sang suami.


Saat brankar pasien di dorong, Wilson hanya bisa ikut mendorong brankar itu dengan tetesan air mata yang terus membanjiri wajahnya. Ia sungguh tidak kuat melihat istrinya akan histeris jika mengetahui anak yang telah lama mereka impikan akan kembali pada sang maha kuasa tanpa sempat ia lihat wajahnya.


"Sya, kamu baik-baik saja kan, Sayang? Kamu tidak akan meninggalkanku juga, kan?" tanya Wilson di sela langkahnya yang terasa begitu tak berdaya kala mengantarkan sang istri ke ruang operasi.


"Tuan, yang sabar. Nyonya pasti akan baik-baik saja. Maafkan saya, Tuan." Mbok Nan ikut menyesali karena dirinya tak cepat membawa majikannya ke rumah sakit. Andai ia segera bergerak cepat mungkin bayi yang ada di dalam kandungan itu tidak akan meninggal.


"Ya Allah...aku berjanji, apa pun yang terjadi kedepannya aku tidak akan meninggalkan keluarga Tuan dan Nyonya. Aku akan menebus kelalaianku ini dengan seluruh nyawaku, Ya Allah." batin Mbon Nan yang begitu penuh sesal.


Wilson yang tak di perbolehkan masuk tampak terduduk di depan pintu dengan memeluk tubuhnya sendiri. Air mata terus berjatuhan tanpa bisa ia hentikan lagi.


Beberapa menit berlalu hingga hampir satu jam lamanya, akhirnya pintu ruang operasi terbuka juga. "Dokter, bagaimana istri saya, Dok?" ia berdiri dengan mengusap wajahnya yang banjir air mata.


"Syukurlah istri anda baik-baik saja dan dapat di selamatkan. Untung saja kita bisa bertindak lebih cepat. Sekarang pasien masih belum sadar, dan masih harus menjalani perawatan intens terlebih dahulu karena banyaknya darah yang keluar. Dan...untuk janinnya, maafkan kami, Pak. Sesuai dengan perkataan saya di awal bahwa janinnya tak bisa di selamatkan." terang Dokter panjang lebar.

__ADS_1


__ADS_2