
Suasana malam yang sangat menyenangkan, seluruh kursi di meja makan sudah hampir terisi penuh. Hanya dua kursi yang sedari dulu tak pernah bergerak untuk membuka tempat bagi siapa pun.
Dua kursi yang saling bersampingan terliha sangat penuh dengan harapan. Harapan yang tak akan pernah bisa terjadi.
Kedua netra cokelat itu terdiam mengarahkan pandangannya pada dua kursi yang tak lain adalah tempat kedua orangtuanya selalu berada.
Ruth menoleh dan tersadar dari lamunannya saat tangan dingin itu terasa hangat di selimuti oleh genggaman tangan yang besar. "Ayo makan,"
Ruth melihat wajah sang suami yang sudah tersenyum hangat padanya. Dava selalu memberikan keteduhan di hatinya tanpa kenal lelah sedikit pun.
Sementara di depan mereka, Sendi hanya menatap piring di hadapannya tanpa mau melihat apa yang terjadi di depannya.
"Perut laparku jadi enek begini rasanya..." gerutu Sendi mengaduk-aduk makanan di piringnya.
"Baiklah, aku ambilkan makanan dulu." jawab Ruth membalas senyuman sang suami kemudian bergegas meletakkan beberapa lauk di atas piring sang suami.
"Hihihi..." Putri yang menutup mulutnya tampak membuat semuanya menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Putri, kenapa tertawa cekikikan seperti itu, Sayang?" Dava pun bertanya karena rasa penasarannya.
Yang ia tahu semuanya normal tidak ada yang aneh yang bisa di tertawakan sedari tadi. Putri melambai-lambaikan tangannya di udara seraya menggelengkan kepala.
"Tidak, Paman. Putli cuman lucu aja...Om Sendi pasti juga mau di ambilin makan sama Mamah yah? Makanya dari tadi liatin Mamah sama Paman telus hehehe..."
Sendi menoleh dan tetap berwajah datar. Ia tidak tahu harus berekspresi seperti apa saat ini. Ruth bahkan terlihat tersenyum kepadanya dengan lembut.
"Senyuman ini..." batin Sendi menatap dalam sang adik.
Sedangkan Dava terlihat kesal dengan sikap lembut sang istri pada pria lain. "Kak Berson, mau lauk yang mana? biar Ruth ambilkan." ujarnya seraya berdiri dari duduknya lagi setelah melengkapi makanan di piring sang suami.
"Yang itu saja, Ruth. Dan yang itu." Sendi menunjuk tanpa berniat mengambilnya.
Dava terdiam menikmati makanan dengan keheningan. Matanya sesekali melirik kesal pada pria yang duduk di depannya.
"Putri, tolongin Mamah dong." ucap Ruth yang kesulitan ingin meraih makanan di meja makan yang terletak di depan sang anak.
__ADS_1
Putri menatap ke arah sang Paman, di sana ia bisa melihat jelas raut tidak enak pria tampan tersebut. Mata bulat sang bocah bergerak memperhatikan ekspresi Dava dan Sendi bergantian lalu mengangguk pelan.
"Hem...sepeltinya Paman cembulu. Baiklah, bialin aja Om Sendi Putli yang ambilin. Heheheh." Bocah itu begitu cerdas dalam berpikir hingga ia meminta sang Mamah untuk kembali duduk.
"Mamah, sudah. Bialin Putli aja yang ambilin. Kan Mamah nggak nyampe. Mamah temani Paman ganteng aja makan. Okey?"
Ruth terkekeh mendengar penuturan sang anak seraya menggelengkan kepalanya. Sementara Dava yang tadi menekuk wajahnya tampak berubah menjadi berbinar. Sebelah matanya ia kedipkan pada Putri.
Dan Putri membalasnya dengan membentuk jempol mungil bersamaan dengan telunjuk menjadi huruh o. Yang menjelaskan jika ia sukses membantu sang Paman.
"Putri Putri, ada-ada saja kamu yah?" seru Ruth terkekeh dan menuruti permintaan sang anak.
Di sini, Sendi yang hampir saja merasakan kenangan kembali terulang tiba-tiba menekuk wajahnya kesal. Bagaimana mungkin dirinya di layani dengan bocah kecil seperti Putri.
"Ini Om, ada lagi?" tanya Putri dengan sok dewasa tanpa rasa bersalah sedikit pun telah menggagalkan rencana Sendi.
"Em, sudah. Cukup Putri." ucap Sendi menarik piringnya kembali dan memakan makanan yang tersaji di piring tanpa mengatakan apa pun lagi.
__ADS_1
"Huuuh...ku kira jika tinggal satu rumah dan berdekatan bisa membuatku bahagia. Ternyata mereka semua adalah penghalang utama dalam hubunganku dengan Ruth. Bukan hanya keluargaku saja." batin Sendi meneguk kasar air putih untuk mendorong makanan masuk ke dalam pencernaannya kali ini.