Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 66. Belajar Mengikhlaskan


__ADS_3

Di sini, di ruangan yang tampak begitu kacau terdengar suara dua sosok manusia yang terus meracau mengeluarkan kata-kata tidak terdidiknya.


Dina terus mendesah menikmati setiap sentuhan dari seorang Billy. Tangannya yang memiliki kuku panjang terus mencakan punggung pria itu.


Namun, Billy sama sekali tidak menghiraukan hal itu. Ia tampak menikmati permainan yang menurutnya sangat kasar.


"Bil, sakit..." sesekali Dina merintih merasakan hentakan kasar menembus kepemilikannya.


"Bil, ah...sakit!" rintihnya lagi hingga matanya terpejam menahan rasa yang teramat menyiksanya.


Rasa yang mulanya begitu nikmat kini justru berubah menjadi sakit yang luar biasa.


"Jangan manja, Din. Ini sangat nikmat. Kau suka kan?" ledek Billy tersenyum menyeringai.


Yah, sepulang Billy dari klub malam keduanya langsung menjalankan apa yang mereka inginkan. Kebetulan di klub tadi Billy sudah meminum alkohol dalam ukuran cukup banyak.


Matanya yang memerah membuat Dina kini sadar, jika pria itu tengah dalam pengaruh alkohol. Hentakan demi hentakan kasar terus Billy hujamkan hingga Dina menjerit seraya menggetarkan tubuhnya hebat.


"Sakiiittt!!" teriaknya terkulai lemas bersamaan dengan tubuh pria yang menindihnya menegang.


Billy langsung merebahkan tubuhnya ke samping kasur. Ia terlelap tanpa perduli apa yang Dina alami saat ini.


"Hiks...hiks...hiks." Dina menangis memeluk tubuhnya sendiri yang masih tampak polos. Pikirannya malam ini begitu kacau, bagaimana bisa ia berharap akan mendapat ketenangan dengan pertemuannya bersama Billy.


Mereka sama sekali tidak ada ikatan apa pun selain antara pria dan wanita yang saling membutuhkan pelampiasan hasrat.

__ADS_1


Dina merasa area intimnya begitu nyeri, tidak ada kenikmatan yang seperti biasanya ia dapatkan. Hingga buliran air matanya terjatuh dengan derasnya mengingat perlakuan kasar pria itu padanya.


"Sendi...aku merindukanmu." tangisnya meratapi nasib buruk yang menimpanya.


Jika Sendi tak pernah mencintainya, setidaknya Dina selalu mendapatkan kepuasan di atas ranjang dengan sang suami. Sendi sangat baik memperlakukannya dalam berhubungan, berbeda dengan Billy.


Ia menangis, namun seketika matanya membulat saat melihat apa yang baru saja ia sentuh.


Dina sangat syok melihat jemarinya yang ia pandangi saat ini. "Darah? Darah apa ini?" lirihnya bergemetar menahan rasa takut.


Dina menatap murka pada pria di sisinya. "Billy!" teriaknya membangunkan tubuh pria yang baru saja terlelap.


"Bilyy! Bangun! Kau melukaiku." Dina mengguncang tubuh pria itu hingga Billy meracau dengan kesal karena terganggu tidurnya.


Dina sangat ketakutan. Ia tidak mau terjadi apa-apa pada dirinya. "Tidak. Aku tidak mau ada apa-apa dengan diriku. Tidak." Ia panik dan segera memungut pakaian lalu memakainya.


"Perutku...sakit." Dina memegang perutnya sembari berjalan tertatih-tatih.


Tak perduli dengan semua pandangan orang padanya. Namun, semua perjuangannya terasa berat saat pandangan mata itu mulai gelap perlahan.


"Ibu..." lirihnya mengingat sosok wanita yang bisa membantunya.


Tubuhnya ia sandarkan pada mobil yang belum terbuka. Dina meraih ponselnya dan menghubungi sang Ibu.


Sambungan telepon terhubung. "Halo," Suara Wuri dari seberang sana.

__ADS_1


"Ibu...tolong Dina, Bu." Dina tersungkur di lantai parkiran mobil itu.


Di sini, Wuri yang mendengar suara lemah anaknya sangat panik. "Dina, kamu kenapa? Dina katakan dimana kamu sekarang. Ibu akan kesana sekarang."


Dina yang sudah tak sadarkan diri pun menjatuhkan ponselnya.


Wuri yang terus memanggil sang anak, namun tak mendapat jawaban semakin panik di rumah.


"Dina! Dina!"


Teriaknya sembari berlarian kesana kemari mencari para penjaga di rumah itu.


Di sini, Dina yang sudah tak sadarkan diri tidak melihat lagi jika di pangkal pahanya yang tidak tertutupi dengan dress terus memperlihatkan darah segar yang mengucur dengan derasnya.


Suasana parkiran yang cukup sepi membuatnya tak bisa lagi tertolong oleh orang lain. Sedangkan Billy sudah menikmati alam mimpi yang begitu indah setelah mendapatkan pelepasan hasratnya malam itu.


***


Sedangkan di pagi ini, semua sudah tampak segar seperti biasa. Usai berkumpul menikmati suasana pagi di halaman rumah. Semuanya bergegas untuk mandi.


Senyuman di wajah Ruth tak pernah surut sedari pagi, lebih tepatnya sedari malam tadi. Ia begitu bahagia mendapatkan kebahagiaan yang lengkap dalam hidupnya.


Bahkan kasus yang belum usai di persidangan pun tak lagi membuatnya menjadi beban. Baginya semua sudah berlalu, dan ia harus bisa mengikhlaskan kepergian orangtuanya meski dengan cara yang tragis. Setidaknya ada satu anggota keluarga yang tersisa bersamanya, yaitu Berson.


"Ruth, ada apa denganmu?" Sendi bertanya dengan wajah yang ikut tersenyum bahagia melihat wanita yang ia cintai terus mengembangkan senyuman indahnya.

__ADS_1


Ruth menggeleng cepat. Namun bibir itu terus melengkung. "Aku sudah bahagia, Kak. Aku hanya senang saja kita bisa berkumpul di pagi ini dan seterusnya. Aku memiliki Kakak sebagai kakakku, dan Dava sebagai suamiku. Kalian berdua benar-benar adalah orang yang penting bagiku." terangnya seraya mengambilkan makanan untuk sang suami.


"Ruth," Sendi memanggilnya sebelum tangan itu sukses turun meletakkan lauk di piring Dava.


__ADS_2