
Tangisan yang tiada akhir masalahnya kini membawa sosok dua sejoli yang saling tidak ingin melepaskan tampak berjalan gontai ke arah luar kamar. Tangan keduanya tampak menggenggam erat satu sama lain.
Dengan mata sembab dan memerah, Dava menguatkan diri untuk berucap.
"Bunda," sapanya lirih tanpa semangat.
Namun terlihat jelas di genggaman tangannya, ia begitu erat dan menampakkan eskpresinya saat ini yang tidak bisa di artikan dengan kata-kata lagi.
Mendengar suara panggilan sang anak, Tarisya yang sedang berpelukan dengan anak keduanya, Sendi. Segera melepaskan pelukan itu.
"Jeff, Shandy?" sapanya balik dengan wajah tersenyum lembut, meski mata itu tak bisa berbohong ada gurat kekhawatiran kala melihat dua tangan yang saling menyatu.
"Kemari, Nak. Duduk bersama Bunda dan Berson. Ayo..." ia tetap berusaha berpikir positif dan tersenyum begitu tenang.
"Ya Allah semoga mereka tahu batasan mereka saat ini..." doanya dalam hati saat melihat dua anaknya yang berjalan mendekat lalu duduk di sampingnya.
"Ruth, apa kau baik-baik saja?" Sendi bertanya saat tidak tega melihat wajah sembab dan merah sang adik.
Mata Tarisya menoleh menatap Sendi. Ia takut jika dua anak laki-lakinya akan tetap berjuang mencari perhatian dari anak gadinya itu.
Sementara Dava yang sudah menatap tajam Sendi penuh dengan kecemburuan disana.
"Dia baik dan aman bersamaku." tegas Dava tak membiarkan Ruth menjawab pertanyaan Sendi.
__ADS_1
Hanya memutar malas bola mata yang bisa Sendi lakukan saat ini. Ia sangat lelah jika terus berdebat dengan Dava, bahkan seharusnya ia juga memilik hak untuk perhatian pada sang adik sebagai kakak.
"Sudah...sudah. Kalian ini." ucap Tarisya enggan jika anak-anaknya ribut.
Suasana mendadak hening. Tarisya menggerakkan matanya melihat ke arah genggaman tangan yang bergerak semakin erat.
Dua mata cokelat dan hitam saling berpandangan seakan memberikan kekuatan bagi masing-masing. Pelan, Ruth menganggukkan kepalanya pada sang suami.
"Bunda," Dava bersuara lemah tak seperti biasanya yang selalu terdengar begitu tegas.
"Kami...saya dan Shandy memutuskan ingin ke luar negeri secepatnya."
Duar!! Suara sambaran petir di hati Tarisya dan Sendi benar-benar mengejutkan.
Apa lagi yang terjadi hari ini? Tarisya menggelengkan kepala tak percaya. Ia benar-benar seperti sedang di kejutkan dengan beberapa kejutan yang akan menjadikannya senam jantung.
"Jeff, tolong jangan seperti ini membercandai Bunda. Bunda ingin segera kita berbincang hangat. Apakah kalian tidak memimpikan berkumpul seperti ini?" tanyanya dengan kedua bola mata tampak berkaca-kaca namun wajah yang terkekeh tanpa suara.
"Bunda, kami serius. Kami berdua memutuskan untuk tetap mempertahankan hubungan kami. Kami tidak sanggup jika berpisah..." Ruth memperjelas tujuan mereka ingin keluar negeri yang menjelaskan jika hubungan pernikahan mereka akan tetap di pertahankan sampai kapan pun itu.
Seketika air mata pun jatuh di kedua pipi wanita berwajah keriput itu. Ia benar-benar syhock mendengarnya.
"Maafkan kami, Bunda." Ruth segera memeluk sang bunda dan mencium tangannya berkali-kali. Ia tahu betapa berdosanya ia selama ini bahkan sampai bundanya pun kembali, ia masih tetap tidak bisa menjadi anak yang baik.
__ADS_1
"Nak..." Tarisya tetap berusaha kuat menahan sesak dalam dadanya.
"Kalian...adik kakak. Itu tidak boleh di pertahankan. Kalian tahu? itu dosa besar, Shandy...Jeff. Pernikahan kalian harus tetap di akhiri. Bunda mohon, Nak kuatkan iman kalian..." Ia menangis terisak-isak tak sanggup lagi melihat apa yang akan di lakukan anak-anaknya.
"Kami tahu, Bunda. Tapi Shandy tidak kuat menahan sakit ini. Shandy tidak akan sanggup Bunda..." Ruth menangis tersedu-sedu bahkan sesak di dadanya begitu semakin terasa kali ini.
"Bagaimana kalian akan membesarkan anak kalian kelak? Jika kalian saja tidak bisa memberikan contoh pada mereka yang baik?" Tamparan balik terasa begitu keras dengan kata-kata yang Sendi ucapkan pada sosok Dava dan Ruth.
Demi cinta yang begitu berlebihan pada sesama, mereka bahkan tidak memikirkan dampak kedepannya bagi keluarga kecil mereka. Hati dan pikiran sudah benar-benar tertutup bagi sepasang suami istri yang begitu putus asa.
"Aku...aku..." tak bisa berkata apa-apa, Ruth hanya bisa mengatakan hal itu tanpa bisa melanjutkan ucapannya.
Bibirnya bergetar mendengar pertanyaan dari sang kakak kedua.
Di dalam rahimnya ada bayi yang akan siap lahir ke dunia beberapa bulan lagi? Bagaimana jika ia kelak akan tahu bagaimana keadaan orangtuanya yang sebenarnya adalah adik kakak? Itu benar-benar hal yang sangat memalukan tentunya.
"Maafkan kami, Bunda. Maafkan kami. Kami salah." Segera Dava berlutut. Sejenak pikirannya pun kembali sadar dengan ketidak baikannya dalam mengambil keputusan.
"Bunda tidak ingin anak-anak Bunda tersesat, anakku..." ia menangis memelu Ruth dan juga Dava bersamaan.
"Jeff salah, Bunda. Jeff tidak akan melanjutkan keputusan itu. Bunda jangan menangis lagi," Dava berbicara dengan begitu lembut.
Ia begitu tidak sanggup melihat tangisan sang bunda. Sementara permohonan sang istri yang tetap melanjutkan pernikahan mereka hingga memilih hidup di luar negeri akhirnya di hentikan oleh Dava. Ia sadar rasa cintanya membuat dirinya tidak bisa bersikap tegas dengan sang istri sekaligus sang adik.
__ADS_1