
"Ruth! Sayang, bertahanlah!" Di sini Dava terlihat sangat cemas saat melihat ekspresi wajah sang istri yang sangat lemas sekali.
"Dav, aku baik-baik saja." sahut Ruth memberikan senyuman di bibirnya dengan sekuat tenaga.
Ia begitu tidak tega melihat sang suami mencemaskan keadaanya. Sedangkan kini mereka baru saja sampai di pelabuhan. Masih harus menaiki mobil beberapa menit untuk menuju ke rumah sakit.
"Oke. Jangan banyak bergerak sayang. Kita akan segera sampai di rumah sakit." Dava memanggil taksi untuk mengantarkan mereka ke rumah sakit.
"Pak!!" teriaknya melambaikan tangan.
Mual, pusing, lemas, terasa begitu menyiksa wanita bermata cokelat ini. Ruth sama sekali tidak sanggup untuk tetap bersikap baik-baik saja di depan sang suami.
"Apa benar ini karena hamil? Tapi...kenapa sangat menyiksa sekali?" batinnya bertanya-tanya. Sebab ini adalah pengalaman pertama baginya dan tidak pernah mendengar banyak seputar kehamilan dari orang-orang dewasa.
Kepergian sang Ibu yang begitu cepat, membuat Ruth tidak begitu banyak mendengarkan kisah-kisah menarik seputar wanita dari sang Ibu.
__ADS_1
Seketika, bayangan wajah wanita yang ia rindukan terlintas di dalam benaknya saat menikmati perjalanan singkat menuju rumah sakit.
"Bunda, jika benar aku hamil...seharusnya masa-masa hamil pertamaku ini akan mendapatkan bimbingan darimu. Betapa bahagianya kau jika mendampingiku bersama dengan suami sebaik Dava, Bunda." batin Ruth berharap sosok Bundanya akan datang menemani masa kehamilannya saat ini.
Meski semua terasa tidak akan mungkin pernah terjadi. Orang yang sudah di kubur tentu tidak akan pernah bisa kembali hidup. Terlebih dalam hitungan waktu yang cukup lama.h
"Sayang, Ruth. Apa kau baik-baik saja? apanya yang sakit? Bertahanlah sayang. Pak tolong di lajukan mobilnya." Dava berucap dengan cemas pada sang istri kemudian menatap sang supir taksi di depan untuk menambah kecepatan kendaraan mereka.
"Baik, Tuan." sahut sang supir dengan patuh.
Di sini, Dava sudah menunggu hasil dari pemeriksaan sang Dokter setelah membiarkan istrinya di periksa di dalam.
"Dokter. Bagaimana istri saya, Dok?" tanyanya dengan tak sabaran.
Tidak asing lagi, bagi seorang dokter melihat wajah yang penuh kecemasan bagi suami yang mendapatkan pengalaman pertama untuk menjadi seorang ayah.
__ADS_1
Dokter itu tersenyum usai mengangguk sekali. "Tuan, istri anda positif hamil setelah kami melakukan pengecekan lebih detail..."
"Hamil Dokter? Ah...akhirnya aku menjadi ayah!" Dava mengusap kasar wajahnya yang begitu bahagia mendengar penuturan sang Dokter.
"Tapi kedaan pasien saat ini sedang mengalami darah rendah, Tuan. Karena itu, keadaannya sangat lemas."
"Lalu apa yang harus saya lakukan sekarang Dok?" Dava antusias mendengar ucapan sang Dokter kali ini.
Bagaimanapun, ini adalah anak pertamanya. Ia tidak ingin lalai dalam menjalankan tugas sebagai seorang ayah, sedikit pun.
"Untuk sementara waktu, istri anda harus mendapatkan perawatan di rumah sakit, Tuan. Mengingat keadaan janin masih sangat lemah. Jika dalam dua atau tiga hari keadaan istri anda membaik. Kita bisa melakukan pengontrolan setiap bulan saja. Dan saya akan berikan vitamin sebagai penguat janinnya." tutur Dokter mengatakan dengan jelas.
Dava terdiam saat mendengar sang istri harus di rawat. Bagaimana mereka akan pulang cepat jika keadaan Ruth saat ini sedang tidak baik-baik saja.
Jika ia memaksakan keadaan, nyawa sang anak akan menjadi taruhannya kali ini.
__ADS_1