Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 63. Putri Keras Kepala


__ADS_3

Dentingan sendok dan piring kini terhenti kala semua yang duduk di meja makan tersebut telah merasa kenyang dengan hidangan makan malam yang Mbok Nan sudah sediakan atas perintah Ruth, sang majikan.


Suasana kembali begitu hening, dan Dava yang melihat tatapan Sendi pada sang istri merasa tidak terima jika memberinya waktu untuk menikmati wajah ayu sang istri.


Dava merangkul pundak sang istri dengan mesra. Ruth menoleh ke samping menatapnya.


"Ayo kita istirahat. Keadaanmu-"


"Tapi, Dav..."


"Sssst. Kamu masih harus banyak istirahat. Ayo aku antar." Dava tetap bersikukuh membawa sang istri meski di awal mendapat penolakan.


Ruth mengangguk setelah menatap sekilas sang kakak yang juga menatapnya.


"Kak, Kakak beristirahatlah. Kakak juga belum begitu pulih. Selamat malam." Ruth beranjak dari tempat duduknya dengan rangkulan mesra sang suami.


Dava menuntun sang istri menuju kamar mereka tanpa memperdulikan Sendi yang menatapnya dengan tatapan yang tak bisa di artikan lagi.

__ADS_1


Jelas terlihat jika mata hitam itu tampak berkaca-kaca menyaksikan pinggang wanita yang dulu begitu posesif ia jaga jaga kini berada dalam rangkulan pria lain.


Ia pejamkan sejenak matanya. "Mengapa cinta begitu menyakitkan? Haruskah aku melihat kebahagiaanmu bersama pria lain sepanjang hari, Ruth? aku tidak tahu sampai kapan aku akan sanggup jika seperti ini?"


"Tuan, mari Mbok antar ke kamar." Mbok Nan berucap dengan sangat sopan.


Namun Sendi yang melamun sedari tadi sampai terkejut dengan sapaan tersebut.


Di tatapnya wajah wanita tua renta itu. "Tidak, tidak usah, Mbok. Saya bisa pergi ke kamar sendiri."


Sendi pergi dari meja makan tanpa mengatakan apa pun lagi. Namun, langkah tak berdaya itu terhenti kala mendengar teriakan sosok bocah yang sudah bisa di tebak jika itu adalah Putri.


Sendi menghentikan langkah dan berbalik menatap bocah menggemaskan di hadapannya. Pipi gembul yang kini semakin penuh dengan makanan begitu lucu.


Putri menengadah menatap pria jangkung di hadapannya. "Ada apa, Putri?" tanya Sendi acuh.


"Om Sendi janan ganggu-ganggu Mamah yah? Kalo Om ganggu Mamah, nanti Putli suluh Mbok Nan temanin Om Sendi bobok." ancamnya sembari bersedekap dengan wajah songongnya.

__ADS_1


Sendi mendelik mendengar penuturan sang bocah. "Apa katamu?" tanyanya memastikan indera pendengarannya tidak terganggu.


"Malam ini Om Sendi nggak boleh kelual kamal. Putri nggak mau yah Paman ganteng nggak jadi cinta-cintaan sama Mamah gala-gala Om Sendi gangguin. Tititk!"


Mbok Nan yang mendengarnya dari arah belakang Putri sampai terkekeh. "Ya Allah Putri...kamu ini siapa yang ngajarin ngomong begitu, Nak? Om Sendi ini Paman Putri loh. Jangan galak seperti itu lagi yah?" Mbok Nan mengusap pucuk kepala bocah tersebut dengan penuh kelembutan.


Putri menggelengkan kepalanya kuat dan menengadah menatap Mbok Nan. "No. Om Sendi kan jahat sama Putli, Mbok. Jadi Putli nggak akan dukung Om Sendi sama Mamah. Mamah cocoknya sama Paman ganteng." celotehnya kekeh mempertahankan keinginannya.


Mbok Nan merasa sungkan dengan Sendi. "Tuan Sendi, maafkan Putri, Tuan. Silahkan beristirahat di kamar. Putri biar Mbok saja uang urus." tuturnya mempersilahkan Sendi berlalu pergi dari hadapannya.


Sendi yang sedari tadi terdiam, ia sadar dengan sikapnya di masa lalu. Seandainya ia tahu akan seperti ini, tidak mungkin dirinya mengacuhkan bocah mungil yang bertutur kata seperti orang dewasa itu dulu.


Sendi pergi ke kamar dan menutup pintu kamarnya.


Tersisa Putri dan Mbok Nan di depan kamar Sendi.


"Ayo cuci mulut dan sikat gigi, Mbok temani." ajak Mbok Nan hendak meraih tangan mungil itu.

__ADS_1


"Putli nggak mau, Mbok. Putli halus jagain Om Sendi di cini. Pokonya Putli halus bantu Paman ganteng jagain Mamah." Mbok Nan sampai memiijat keningnya yang terasa pening menghadapi keras kepalanya Putri kali ini.


__ADS_2