Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 292. Penyatuan Kilat


__ADS_3

Kini semula kamar yang begitu rapi berubah menjadi kamar yang berantakan. Seluruh selimut yang terlipat dengan rapi dan kasur yang bersih mendadak menjadi berhambur. Suara erangan panjang dari kedua tubuh yang menyatu kini terdengar memenuhi kamar bayi yang berisi orang dewasa itu.


Dava tak bisa mengendalikan diri usai mengantarkan sang anak pada Mbok Nan yang berada di dapur saat itu. Tak perduli pula pada pakaian yang sudah tampak rapi di tubuhnya siap menemani hari ini di kantor, Dava sudah melenyapkan semua penghalang di tubuhnya dan memakan sang istri yang begitu ia rindukan sebulan ini.


Tubuh polos keduanya sudah bermandikan dengan keringat yang membasahi tempat tidur sang anak. Entah bagaimana cara selanjutnya mereka menghilangkan jejak percintaan itu. Yang jelas saat ini hasrat yang menggelora usai sudah mereka lampiaskan.


Bahkan wajah cemberut dan bibir mengerucut tak lagi bisa terlihat di wajah cantik Ruth. Wanita itu benar-benar sampai pada puncak kenikmatan yang sangat dahsyat.


"Maafkan aku..." ucap Dava mengecup kening sang istri yang basah oleh peluh.


Di bawah sana, bibir pink milik Ruth melengkung tersenyum.


"Untuk apa meminta maaf, Dav?" tanyanya dengan suara yang masih sulit terdengar jelas. Napasnya masih naik turun karena kelelahan akibat pertempuran panas itu.


"Iya, karena aku sudah melupakan hal itu. Padahal selama ini kita berdua menunggu waktunya tiba. Tapi saat itu tiba justru aku melupakannya." jawabnya merasa bersalah telah membuat sang istri kecewa padanya.

__ADS_1


Tangan lentik itu bergerak mengusap peluh di kening pria yang masih berada di atas tubuhnya saat ini. Terasa di bawah sana, Dava masih memaju mundurkan tubuhnya merasakan sisa-sisa kenikmatan yang masih ingin ia ulangi.


"Tidak masalah, aku yang terlalu kekanakan. Maafkan aku juga yah? Aku terlalu merindukan tubuhmu..." tuturnya dengan wajah malu-malu.


Tatapan mata Dava begitu sendu, seakan ada hasrat yang menuntut untuk mereka lakukan lagi. Perlahan tatapan mata pria itu mendekat dan ingin kembali menyantap bibir manis di bawahnya. Namun sayang, semuanya terhenti kala terdengar suara dari luar kamar.


Tok Tok Tok


"Non Ruth! Bi Si, dimana ibunya Tuan muda Rava?" suara khas Mbok Nan jelas terdengar di teling kedua suami istri yang tengah di mabuk gairah itu.


Saat itu juga, kedua pasang mata mereka saling bertemu. Dava menatap bingung begitu pula dengan sang istri.


"Dav, itu Mbok Nan. Bagaimana ini?" Ruth melihat tubuhnya yang masih sama-sama polos dengan sang suami.


"Oek oek..." tangisan baby Rava semakin terdengar kencang kala itu.

__ADS_1


"Ayo kita bersihkan tubuh dan segera pakai baju." pintah Dava langsung mencabut miliknya seketika.


Keduanya kebingungan di dalam kamar itu. "Dav, bagaimana ini? tidak ada apa pun di sini." Ruth tampak kebingungan mencari kain untuk menutup tubuhnya.


"Ayo ke kamar mandi dulu. Setelah itu baru pakai baju cepat." Dava menarik tangan sang istri tanpa banyak kata.


Keduanya pun bergerak tergesa-gesa ke dalam kamar mandi. Menyiram peluh dan segera keluar lagi.


Tak perduli di luar sana Mbok Nan terus mengetuk pintu kamar sang majikan karena baby Rava terus saja menangis.


Setelah pergerakan cepat, kini pintu kamar baby Rava pun terbuka sempurna.


Semua mata para asisten rumah tangga serta Mbok Nan langsung tertuju ke samping. Dimana kamar baby Rava yang di tempati kedua orangtuanya terbuka saat ini.


"Ada apa, Mbok? Rava nangis yah?" Ruth berusaha mengelap pelu di keningnya sementara suaranya begitu jelas terdengar memburu.

__ADS_1


Ruth dan Dava mengatur napas sebisa mungkin saat ini.


__ADS_2