
Keadaan yang semula sangat haru di ruangan rawat Ruth pagi itu, kini berubah menjadi ramai. Kedatangan sang bunda bersama dua orang yaitu Sendi dan Dina membuat Ruth tak bisa berbuat apa-apa dengan Dava.
Menyesali perbuatan yang baru saja ia lakukan pada mantan suami adalah hal yang hanya bisa ia pendam. Jelas terlihat wajah Dava yang memerah merasakan sakit di bokongnya saat ini.
"Kalian bertengkar? Kenapa Jeff sampai kesakitan seperti itu, Shandy?" tanya Tarisya yang kini di urut belakangnya oleh sang menantu di kursi rofa yang ada di ruangan rawat tersebut.
Ruth terdiam menatap sang bunda. Ia tidak mungkin jika mengatakan yang sebenarnya dan hanya sebagian cerita saja. Bagaimana reaksi sang bunda jika ia menceritakan semalaman mereka tidur satu tempat tidur? Rasanya sungguh tidak mungkin.
Dava yang melihat wajah Ruth bingung segera berucap, "Ini tidak ada hubungannya dengannya, Bunda. Saya yang terjatuh saat ingin membantu Ruth untuk bangun tadi. Em...itu, yah kakiku tersandung kaki ranjang, Bunda." sahut Dava berkilah saat mencari sesuatu yang akan menjadi alasannya jatuh.
"Hem...baiklah. Bunda sengaja pagi-pagi kesini mau membawakan sarapan untuk kalian. Dan ini, Shandy. Bubur untuk mu. Ini sangat bagus untuk calon cucu Bunda." Dengan cekatan Tarisya bangun dan membuka satu demi satu rantangan yang baru saja Dina letakkan di meja nakas.
"Bunda, bagaimana keadaan Putri?" Ruth begitu merindukan anak perempuannya. Baru beberapa saat saja ia di rawat di rumah sakit, rasanya sudah seperti sangat lama.
Celotehan tumpis sang anak membuat hari-harinya seperti berwarna. Meski terkadang Putri pun sedih saat melihat air mata sang mamah, tapi tak pernah ia putus asa untuk tetap menghibur sang mamah.
"Dia baik-baik saja. Tadi pagi sempat menangis ingin ikut kemari. Tapi Bunda berhasil meyakinkan dia untuk tetap pergi sekolah." Tarisya melihat senyuman di wajah Ruth saat mendengar kabar Putri baik-baik saja.
Seperti yang ia duga, jika Putri akan sangat merindukannya dan merasa kehilangan sosok mamah yang selalu mendengarkan keluh kesahnya tentang kisah di sekolah.
"Jangan khawatirkan dia, Nak. Putri anak yang pintar. Dia tidak akan melupakanmu sebagai ibu yang sudah menyayanginya dengan tulus. Segeralah sembuh dan kembali ke rumah." Tarisya mengusap kepala anak perempuannya itu dengan penuh cinta.
Ruth mengangguk sedih. Ia ingin sekali segera pulang ke rumah dan menemani Putri bermain dan sebagainya.
"Aku ingin pulang sekarang, Bunda." tuturnya lemah.
__ADS_1
Mata cokelat Ruth menatap ke arah Dava yang membulatkan matanya terkejut.
"Ruth, kau tidak boleh pulang sekarang. Keadaanmu masih lemah, bagaimana jika anak kita-"
"Sssst. Jeff," tegur sang bunda yang mendengar ucapan Dava langsung naik satu oktaf karena terkejut.
Dava pun segera menghentikan ucapannya melihat reaksi sang bunda yang memintanya untuk diam. Tarisya segera mengambil alih pembicaraan.
"Sayang, pikirkan dengan panjang. Jika kau memaksa pulang sedangkan Dokter lebih tahu keadaanmu, bagaimana kalau kau kembali drop? Putri akan semakin mencemaskanmu, Nak. Bayimu...dia berhak kau perjuangkan. Jangan memikirkan segala sesuatu dengan instan." Sekali pun tutur kata Tarisya lemah lembut, namun Ruth seketika dapat mencerna dengan baik dan tak bisa melakukan penawaran pada sang bunda.
Dua malaikat kecil yang harus ia perjuangkan saat ini, tidak akan bisa jika memikirkan hanya salah satu dari mereka saja. Ada bayi yang akan segera lahir dan membutuhkan fisik sang ibu yang cukup fit. Sedangkan anak kecil yang berada di rumah juga akan mendapatkan kekecewaan berulang kali jika harus kembali melihat sang ibu jatuh sakit.
Ruth terdiam tanpa kata.
"Bunda benar. Kak, Ayah juga sangat mengkhawatirkan Kakak di rumah. Keadaan Ayah sudah semakin membaik, mungkin dengan sembuhnya kakak, Ayah akan semakin bersemangat lagi." Dina yang berucap seolah ingin memberikan dukungan juga pada Ruth, tanpa sadar membuat semua yang ada di ruangan itu beralih menatapnya.
"Aku hanya ingin memberikan Kak Ruth semangat saja..." Kembali Dina berusaha menjelaskan pada yang lainnya.
"Dia adalah adik iparmu. Bagaimana mungkin kau memanggilnya Kakak?" Sendi akhirnya angkat bicara sebagai suami Dina.
"Em hehehe...maaf. Aku pikir karena usiaku lebih muda di bawah Kak Ruth. Jadi aku memanggilnya Kakak." Dina berusaha memberikan alasan untuk yang lainnya termasuk sang suami.
"Panggil dia adik." pintah Sendi datar.
"Hah?"
__ADS_1
"Dia adalah adikmu, karena dia adalah adik kami. Kau adalah kakak ipar. Sepantasnya kakak ipar memanggil adik pada adik iparnya." jelas Sendi tegas.
"Sudah. Sudah, Berson. Kau jangan terlalu keras pada istrimu. Kasihan Dina." tutur Tarisya yang melihat dengan jelas bagaimana Sendi bersikap dingin pada Dina. Berbeda jika ia berbicara dengan Ruth. Penuh dengan ungkapan perhatian.
Kini Sendi memilih bungkam setelah mendengar teguran dari sang bunda.
"Sekarang Bunda akan menyuapimu makan yah, Nak?" Tarisya berjalan medekati Ruth yang masih berbaring di ranjang pasien itu.
Dava dan Sendi pun memilih untuk segera keluar dari ruangan itu meninggalkan para wanita yang akan berjaga di sana.
"Mau kemana kau?" tanya Sendi pada Dava yang sudah beranjak ingin meninggalkannya.
Dava pun segera menghentikan langkahnya dan menatap kembali sang adik. "Aku ingin pergi." jawabnya lemah.
Setelah kemarin aku yang menjaga Ruth sepanjang hari, sekarang kau mau meninggalkannya begitu saja?" Sendi tertawa kecut melihat kerapuhan di wajah Dava.
"Berhenti, Sen! Aku memiliki urusan yang lain di luar." sahut Dava seketika meradang.
"Jadi urusan perusahaan tidak penting lagi untukmu? Begitu?" Dava hanya menghela napas seraya memijat keningnya saat mendengar ucapan sang adik.
"Aku bukanlah orang yang berhak atas itu. Sekarang, itu semua adalah hakmu sebagai anak kandung Ayah dan Bunda. Jadi biarkan-"
"Biarkan apa? Biarkan kau memilih jalanmu sendiri dengan membuang harapan yang Bunda dan Ayah berikan padamu? Kau merasa tidak menganggap kami kah Dav?" Sendi begitu kesal sebab sudah beberapa hari ini Dava sungguh tidak mengurus apa pun yang terjadi di kantor.
Sendi seorang diri harus berjuang mengelola tanpa ada bantuan dari siapa pun lagi. Ruth maupun Dava semuanya melepas diri dari tanggung jawab mereka.
__ADS_1
"Ikut denganku. Dan kembali bekerja di perusahaan." Sendi yang notabennya sebagai adik tak perduli tata krama lagi. ia mencengkram erat lengan sang kakak dan menariknya paksa untuk ikut ke mobil.
Dava hanya terdiam tanpa kata, ia pun sadar tidak seharusnya ia egois seperti ini. Dimana sosok Dava yang begitu hangat dan penuh sikap perduli? Dimana sosok Dava yang selalu bertanggung jawab itu?