Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 94. Penyesalan Dina


__ADS_3

Deburan ombak yang terus menerpa speed itu semakin membuat wanita yang lemah terus mengeluarkan isi perutnya.


"Ueeek! Ueeek! Ueek!"


"Pak, tolong speednya di pelankan saja!" teriak Dava yang terhalang dengan suara mesin kendaraan air itu.


"Ini sudah pelan, Tuan. Ombaknya juga tidak begitu kencang." ucap sang pengemudi dengan sopan.


"Istri saya sudah muntah-muntah, Pak. Tolong di pelankan lagi." pintah Dava memohon dengan wajah sedihnya.


Ia sangat menyesal telah membawa sang istri bulan madu melewati lautan seperti ini. Rasa cemas terus saja membuatnya ketakutan. Terlebih saat melihat wajah pucat sang istri dan terus saja mengeluarkan isi perutnya sedari tadi.


"Ruth, bertahanlah Sayang." ucapnya memohon dengan memijat tengkuk leher sang istri.


"Dav, Ueeek!"


"Sudah, sudah. Jangan bicara apa pun. Diam dan bertahanlah sebentar lagi kita akan sampai."


***


"Sendi!"


"Sendi!" teriakan dan gedoran pintu terdengar menggema di depan pintu utama kediama Ruth Surya Dinata.


Namun, tak satu pun manusia yang mendengar. Pasalnya rumah itu sudah terlihat sunyi di jam siang seperti ini.

__ADS_1


Mbok Nan bersama Putri tengah menikmati waktu mereka di sekolah. Sedangkan Sendi, sibuk bekerja di kantor dengan perasaan yang sangat tidak ada baik-baiknya.


Matanya terus saja tertuju pada jam tangan miliknya.


"Huh...lama sekali waktu." ucapnya mengeluh.


Jauh dari sang adik tentu membuatnya sangat menderita. Di pejamkan kedua mata itu dan di sandarkan tubuh yang lelah.


Untuk sejenak ia berpikir sesuatu yang tak terbayang sama sekali.


"Sebentar lagi kerjaanku sudah selesai. Oke, sebaiknya aku saja yang pergi mengecek sendirian." Ia bangun dari duduknya dan segera meninggalkan ruang kerja dan keluar dari kantor tersebut.


"Tuan, Tuan!" teriak salah satu karyawan yang mengejar langkah Sendi kali ini.


"Ada apa?" tanyanya dengan langkah terburu-buru.


"Oke." Sendi membawa kertas itu menuju meja salah satu receptionis dan membaca dengan teliti lalu meninggalkan coretan tanda darinya.


"Aku harus segera pergi, ini." ucapnya menyerahkan semua berkas kembali pada karyawan tersebut.


"Terimakasih, Tuan." Ia menunduk dan melihat kepergian Sendi yang sangat terburu-buru.


Matanya terus memperhatikan kepergian pria itu dan mengambil ponsel yang ada di dalam saku jasnya.


"Aku harus segera melaporkan pada Tuan, Dava." gumamnya mengirimkan pesan pertama dari perintah yang Dava berikan pada mereka semua.

__ADS_1


Seluruh karyawan yang bekerja di perusahaan itu, ada di bawah kendali seorang Dava Sandronata. Bagaimana pun juga pria itu adalah orang yang membawa mereka ke tempat itu dan atas persetujuan Ruth tentunya.


Sementara Sendi, hanyalah pemilik dan pengelola. Yang akan ikut serta mengembangkan perusahaan sang ayah.


Kembali di kediaman yang terlihat sunyi.


"Haah...sial! Dimana lagi aku mencarinya? Sendi!!!" Dina berteriak kesal.


Kali ini, ia tidak akan bisa mendapatkan pasangan hidup kecuali memperbaiki pernikahannya kembali dengan sosok Sendi. Jikalau ada pria yang mau dengannya, mungkin hanya untuk sekedar bersenang-senang saja. Bukan untuk menjadikannya seorang istri dan ibu.


"Sendi, maafkan aku..." Dina terduduk lemas di depan pintu rumah yang masih tertutup rapat itu.


"Aku benar-benar menyesal, Sen. Aku sadar ini semua salah. Aku sadar jika aku benar-benar mencintaimu. Apa yang harus ku lakukan?" air matanya menetes kala mengingat pernikahannya yang berawal dengan perjodohan dan Sendi memperlakukannya dengan baik.


Ia sadar jika suami yang ia nikahi tidak mencintainya. Tetapi Dina ingin berusaha lebih saat mendapatkan perlakuan baik dari Sendi tentunya.


"Permisi...maaf. Cari siapa yah Non?" tanya seseorang yang bersuara dengan sangat berat.


Wanita tua yang ada di depannya tentu mengenal siapa wanita yang datang di rumah ini.


"Non Ruth sedang tidak di rumah." jawab Mbok Nan yang melihat wajah sedih Dina sungguh jadi tidak tega.


"Mbok, dimana Sendi? Suamiku?" tanyanya tanpa menggubris ucapan Mbok Nan tentang Ruth.


"Putri, masuk yah." pintah Mbok Nan membukakan pintu pada bocah mungil itu.

__ADS_1


"Iya, Mbok Nan." jawab Putri dengan cepat.


__ADS_2