
Malam yang begitu sunyi akhirnya membuat Sendi beranjak
masuk ke dalam rumah tanpa banyak berpikir lebih banyak lagi. Tertinggal Wuri
yang hanya menatap kepergiannya. Ada perasaan sedih dan penuh harap pada sosok
punggung pria yang menjadi anaknya selama ini. Dan sekarang status itu sudah
berubah menjadi seorang menantu tentunya.
Dengan langkah perlahan penuh keraguan, Sendi mulai mendekat
tempat tidur yang kini terisi satu wanita yang tak lain adalah istrinya.
Matanya menatap punggung Dina. Suara dengkuran napas yang
terdengar teratur membuatnya hati-hati mendekat lalu duduk di tepi tempat tidur
itu.
Dina tampaknya sudah terlelap atau bahkan ia hanya
berpura-pura tidur saja demi menghindari sang suami. Entahlah hanya ia yang
tahu saat ini.
“Aku...minta maaf.” Sendi berucap lirih sembari memegang
punggung sang istri yang berposisi membelakanginya saat ini.
Hening. Tak ada percakapan terdengar dari keduanya. Dina hanya terus memejamkan mata tanpa menjawab sang suami.
Hanya ada dua kemungkinan yang Sendi duga. Pertama mungkin
sang istri sudah benar-benar terlelap. Atau opsi yang kedua, Dina sedang tidak
ingin berbicara dengannya setelah kejadian di meja makan tadi saat makan malam.
Sendi akhirnya menghela napas kasar, ia pun memutuskan untuk
ikut menyusul sang istri berbaring di tempat tidur yang sama.
Tanpa ia tahu jika di balik punggung Dina terlihat membuka
matanya.
“Kau tidak perlu
berucap maaf padaku, Sendi. Aku adalah wanita yang terlalu tidak tahu diri.
Terlalu banyak permintaan yang aku inginkan darimu. Tetapi justru aku tidak
bisa menyadari semua kekurangan yang ada di dalam diriku.” Ia merasa saat
ini sangat jatuh di dasar yang paling rendah.
Dina sudah jauh berbeda dari saat mereka bersama sebelumnya.
Wuri sudah berhasil membuat pikiran sang anak terbuka tentunya. Dan itu bisa
Sendi rasakan saat ini.
Jika sebelumnya ia sangat menolak kehadiran Dina, tetapi
kali ini ia merasa Dina bukanlah wanita yang pantas di acuhkan. Mungkin semua
__ADS_1
masa lalunya sangat buruk, tetapi itu bukanlah sepenuhnya kesalahan Dina. Sendi
tentu ikut andil dalam hal itu.
Satu kalimat yang Sendi percayai. ‘Jika istrimu adalah
wanita yang baik, maka kau sebagai suami patut menjaganya dengan lebih baik.
Tetapi jika istrimu bukanlah wanita yang baik, saat kau sudah sah menjadi suami
dan imamnya. Tentu kau berkewajiban membimbing dan merubahnya. Bukan malah
mencaci dan meninggalkannya. Terlebih lagi jika kau membuangnya.’
***
Di sini, rumah minimalis nan asri tampak sepasang suami
istri tengah menikmati udara segar pagi itu. Mentari yang mengeluarkan sinar
kekuningan membuat dua wajah tua itu silau saat menjemur tubuh mereka di
bawahnya.
Cuaca yang sangat mereka rindukan selama bertahun-tahun
lamanya, kini akhirnya mereka bisa merasakan kembali hangatnya sapaan mentari
di pagi hari.
Tarisya bersama sang suami berbincang-bincang sambil ia
duduk di kursi depan halaman rumahnya.
“Ayah, bunda akan merawat hanya hingga sembuh. Jangan
harus semangat untuk sembuh.” Tuturnya lembut pada sang suami yang masih tidak
bisa berbicara apa pun sampai saat ini.
Hanya senyuman di wajah pria tua itu yang terlihat seakan ia
menjawab perkataan sang istri. Tarisya tersenyum melihat semangat di diri sang
suami kali ini.
Waktu. Yah hanya waktu yang mereka tunggu saat ini. Waktu
yang entah berapa hari lagi, sungguh Tarisya tidak bisa bersabar lagi untuk
menunggu moment bahagianya akan berkumpul dengan sang anak.
Senyuman di wajah wanita tua itu sirna perlahan saat ia mengingat
Shandy yang ia dengarkan dari Dava jika anak perempuannya masih belum bisa
bertemu dengannya sampai delapan bulan kedepan.
“Ya Allah...semoga semuanya segera membaik. Berikanlah
kemudahan untuk anak-anak kami, Ya Allah. Saya sangat menantikan momen yang
selama ini kami tunggu-tunggu. Ijinkan kami untuk bisa melihat semua anak-anak
kami yang sudah tumbuh kembang dengan wajah tampan dan cantik mereka.” Doa
__ADS_1
Tarisya tampak begitu dalam harapannya.
Tring Tring Tring.
Suara dering ponsel di pagi itu membuatnya tersadar kembali
dari lamunannya. Tarisya melihat ponsel yang baru saja Dava belikan saat datang
ke rumah itu.
Ada gurat senyuman di wajahnya. Hal yang sederhana memang,
mendapatkan telepon dari anaknya yang paling tua di pagi secerah ini.
“Jeff...” lirihnya mengusap air mata yang tanpa terasa
menetes.
“Halo, Jeff.” Sapa Tarisya dengan sigap usai mengangkat
panggilan telepon itu.
“...”
“Iya, Nak. Bunda sama Ayah sedang di luar rumah. Baru saja
kami bangun tidur.” Tutur Tarisya dengan suara gembiranya.
“...”
“Apa? Kamu mau kemari hari ini dengan Berson? Iya iya, Bunda
tunggu yah? Bunda akan masak makanan kesukaan kamu...”
“Ayah!”
“Pagi, Ayah.” Teriakan suara bocah di seberang sana sontak
membuat Tarisya mengerutkan keningnya.
Suara anak? Tentu saja ia syhock bukan main. Apakah anak itu
adalah anak Jeff? Cucu pertamanya dari anak pertamanya? Tarisya sungguh
tercengang. Ia diam seribu bahasa menunggu Dava menjelaskan padanya kali ini.
“Bunda, sudah dulu-“
“Jeff,” tutur Tarisya tampak mencegah ucapan Dava yang ingin
mengakhiri panggilan tersebut.
“Bunda, halo Bunda? Halo?” Dava bersuara seakan-akan
sambungan telepon itu sedang mengalami gangguan dan akhirnya tangan besar Dava
bergerak mengakhiri panggilan mereka.
Panggilan yang terpaksa berakhir membuat Tarisya berpikir
keras saat ini. Jika itu bukan anak Dava, mengapa ia memanggil dengan sebutan
Ayah? Jika benar itu adalah anak Dava, mengapa ia tidak di beritahu jika
anaknya yang pertama itu sudah memiliki keluarga.
__ADS_1
“Apakah ada sesuatu yang
Jeff sembunyikan saat ini?” batinnya bertanya pada dirinya sendiri.