Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 140. Permintaan Maaf Sendi


__ADS_3

Malam yang begitu sunyi akhirnya membuat Sendi beranjak


masuk ke dalam rumah tanpa banyak berpikir lebih banyak lagi. Tertinggal Wuri


yang hanya menatap kepergiannya. Ada perasaan sedih dan penuh harap pada sosok


punggung pria yang menjadi anaknya selama ini. Dan sekarang status itu sudah


berubah menjadi seorang menantu tentunya.


Dengan langkah perlahan penuh keraguan, Sendi mulai mendekat


tempat tidur yang kini terisi satu wanita yang tak lain adalah istrinya.


Matanya menatap punggung Dina. Suara dengkuran napas yang


terdengar teratur membuatnya hati-hati mendekat lalu duduk di tepi tempat tidur


itu.


Dina tampaknya sudah terlelap atau bahkan ia hanya


berpura-pura tidur saja demi menghindari sang suami. Entahlah hanya ia yang


tahu saat ini.


“Aku...minta maaf.” Sendi berucap lirih sembari memegang


punggung sang istri yang berposisi membelakanginya saat ini.


Hening. Tak ada percakapan terdengar dari keduanya. Dina hanya terus memejamkan mata tanpa menjawab sang suami.


Hanya ada dua kemungkinan yang Sendi duga. Pertama mungkin


sang istri sudah benar-benar terlelap. Atau opsi yang kedua, Dina sedang tidak


ingin berbicara dengannya setelah kejadian di meja makan tadi saat makan malam.


Sendi akhirnya menghela napas kasar, ia pun memutuskan untuk


ikut menyusul sang istri berbaring di tempat tidur yang sama.


Tanpa ia tahu jika di balik punggung Dina terlihat membuka


matanya.


“Kau tidak perlu


berucap maaf padaku, Sendi. Aku adalah wanita yang terlalu tidak tahu diri.


Terlalu banyak permintaan yang aku inginkan darimu. Tetapi justru aku tidak


bisa menyadari semua kekurangan yang ada di dalam diriku.” Ia merasa saat


ini sangat jatuh di dasar yang paling rendah.


Dina sudah jauh berbeda dari saat mereka bersama sebelumnya.


Wuri sudah berhasil membuat pikiran sang anak terbuka tentunya. Dan itu bisa


Sendi rasakan saat ini.


Jika sebelumnya ia sangat menolak kehadiran Dina, tetapi


kali ini ia merasa Dina bukanlah wanita yang pantas di acuhkan. Mungkin semua

__ADS_1


masa lalunya sangat buruk, tetapi itu bukanlah sepenuhnya kesalahan Dina. Sendi


tentu ikut andil dalam hal itu.


Satu kalimat yang Sendi percayai. ‘Jika istrimu adalah


wanita yang baik, maka kau sebagai suami patut menjaganya dengan lebih baik.


Tetapi jika istrimu bukanlah wanita yang baik, saat kau sudah sah menjadi suami


dan imamnya. Tentu kau berkewajiban membimbing dan merubahnya. Bukan malah


mencaci dan meninggalkannya. Terlebih lagi jika kau membuangnya.’


***


Di sini, rumah minimalis nan asri tampak sepasang suami


istri tengah menikmati udara segar pagi itu. Mentari yang mengeluarkan sinar


kekuningan membuat dua wajah tua itu silau saat menjemur tubuh mereka di


bawahnya.


Cuaca yang sangat mereka rindukan selama bertahun-tahun


lamanya, kini akhirnya mereka bisa merasakan kembali hangatnya sapaan mentari


di pagi hari.


Tarisya bersama sang suami berbincang-bincang sambil ia


duduk di kursi depan halaman rumahnya.


“Ayah, bunda akan merawat hanya hingga sembuh. Jangan


harus semangat untuk sembuh.” Tuturnya lembut pada sang suami yang masih tidak


bisa berbicara apa pun sampai saat ini.


Hanya senyuman di wajah pria tua itu yang terlihat seakan ia


menjawab perkataan sang istri. Tarisya tersenyum melihat semangat di diri sang


suami kali ini.


Waktu. Yah hanya waktu yang mereka tunggu saat ini. Waktu


yang entah berapa hari lagi, sungguh Tarisya tidak bisa bersabar lagi untuk


menunggu moment bahagianya akan berkumpul dengan sang anak.


Senyuman di wajah wanita tua itu sirna perlahan saat ia mengingat


Shandy yang ia dengarkan dari Dava jika anak perempuannya masih belum bisa


bertemu dengannya sampai delapan bulan kedepan.


“Ya Allah...semoga semuanya segera membaik. Berikanlah


kemudahan untuk anak-anak kami, Ya Allah. Saya sangat menantikan momen yang


selama ini kami tunggu-tunggu. Ijinkan kami untuk bisa melihat semua anak-anak


kami yang sudah tumbuh kembang dengan wajah tampan dan cantik mereka.” Doa

__ADS_1


Tarisya tampak begitu dalam harapannya.


Tring Tring Tring.


Suara dering ponsel di pagi itu membuatnya tersadar kembali


dari lamunannya. Tarisya melihat ponsel yang baru saja Dava belikan saat datang


ke rumah itu.


Ada gurat senyuman di wajahnya. Hal yang sederhana memang,


mendapatkan telepon dari anaknya yang paling tua di pagi secerah ini.


“Jeff...” lirihnya mengusap air mata yang tanpa terasa


menetes.


“Halo, Jeff.” Sapa Tarisya dengan sigap usai mengangkat


panggilan telepon itu.


“...”


“Iya, Nak. Bunda sama Ayah sedang di luar rumah. Baru saja


kami bangun tidur.” Tutur Tarisya dengan suara gembiranya.


“...”


“Apa? Kamu mau kemari hari ini dengan Berson? Iya iya, Bunda


tunggu yah? Bunda akan masak makanan kesukaan kamu...”


“Ayah!”


“Pagi, Ayah.” Teriakan suara bocah di seberang sana sontak


membuat Tarisya mengerutkan keningnya.


Suara anak? Tentu saja ia syhock bukan main. Apakah anak itu


adalah anak Jeff? Cucu pertamanya dari anak pertamanya? Tarisya sungguh


tercengang. Ia diam seribu bahasa menunggu Dava menjelaskan padanya kali ini.


“Bunda, sudah dulu-“


“Jeff,” tutur Tarisya tampak mencegah ucapan Dava yang ingin


mengakhiri panggilan tersebut.


“Bunda, halo Bunda? Halo?” Dava bersuara seakan-akan


sambungan telepon itu sedang mengalami gangguan dan akhirnya tangan besar Dava


bergerak mengakhiri panggilan mereka.


Panggilan yang terpaksa berakhir membuat Tarisya berpikir


keras saat ini. Jika itu bukan anak Dava, mengapa ia memanggil dengan sebutan


Ayah? Jika benar itu adalah anak Dava, mengapa ia tidak di beritahu jika


anaknya yang pertama itu sudah memiliki keluarga.

__ADS_1


“Apakah ada sesuatu yang


Jeff sembunyikan saat ini?” batinnya bertanya pada dirinya sendiri.


__ADS_2