
Suasana terasa begitu panas di dalam ruangan besuk kala itu. Wajah hangat Dava berubah pias mendengar sang istri yang baru saja memaksa keluar dari rumah sakit karena baru mengalami kecelakaan semalam.
Bagaimana kemarahan begitu menguasai dirinya kali ini? saat sang istri berjuang di luar sana seorang diri, di sini dirinya hanya bisa mendengar laporan tanpa bisa berbuat apapun dengan tangannya sendiri.
"Ruth, apa yang kau lakukan?" ucap Dava bertanya pada dirinya sendiri dengan rasa penuh kecemasan.
Dava menatap seorang pria di depannya saat ini. "Pergilah. Pastikan sendiri istriku baik-baik saja diluar." pintahnya langsung bergegas meninggalkan ruangan besuk.
Kini ia pun meninggalkan tempat tersebut dan segera menuju pada kelima pria yang sudah memegang kendali keamanan istri sang bos.
Di sini Dava menatap hampa ruangannya yang sangat memuakkan baginya. Tatapannya begitu sulit di artikan.
"Bagaimana bisa aku berharap dia datang membawakan makan sedangkan dia saja di rumah sakit? Ruth, apa yang kau lakukan untukku? mengapa kau begitu keras kepala sekali?"
Dava terus saja terlihat uring-uringan di dalam ruangan. Hatinya benar-benar gelisah, seharusnya hari ini ia tenang menunggu hasil para pekerjanya di luar sana. Namun, lagi-lagi wanita yang menjadi kelemahan seorang pria.
Dia baru menyadari jika wanita yang ia pilih bukanlah wanita yang seperti ia pikirkan. Ada sebuah lengkungan dalam dan runcing ke dalam di kedua pipinya. Senyuman yang benar-benar menawan dengan dua lesung pipi di pipi milik Dava.
Matanya yang begitu tajam seketika berbinar kala menyadari wanitanya begitu istimewa. Jelas, pria tadi menceritakan tentang tujuan Ruth pergi ke kantor sang ayah untuk mencarikan bukti dirinya.
Ada gurat kebahagiaan di hati Dava yang entah apa artinya. Hanya Tuhanlah yang tahu.
"Terimakasih, Tuhan. Aku benar-benar tidak menyangka jika istriku bahkan mengorbankan nyawanya demi membantuku sebagai suaminya." lirihnya berucap syukur.
Dava bahkan tidak tahu bagaimana keadaan istrinya saat ini yang masih berada di rumah Tuan Deni.
"Ruth, ayo pergi!" Dava memegang sudut bibirnya yang memerah karena tamparan sang ayah yang begitu keras.
Ia bahkan tidak membalas ataupun bericara sepatah katapun pada sang ayah. Ruth begitu juga diam membisu mengikuti langkah sang kakak yang masih belum mengerti akan ucapannya.
"Sendi!" teriak Tuan Deni dengan napas yang terengah-engah.
"Cih...kalian pikir akan semudah itu? Tidak akan mudah, Ruth. Shandy Chyntia." Seringaian licik terlukis di wajah pria itu sembari menatap kepergian sang anak dengan wanita pujaan hatinya.
Di dalam mobil, Sendi fokus menyetir namun sesekali matanya melirik wanita cantik di sebelahnya yang tampak pucat.
Dua pasang mata itu bergerak menuju dua tangan yang bergenggaman di bawah sana. Ruth terdiam melihat genggaman tangan sang kakak di punggung tangannya.
"Apapun yang berlalu...tapi aku masih mencintaimu, Ruth. Apapun akan ku lakukan." Kini Sendi tersenyum dan membawa genggaman tangannya ke dalam dekapannya.
__ADS_1
Ruth menggeleng dengan deraian air mata. Ia sungguh tidak mengerti dengan yang terjadi saat ini. Apa yang terjadi dengan Sendi sampai sama sekali tidak mengetahui jati dirinya yang sebenarnya?
"Kak tolong serius denganku. Apa kau benar-benar tidak mengenal nama yang ku maksud?" tanya Ruth menatap penuh harap pria di sampingnya.
"Cih...apa Ruth? Itu hanya sandiwara gila yang kau pikirkan, bukan? Sudahlah jangan perdulikan Ayah. Aku bisa melakukan itu semua demi kamu. Percaya denganku." ujar Sendi kemudian menepikan mobilnya.
"Kau kakakku. Kau Berson Nicolas. Bukan Sendi, ini semua rencana Tuan Deni memisahkan kita, Kak. Coba ingat kak. Aku Shandy Chyntia, adikmu." ucap Ruth dengan nada memaksanya.
Sendi masih terlihat bingung. "Ruth, aku tidak mengerti sama sekali."
Kini habis sudah kata-kata yang harus ia keluarkan untuk sang kakak. Kepalanya terasa begitu sangat berat. Ruth sadar jika ia terus berdebat dengan Sendi, semua tidak akan jelas.
"Kak, antar aku pulang." pintahnya lemah sembari menatap spion melihat beberapa pengawal yang masih mengikuti mereka tanpa mengganggu.
Hanzel dan teman-teman sangat paham jika saat ini Nona mudanya harus menyelesaikan masalah pribadi tanpa campur tangan mereka.
"Baiklah, Sayang." Sendi mengusap puncak kepala sang mantan lalu melajukan mobilnya kembali ke arah rumah Ruth.
Di perjalanan Ruth hanya bisa memejamkan matanya. Tubuhnya benar-benar kehabisan tenaga setelah beradu mulut bahkan di perlakukan kasar oleh Tuan Deni.
"Apa maksud semua ini, Tuhan? Ada rahasia apa yang di simpan antara Tuan Deni dan Tuan Iwan? Siapa dua pria itu? Mengapa mereka bahkan tahu tentang perusahaan Ayahku?"
Di dalam mobil hanya keheningan saja yang tercipta. Sendi pun tampak berpikir keras, apa yang terjadi pada Ruth pikirnya.
"Ada apa dengan Ruth? apa dia gangguan pikiran sampai berhalusinasi seperti ini? Tapi...siapa Berson? siapa Shandy Chyntia? mengapa rasanya aku tidak asing dengan nama itu?" Sendi menggelengkan kepalanya seraya memejamkan sedetik kedua matanya.
Lamunannya kembali ia tarik saat itu juga. "Tidak, aku tidak boleh ikut berhalusinasi. Jelas nama-nama itu sering terdengar." bantahnya pada pikirannya sendiri.
"Mamah!" Suara Putri terdengar nyaring kala sebuah mobil tampak berhenti usai memasuki halaman rumahnya.
Ruth menoleh ke samping pintu mobil. "Putri,"
Ia bergegas keluar dari dalam mobil dan mengusap sudut matanya yang lembab. "Sayang,"
Keduanya berpelukan dengan tubuh yang sama-sama sedang bersuhu panas.
"Ruth, ayo ku antar beristirahat." Sendi hendak meraih pergelangan tangan Ruth.
"Tidak, Kak. Ada yang jauh lebih penting dari diriku." bantahnya kemudian meninggalkan Putri dengan senyumannya lalu masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Ruth!" panggil Sendi hendak melangkah masuk mengejarnya. Namun terhenti saat tangan tua milik Mbok Nan merentangkan padanya.
"Tuan Berson..." Mbok Nan bahkan bersuara dengan sedikit bergemetar.
Matanya meneteskan air mata melihat sosok pria tampan di depannya saat ini yang sudah begitu dewasa. Ia ingat terakhir kali dirinya melihat pria ini masih begitu kecil.
"Apa yang terjadi di rumah ini? Siapa yang sudah mencuci pikiran kalian? hah! Katakan apa yang Dava perbuat pada kalian?" Sendi berucap dengan suara yang sudah meninggi.
"Tapi, Tuan..." Mbok Nan yang sangat ingin memeluk majikannya kini terhenti saat mendengar ucapan Sendi yang sangat di luar dugaannya.
"Kak, ini. Bacalah." Ruth menyerahkan berkas dengan tatapan yang begitu sulit ia tahan lagi kali ini.
Penglihatannya pun terus berputar tanpa bisa henti.
Sedangkan Sendi menggelengkan kepalanya usai melihat keterangan yang tertulis dengan lengkap dari mulai keterangan surat, nama, tanggal hingga tahun di sana.
"Cih...apa hanya dengan begini Dava bisa mencuci pikiran kalian? Ingat Ruth, pria itu hanya ingin memisahkan kita. Laki-laki itu hanya ingin aku menyerah begitu saja dengan hubungan ini. Aku Sendi Sandoyo, Ruth. Bahkan kau tahu jelas siapa keluargaku, bukan?" Sendi tetap bersitegas dengan kepercayaannya.
"Kepalaku..."
"Mamah!!!" Lagi dan lagi Putri harus berteriak saat melihat Ruth terhempas ke tanah.
"Ruth!"
"Non Ruth!"
Semua begitu panik.
"Apa yang kau lakukan pada istriku?!" Suara keras benar-benar membuat Sendi hampir saja menjatuhkan tubuh Ruth yang sedang ia tahan saat ini.
Sendi menoleh. Matanya memerah melihat kehadiran pria yang sangat tidak ia inginkan hadirnya kali ini.
"Ruth, Sayang." Dava merebut tubuh sang istri dari pelukan Sendi dengan kasarnya.
Wajahnya tampak cemas, sebelah tangannya bergerak menggoyangkan pipi wanita di dekapannya saat ini.
Mendengar ada suara hangat menyapanya, pandangan Ruth yang gelap tampak menerka-nerka wajah yang tidak begitu jelas ia lihat. Buliran bening menetes di kedua sudut matanya.
"Dava," isaknya pilu.
__ADS_1
Sungguh ia sangat ingin berbagi cerita dengan suaminya saat ini. Hanya Davalah yang akan mendengarkan kisahnya mungkin. Perlahan demi perlahan, kehadiran Dava mulai terasa berpengaruh dalam hari-harinya dan juga hatinya.