
Sendi, Ruth, dan Dava kini bertiga berada di satu ruangan yang sama. Rumah sakit tempat Ruth di rawat saat ini. Dava menatap dalam wajah pucat di sana. Tubuhnya terasa membeku melihat senyuman penuh harap terpancar ke arahnya.
"Jangan tersenyum padaku, Ruth. Jangan!"
"Itu sangat menyakitkan untukku..." Dava memejamkan mata mencoba untuk menguatkan diri dari cinta yang terus saja menariknya untuk mendekat pada wanita di depannya saat ini.
"Ada apa dengannya?" Di sini Sendi tampak mengerutkan kening melihat ada keanehan yang terjadi pada kakak adik iparnya.
Meskipun ia diam, namun kedua mata miliknya terus bergerak bergantian menatap Ruth dan Dava. Ia sadar kepergian Dava ada yang tidak beres. Dan tentu saja kedatangannya kembali kali ini sangat terlihat aneh.
"Dav...kau tidak merindukanku?" tanya Ruth dengan mata yang berbinar tersenyum namun tampak sedang menahan kesedihan.
Dava masih tak bersuara. Perlahan langkahnya mulai bergerak mendekati ranjang tempat sang istri berbaring.
"Maafkan kakak, Ruth. Maafkan Kakak jika saat ini Kakak belum bisa jujur padamu." Dava langsung membungkuk memeluk erat tubuh sang istri dan menenggelamkan wajahnya pada leher jenjang sang istri.
Air matanya sukses berjatuhan begitu saja. Bagaimana ia harus bisa melepaskan cinta yang sangat dalam pada wanita itu? Bagaimana ia bisa mengikhlaskan jika mereka adalah saudara kandung? Sungguh Dava tak kuasa untuk tetap baik-baik saja.
Ia menangis tanpa bisa menahan semua rasa sakit itu lagi. Isakan dan getaran tubuh kokoh itu sontak membuat Sendi dan Ruth menatap penuh tanya.
"Dav, apa yang terjadi? jangan membuatku khawatir seperti ini. Anak kita baik-baik saja bukan?" Ruth sudah menangkup wajah tampan sang suami. Air matanya pun ikut berjatuhan saat itu juga.
Dava meneteskan terus air mata di depan sang istri. Dadanya terasa terhantam ribuan pisau tajam kali ini.
"Tidak." Itulah jawaban yang diberikan Dava tanpa suara. Hanya dengan gelengan kepala ia mengatakan tidak terjadi apa-apa. Namun, air matanya jelas memberitahukan jika ia sedang sangat hancur kali ini.
Ruth sadar, hatinya juga tengah gelisah. Meski ia sangat tidak tahu apa yang terjadi saat ini. Lantas air mata apa yang sedari tadi menetes terus menerus di kedua matanya jika semua baik-baik saja? Tentu saja Ruth merasakan apa yang suaminya rasakan saat ini.
__ADS_1
Ia membawa Dava ke dalam pelukannya. Dava menyandarkan kepalanya di pundak sang istri dan keduan tangannya terus mengeratkan pelukan itu.
"Hanya pelukan ini yang selalu membuatku tenang, Ruth. Pelukan ini yang sangat tidak sanggup ku rubah. Pelukan cinta yang harus berubah menjadi pelukan kasih sayang seorang kakak pada adiknya." Dava perlahan lahan mengusap air mata hingga ia akhirnya sadar keadaannya sangat memperburuk sang istri kali ini.
"Sendi, kau bisa pergi sekarang. Aku yang akan menjaga istriku. Terimakasih bantuanmu." pintahnya dengan wajah yang kembali tenang.
Sendi tampak menghela napas kasar lalu pergi tanpa kata. Ia tidak ingin menatap wajah wanita yang selalu membuatnya kehilangan kontrol kesadaran.
Ceklek. Suara pintu tertutup.
Tinggallah Dava dan Ruth saat ini di dalam satu ruangan.
Dava duduk di kursi samping tempat tidur. Ia hanya diam, begitupun dengan Ruth. Ia juga terdiam menatap wajah sang suami yang masih merah.
Cukup lama, keduanya diam tanpa kata hingga akhirnya Ruth merasa ada yang terjadi dengan hubungan mereka tentunya.
"Katakan, apa yang terjadi?" tanya Ruth yang tak lagi memanggil lembut nama sang suami seperti biasanya.
Dava menatapnya seketika, hatinya terasa tersinggung saat mendengar pertanyaan tanpa nada panggilan lembut seperti biasanya.
"Kau tidak menyebut namaku, Ruth?" tanyanya dengan wajah sendu.
"Mana kutahu jika aku sedang bertanya pada suamiku seperti biasanya. Aku di sini pun kau tidak mau menatapku. Apa aku ada salah padamu?" Ruth bertanya dengan wajah penuh selidik.
Kepergian sang suami yang meninggalkannya beberapa saat bersama Sendi saja sudah cukup membuatnya ingin banyak menghakimi pertanyaan. Namun, keadaan hatinya saat ini sungguh sedang tidak bisa mengutamakan mana yang jauh lebih utama. Ia hanya ingin tahu apa yang terjadi antara mereka terlebih dahulu.
Dava menunduk lagi. Ia terdiam seribu bahasa.
__ADS_1
"Dav, aku merindukanmu. Berbaringlah di sini." Ruth menggeser tubuhnya untuk memberikan tempat pada suami tercintanya.
Dava menatap ke depannya. Matanya memperhatikan tepukan tangan sang istri pada kasur kecil di sana. Susah payah, Dava meneguk salivahnya karena gugup.
Haruskah ia melakukan perintah sang adik kali ini.
"Jujur aku juga sangat merindukanmu, Sayang. Tapi jika aku barbaring di sana, dosakah aku memikirkanmu sebagai istriku lagi saat ini?"
"Aku takut jika aku tidak bisa mengontrol diri di dekatmu." Dava hanya bisa berperang dengan batinnya sendiri kali ini.
"Dav...aku mohon..." Ruth memelaskan wajahnya hingga Dava dengan sendirinya bergerak dan berbaring di sebelahnya.
Hati Ruth sangat sakit melihat ketidak berdayaan sang suami kali ini. Apa yang membuat Dava jadi berubah seperti robot kali ini? begitulah pikirnya.
Di sini, dua pasang mata yang saling mensejajarkan tubuh kini tampak menatap lurus ke langit-langit bernuansa putih itu.
Ruth mulai memeluk tubuh suaminya dengan memejamkan kedua matanya. Ia menghirup aroma tubuh suaminya benar-benar membuatnya tenang sekali.
Dava yang merasakan hembusan napas sang istri meniup-niup di lehernya, kini hanya memejamkan mata. Tak berani menolak maupun membalas pelukan tersebut.
"Ruth, istirahatlah sayang. Kau harus segera pulih." pintahnya dengan lembut setelah cukup lama ia bungkam.
Ruth tersenyum mendengar kata 'sayang' dari sang suami. Ia menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Tapi...sebelum itu, aku ingin itu darimu." bisiknya dengan nakal dan tersenyum kecil.
Dava sontak membulatkan kedua matanya. Jantungnya berdegup sangat kencang sekali. Ia tak sadar jika tangan lentik sang istri sudah menjalar ke segala arah penjuru kali ini.
__ADS_1