Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 25. Surat Perjanjian Pernikahan


__ADS_3

Tetesan air mata dari hati yang begitu pilu tidak akan pernah mengembalikan seseorang yang telah pergi meninggalkan mu untuk selama-lamanya. Jika kepergiannya membuatmu sangat terpuruk, ingatlah jika setiap insan di dunia ini harus tegar dan kuat menghadapi segala yang terjadi, sekali pun harus di tinggalkan seseorang yang paling kita cintai.


Kembalilah untuk mengingat diri kita adalah manusia biasa yang juga akan menghadapi kematian. Jadikan kematian itu hanya pada badanmu. Karena tempat tinggalmu yang sebenarnya adalah liang kubur.


Dan ingatlah, selalu ada alasan untuk setiap hal yang terjadi di dalam hidupmu. Karena, tidak ada seorang pun yang datang dan pergi di hidupmu tanpa seizin Tuhan.


Di makam yang terlihat terasa sejuk, tampak Ruth menangis kala dalam benaknya sejenak terpikirkan dengan pepatah yang mengatakan 'Cinta seorang ibu itu menenangkan, cinta seorang ayah itu menguatkan.


"Hiks...hiks...hiks." Isakan tangis terdengar sangat menyayat hati bagi siapa pun yang mendengarnya.


"Ibu, Ayah, jika kalian pergi...siapa yang akan memberikanku kekuatan dan ketenangan? Lihat, hidup anakmu sudah hancur berantakan, Ayah, Ibu. Ruth benar-benar tidak kuat lagi. Ruth lelah Ayah, Ibu. Ruth ingin di peluk kalian. Ruth rindu ingin merasakan kasih sayang kalian. Ruth ingin kalian lindungi seperti orang-orang di luar sana." tangisan yang memilukan mengiringi curahan hati wanita yang baru saja resmi berstatus istri seorang Dava Sandronata.


Kali ini, adalah pertama kali Ruth menjenguk makam sang orang tua setelah resmi menjadi istri dari seorang Dava Sandronata.


Siapa pun akan menangis kala mengingat hari pernikahan yang seharusnya menjadi hari yang paling bahagia kini justru menjadi hari yang penuh dengan kisah yang menyakitkan.


Tetesan demi tetesan air mata terus membasahi tanah yang terlihat sudah padat itu. Sejenak tak ada terdengar lagi ucapan dari bibir ranum milik Ruth yang bergetar. Kekuatannya hanya bisa ia dapatkan dari memeluk nisan sang ibu.


Tak perduli, jika benda itu terasa keras, namun yang ada dalam bayangannya hanya kehangatan yang ia dapatkan dari elusan tangan sang ibu di puncak kepalanya.


Pernikahan yang menjadikannya memiliki keyakinan baru, pernikahan yang hampir merenggut keperawanannya oleh sang mertua, pernikahan yang tidak di saksikan kedua orangtua maupun keluarganya, pernikahan yang menjadikannya menikah dengan pria tanpa cinta, semua sudah cukup menyiksa batinnya.


Tapi semua ia lakukan demi sebuah perlindungan, yah perlindungan yang Dava janjikan untuk dirinya dan juga Putri, sang anak.


                                                                    SURAT PERJANJIAN NIKAH


Yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama                    : Dava Sandronata


Alamat                  : Perumahan Permai Putih Blok A No. 28


No KTP                 : 378528467598346098


Yang mana akan di sebut sebagai pihak pertama, dan


Nama                    : Ruth Surya Dinata


Alamat                  : Perumahan Damai Indah Blok J No. 49

__ADS_1


No KTP                 : 395674890254678352


Yang mana di sebut pihak kedua


Dengan surat perjanjian pernikahan ini kedua belah pihak telah sepakat untuk mengadakan pernikahan yang di atur dalam beberapa point berikut ini :


1.       Pihak pertama akan menjamin keamanana pihak kedua dan anak yang bernama Putri Anyelir yang berusia 5 Tahun,


2.       Akan menjadikan Putri sebagai anak pihak pertama,


3.       Menikah untuk selamanya.


Dengan syarat,


1.       Pihak kedua memberikan kekuasaan penuh Putri Anyelir pada pihak pertama,


2.       Pihak kedua tidak berhak memutus perjanjian sepihak,


3.       Pihak kedua  menjadi istri tanpa mecintai pihak pertama dan tidak berhak sepenuhnya atas kekayaan pihak pertama.


Surat perjanjian pernikahan ini di setujui, di tanda tangani dan juga dibuat rangkap dua bermaterai cukup serta keduanya mempunyai hukum yang sama. Kedua belah pihak pun dalam keadaan sadar serta tanpa ada paksaan dari pihak manapun dalam penandatanganan perjanjian ini.


                    Pihak Pertama                                                                       Pihak Kedua


                Dava Sandronata                                                                  Ruth Surya Dinata


***


Begitulah isi surat perjanjian antara Ruth dan Dava, hingga sampai detik ini pun rasanya Ruth masih tak menyangka. Selama ini dirinya begitu asing dengan pemikiran pernikahan, bagaimana dirinya tidak terkejut kala menerima kenyataan pahit jika pernikahannya hanyalah berdasarkan perjanjian yang entah apa tujuannya.


Tubuh yang lemas tanpa daya itu seketika terkejut kala mendengar sebuah dering ponsel di tas kerja miliknya.


Dua tangannya mengusap air matanya, kemudian bergerak menggeledah isi tas miliknya yang sejak tadi sudah terhampar di atas tanah.


"Pulanglah sekarang, sudah berapa jam disana? Bahaya."  Suara tegas namun tetap dengan khas lembut yang penuh kasih sayang terdengar menyadarkan kesedihan Ruth saat itu juga.


"Em, iya. Aku akan pulang sekarang juga. Terimakasih sudah mengingatkan-" (Ucapan Ruth tak lagi ia lanjutkan kala menyadari jika sambungan telepon sudah terputus).


Setelah memastikan kecupan rindu pada dua nisan orangtuanya, Ruth langsung memasuki mobilnya dan melajukan kendaraan beroda empat itu menuju rumah.

__ADS_1


Entah mengapa setiap kali dirinya memeluk dan mencium nisan kedua orangtuanya, selalu saja hatinya terasa tenang dan kembali kuat.


"Ayah, Bunda, apakah kalian baik-baik saja saat ini? mengapa kalian tidak pernah lagi datang di mimpiku?"  batinnya sembari tersenyum pilu.


Meski tiap kali ia ketakutan saat bermimpi, namun rasanya ia sangat rela bermimpi buruk sekali pun. Karena memang hanya dengan seperti itulah, dirinya bisa berjumpa dan melihat sosok orangtuanya.


Tanpa ia duga, jika di kediaman miliknya sudah tampak rumah yang kedatangan beberapa orang berpenampilan menarik.


"Maaf, cari siapa yah?" Mbok Nan yang tengah bermain dengan Putri di depan halaman rumah tampak menyambut tamu tersebut dengan tatapan penasaran.


Salah satu di antaranya dengan wajah blasteran segera menjawab dengan bahasa Indonesia yang bernada Inggris. "Permisi, saya Angelina dari desainer pribadi Tuan Dava Sandronata, dan mereka adalah team make up yang di pilih Tuan Dava juga." terangnya dengan senyum selemut mungking.


"Tuan, Dava? Suami Non Ruth?" tanya Mbok Nan memastikan kembali.


Mereka semua mengangguk dan tersenyum.


Mbok Nan tampak melempar pandangan dengan Putri, kemudian Putri hanya mengedikkan kedua bahunya.


"Mbok, ingat kata Mamah Ruth! Kalo banyak kepo, nanti matanya belo kaya hidungnya pinokio loh." Putri terkekeh kala melihat Mbok Nan yang langsung menutup kedua bola matanya.


"Eh, Putri...Mbok nggak kasih ide lagi loh nanti kamu kalo ngeledekin Mbok." ucap Mbok Nan terkekeh melihat tawa polos sang bocah.


"Ehem, ada apa Bi?" tanya Dava yang baru saja keluar dari rumahnya dengan setelan pakaian santai. Manik matanya menatap beberapa orang yang memang tidak asing lagi baginya.


"Angelina, kalian sudah datang ternyata. Masuklah! Sebentar lagi dia akan datang." tutur Dava mempersilahkan orang-orang pilihannya untuk masuk.


"Baik, Tuan. Terimakasih."


Kini mereka semua tampak duduk bersama di sofa ruang tamu, sesekali team desainer maupun make up itu menatap rumah yang mereka datangi kali ini. Mungkin masih terlihat mewah, namun tidak dengan beberapa perlengakapan rumah yang terkesan sudah sangat sedikit. Bahkan rasanya sangat tidak cocok untuk seorang Dava tinggal di tempat yang berlevel sedang seperti rumah ini.


"Lakukan apa yang saya minta, dan jangan lakukan apa yang tidak saya minta."


Semua tertegun seketika menundukkan kepala mereka. Meski Dava selalu bersikap ramah dan hangat, tapi tidak dapat di pungkiri jika pria itu terkadang sangat mengerikkan. Tentu mereka paham, karena mereka juga termasuk orang-orang berpengaruh dalam diri Dava.


Team yang selalu mengurus keperlau fashion pria tampan tersebut sudah cukup lama bekerja dengan keluarga Sandronata.


"Ba-ik, Tu-an. Maafkan kami."


"Ruth, kemarilah!" Dava melambaikan tangannya kala menyadari sang istri telah tiba di ambang pintu tanpa merespon ucapan team fashion tersebut.

__ADS_1


 


 


__ADS_2