Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 70. Terpuruknya Wuri


__ADS_3

Di depan ruangan IGD, seorang wanita kini terduduk di sudut tembok sembari menangis tersedu-sedu. Wajah cantik yang selalu terlihat tenang, kini berubah menjadi wajah yang penuh dengan rasa takut.


Kebahagiaan yang ia rasakan selama ini seakan sirna di telan bumi. Kehidupan yang glamour penuh dengan senang-senang, membuatnya benar-benar terpukul mendapati mirisnya nasib yang menimpa dirinya saat ini.


Seakan Tuhan memberikan teguran, kehidupan setinggi apa pun tetaplah waspada. Karena semua yang ia berikan hanyalah titipan sementara.


Hari yang ia lewatkan hanya dengan bertemu dengan teman-teman untuk foya-foya, membuatnya tak percaya. Benarkah ia saat ini tengah menangis seorang diri? Bukankah hari-hari sebelumnya ia selalu di kelilingi banyak orang?


"Ayah..." isaknya memeluk tubuhnya sendiri.


Deraian air mata berjatuhan sangat deras. "Ayah, apa yang harus Ibu lakukan saat ini?" Wuri bahkan tak perduli dengan semua orang yang menatapnya.


Dirinya sungguh tidak berguna lagi.


Flashback on


"Ada apa ini? Siapa kalian ribut-ribut di rumah saya?" Beberapa pria yang bersitegang di depan pintu membuat Wuri terbangun dari tidurnya malam itu.


Yah keadaan semua baik-baik saja sebelum Dina menghubungi sang Ibu. Bahkan Wuri masih menyempatkan merawat wajahnya dengan masker pilihannya yang ia beli dari luar negeri.


"Maaf, Nyonya. Mereka ini mengatakan ingin bertemu dengan anda. Sedangkan kami sudah mengatakan jika Nyonya sedang berisitrahat." terang salah satu penjaga keamanan.


Wuri memperhatikan tiga pria bertubuh sangat tinggi dan berpenampilan sangat rapi.


"Perasaan saya kenapa tiba-tiba nggak enak seperti ini yah?" batinnya merasakan sesuatu.


"Maaf, Ibu. Kami hanya menjalankan perintah. Untuk mengosongkan rumah ini sesegera mungkin, Karena menurut pengacara pihak korban. Rumah ini juga berasal dari hasil perusahaan D Group."


Wuri terkejut sangat-sangat terkejut. "Apa? Di kosongkan?" Ia menggelengkan kepala tidak terima.


"Tidak. Ini tidak mungkin. Kalian pasti berbohong. Ini rumah hasil kerja keras anak saya, Sendi!" teriaknya histeris.


Tring Tring Tring

__ADS_1


Di tengah-tengah suasana yang tegang. Kini dering ponsel dalam genggaman Nyonya Wuri membuatnya kembali tenang.


"Dina," ucapnya terasa kembali kuat. Ia harus mengadukan keadaan ini pada sang anak. Hanya Dina tempatnya mengadu.


"Dina," ucapnya namun tak membuat Dina menghentikan tujuan menelpon sang Ibu.


Di sambungan telepon itu, Wuri jelas mendengar apa yang di katakan sang anak.


"Ibu, tolong Dina,  Bu." Suara yang jelas terdengar sedang kesakitan.


Wuri membungkam mulutnya karena syok. Ia menggelengkan kepala hingga tanpa sadar air matanya mengalir deras.


"Dina! Dina!" teriaknya histeris.


Dan saat itu semua dunia terasa runtuh bagi Wuri. Suami, harta, dan anaknya semua mendapatkan musibah. Sementara dirinya tinggal seorang diri tanpa siapa pun lagi.


Flashback off


"Permisi, Ibu." Suara seorang perawat membuat Wuri tertarik kembali dalam dunia nyata.


"I-iya, Suster. Ada apa? Bagaimana keadaan anak saya?" tanyanya begitu cemas sembari mengusap air mata yang berjatuhan di pipinya.


"Ibu, pasien sangat kritis. Dokter sedang berusaha keras. Dan kami harus segera melakukan tindakan operasi setelah memastikan semuanya aman. Tolong untuk itu Ibu segera mengurus administrasinya terlebih dahulu." terang suster kemudian memberikan lembaran kertas tagihan dan persetujuan untuk melakukan operasi.


Dengan cepat Wuri mengangguk. "Baik, Suster. Saya akan segera mengurusnya. Tolong lakukan semua yang terbaik untuk anak saya." ujarnya berlalu pergi dari ruangan tersebut.


Di sini, Wuri tengah bersitegang dengan pihak rumah sakit.


"Ibu, mohon maaf. Kartu ini tidak bisa di gunakan, Ibu." tuturnya menyerahkan kartu kesekian kalinya pada Wuri.


"Coba yang satu ini lagi, Suster. Kalau ini pasti masih bisa." ujarnya yakin.


Wuri tahu ini semua pasti terjadi karena harta sang suami sudah di sita seluruhnya. Namun, ia masih punya tabungan yang tersisa dari pergi liburan beberapa waktu lalu.

__ADS_1


Suster kembali menyodorkan kartu itu setelah melakukan transaksi namun gagal. "Maaf, Ibu. Kartu ini juga tidak bisa di gunakan."


Wuri tercengang dengan tetesan air mata yang berjatuhan karena panik. "Sus, ini kartu tabungan saya satu-satunya. Bagaimana bisa tidak bisa di gunakan juga?"


Wuri lemas, kepalanya begitu pusing. Sejak malam ia terus menangis hingga lupa untuk tidur. Dan saat ini, dirinya pun mengalami masalah yang tak henti-hentinya.


"Tidak. Ini tidak mungkin." tangisnya memegangi kepala yang mendadak pusing dan pandangan wanita itu pun terlihat sangat gelap.


***


Di ruangan yang terasa dingin, kini jemari lentik terus terdengar beradu dengan keyboard laptop kerja miliknya. Meski lelah, tetap terlihat kecantikan yang selalu menggoda seorang Dava untuk terus memandangnya sebagai penyemangat kerjanya.


Kecantikan sang istri memanglah tak bisa di ukur atau di bandingkan dengan kecantikan orang lain, senyuman Dava membuatnya tak bisa menahan diri karena gemas ingin memeluk sang istri yang begitu fokus dalam kerja.


"Astaga, Dav." Ruth terkejut mendapatkan pelukan hangat dari belakang.


Tentu saja ia tahu pelakunya adalah Dava. Aroma yang di kenakan Dava dari awal mereka kenal sampai saat ini tak pernah ia ganti.


"Sayang, boleh tidak aku pindah kursi dan meja kerjaku lebih dekat?" bujuk Dava sembari mencium daun telinga Ruth.


"Dav..." keluh Ruth yang ingin melepaskan tangan sang suami.


Tring...


Suara ponsel membuyarkan dialog keduanya. Dava melihat ponselnya yang menampilkan notifikasi pesan dari Tegar.


"Dari siapa?" tanya Ruth penasaran.


"Tegar, Sayang." jawab Dava.


"Memang dia sudah baikan?" tanya Ruth mengingat terakhir kali dua anggota suaminya sedang berada di rumah sakit.


"Sudah. Ini dia memberikan informasi tentang keluarga kakakmu." Dava menyerahkan ponsel yang menampilkan sebuah link tentang berita terbaru.

__ADS_1


__ADS_2