
Di ruangan yang tidak begitu sempit, suara perdebatan dan terdengar menggema. Merdunya suara yang bersahutan dengan air yang mengalir tak bisa membuat wanita bermata cokelat itu menahan suatu cairan yang ingin keluar dari tubuhnya.
Di tambah dengan rangs*ngan dari pria yang bahkan saat ini sudah ikut masuk ke dalam kamar mandi itu, membuatnya benar-benar merasa kegelian.
Dava tak perduli jika sang istri sedang menahan kesal padanya, yang terpenting tangan dan bibirnya tidak cuti sejenak saat menunggu sang istri di kamar mandi.
Ruth hanya menggelengkan kepala melihat kegilaan suami yang tidak pandang tempat kali ini. Buru-buru ia membasuh miliknya dan segera membawa suaminya kembali ke luar kamar mandi.
"Dav, ah pelan-pelan." Ruth merintih kala ia di bopong paksa oleh sang suami.
Dihempaskannya tubuh langsing itu di atas tempat tidur, Dava tak perduli sang istri yang menggeliat dan mencoba ingin membawanya ke mode slow. Ia tetap bergegas memaksa Ruth membuka pakaian dan membuka pakainnya sendiri setelahnya.
"Ada apa dengan Dava yah? Tidak biasanya dia seperti ini. Apa aku ada salah?" batin Ruth kebingungan melihat sikap suaminya yang begitu garang.
"Dav...aw sakit!" pekik Ruth.
"Dava, jangan seperti ini." Ia kembali bersuara saat merasakan gigitan yang benar-benar membuatnya mengeluh di kedua bongkahan lemaknya.
Malam yang begitu dingin, tetapi tidak membuat tubuh keduanya berhenti mengeluarkan keringat. Meski permainan belum sepenuhnya terjadi. Pemanasan yang Dava buat benar-benar sempurna sekalipun hanya sekilas.
"Dav, pelan-pelan. Dav, please pelan-pelan..." Ruth ketakutan melihat tatapan penuh hasrat sang suami saat mengarahkan kepemilikannya ke arah liang surganya.
Dan di saat yang bersamaan, jeritan panjang dari mulut Ruth membuatnya tak bisa menghentikan aksinya.
Cengkraman kuat Dava rasakan kali ini kala hentakan yang begitu keras ia berikan untuk yang pertama kalinya.
"Argh!!" Satu rasa yang membuatnya benar-benar memejamkan mata tak bisa mengungkapkan perasaan ternikmat malam ini.
Begitu juga dengan Ruth, matanya terlihat sangat menikmati sentuhan yang benar-benar berbeda dari sang suami. Meski penasaran, namun ia mengesampingkan perasaan itu.
Usai berhenti dengan aksinya sejenak, kini Dava kembali menghujani bibir sang istri dengan indera perasanya begitu sangat rakus.
Keduanya terus beradu bibir dan juga tenaga di bagian intim mereka masing-masing untuk melampiaskan perasaan yang ada di hasratnya.
__ADS_1
Perputaran jam di dinding kamar menjadi saksi kedua pasangan yang saling berpacu bergantian posisi sedari awal.
Di mana Dava yang merasakan kenikmatannya kalah dengan aksi sang istri yang merasa tidak puas jika tidak ikut berkontribusi dalam permainan ini.
Terjadilah keduanya yang selalu berganti dengan posisi masing-masing. Hingga jarum jam menunjuk angka empat.
Di bawah sini, Ruth yang akhirnya menyerah saat bersuara panjang berkali-kali merasa sangat lelah. Berbeda dengan sang suami yang masih terlihat sangat bugar dan tetap berkobar api semangatnya.
"Dav, ah..." Ruth mengeluh merasakan nyeri di area sensitifnya yang sudah mulai terasa begitu panas.
Sayang, Dava tidak bisa menahan diri lagi. Malam ini adalah malam yang sangat panjang baginya.
"Maafkan aku, Ruth. Aku sengaja melakukan hal ini demi kamu, Sayang. Aku tidak bermaksud menyakitimu, Sayang." batin Dava tak sampai hati melihat sang istri yang kesakitan, sementara si jono di bawah sana tidak bisa ia hentikan dari pergulatan panas karena pengaruh obat yang Dava persiapkan untuk malam ini.
"Ada apa dengan Dava malam ini? Mengapa sangat berbeda dari biasanya? Apa jangan-jangan...dia kerasukan?" Ruth menggeleng ketakutan saat membayangkan hal mustahil itu.
Ia terus merintih dan hanya bisa pasrah. Tenaganya sudah benar-benar habis kali ini. Melawan pun tidak akan bisa, sang suami yang sangat memiliki tenaga yang kuat kini mengambil alih kemudi di atas tubuhnya dengan pacuan yang tak pernah surut.
Sepanjang sisa jam menjelang pagi, Ruth terus meringis kepanasan di bagian miliknya. Hingga jarum jam bergulir menunjuk angka tujuh, dimana mentari pagi sudah mulai menembus gorden kamar tempat mereka melepaskan kelelahan kali ini.
Dava perlahan bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju di mana pakaiannya sudah berserakan di lantai kamar itu.
Ia kembali menatap wanita yang terlelap di atas ranjang dengan balutan selimut tebal tampak tenang.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu di luar kamar membuat Dava teralihkan dari wajah sang istri.
__ADS_1
Ia berjalan ke depan pintu, membuka dan melihat sosok siapa yang datang saat ini. "Mbok," ucapnya menatap wajah sang Mbok yang berdiri tepat di hadapannya.
"Maaf Tuan, apa terjadi sesuatu dengan Non Ruth? Kok sudah jam segini belum juga pergi sarapan? Apa Non Ruth sedang sakit?" Mbok Nan memberondong dengan banyaknya pertanyaan yang muncul bergantian di benaknya sedari tadi karena memandang meja makan yang hanya terisi dua orang saja. Yaitu Putri, dan juga Sendi.
Dava yang mendengarnya sontak menjawab. "Iya, tentu Mbok."
"Hah? Apa yang terjadi Tuan? Sini biar Mbok yang urus Non Ruth, Tuan." Mbok Nan mendorong tubuh suami dari majikannya tanpa segan.
Jika mengenai Ruth, Mbok Nan akan bersikap sebagaimana mestinya kekhawatiran setiap orang tua pada anaknya.
"Astagafirullah...Non Ruth. Aduh...ini kenapa jadi seperti ini kamarnya?" Mbok Nan berucap tanpa bisa menahan kecemasan dalam dirinya.
Matanya menatap sekitar kamar yang di ikuti Dava dari belakang. "Mbok," panggil Dava sembari bersedekap menatapnya.
Mbok Nan yang membungkam mulutnya paham akan yang terjadi sedari awal, kini memutar tubuhnya untuk mengahap pada Dava di belakangnya dengan gerakan slowmotion.
"Hehehe...maaf, Tuan. Mbok sudah lancang masuk. Habis...Mbok khawatir sama Non Ruth, Tuan Dava." tuturnya seraya tersenyum kikuk.
Dava mengangguk tanpa suara. Ia juga sedikit malu karena terlihat begitu sangar saat menampakkan pemandangan motif macan berwarna merah dan biru di lehen putih nan mulus sang istri.
Sekali lagi Mbok Nan menganggukkan kepalanya dengan canggung kemudian menoleh ke arah belakang. Memastikan penglihatannya benar tentang keadaan wanita yang terbaring lelap di atas tempat tidur.
"Sudah, Mbok?" tanya Dava dengan wajah hangatnya di sisa tenaganya yang hampir habis semalaman berperang di atas tempat tidur.
"Hehehe...iya Tuan. Sudah. Kalau begitu Mbok keluar dulu. Sarapannya mau di antar, Tuan?" tanya Mbok Nan dengan wajah kikuknya.
Wanita tua renta itu menunduk dan berjalan ke arah pintu kembali. Sementara Dava hanya menatap kepergiannya dengan menggelengkan kepala dan melangkah ke arah kamar mandi usai mengunci pintu kamarnya.
Di sini, di meja makan tampak Sendi menatap kursi di mana sang mantan yang saat ini sudah menjadi adiknya. Entah itu kebenaran atau suatu kekeliruan semata. Yang terpenting ia hanya bisa tetap memelihara cinta ini selamanya untuk satu wanita, Ruth Surya Dinata.
"Apa yang terjadi padamu, Ruth?" tanyanya lirih menatap hampa kursi yang selalu menjadi pusat perhatiannya di kala makan malam dan sarapan pagi.
"Mbok, ayo. Putli sudah selesai nih." Suara Putri memecah lamunan Sendi seketika.
__ADS_1