Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 188. Merutuki Kelemahannya


__ADS_3

Suasana yang hening setelah sekian lama. Akhirnya Tuan Sarah berbicara kembali.


"Kedatangan saya kemari, ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya pada keluarga anda, Tuan. Meski saya tahu permintaan maaf saja tidak berarti apa-apa bagi kalian-"


"Sudahlah Sarah. Semuanya sudah berlalu. Saya dan istri saya sudah memaafkan semuanya yang kalian perbuat pada kami. Berhentilah membahas masa lalu, biarkan kita hidup dengan damai saat ini dan seterusnya." senyuman teduh di wajah Tuan Wilson terlihat begitu tulus.


Ia tampak menatap satu persatu wajah yang ada di hadapannya kini. Wuri dan Sarah datang kepadanya dengan penuh permintaan maaf.


"Bagaimana Jeff?" tanyanya menatap Sarah.


Tentu saja sebagai ayah, ia tahu benar apa yang terjadi di rumahnya dan mungkin itulah salah satu alasan Sarah menangis ketika keluar dari kamar sang anak.


"Dia sedang bersiap. Mungkin kami akan tinggal bersama, Tuan." sahut Sarah setengah menundukkan kepala.


Belum selesai mereka berbincang, Dava sudah keluar dari kamarnya dengan koper di genggaman tangannya. Ia berjalan mendekat ke arah semua yang ada di ruangan tengah itu.

__ADS_1


"Ayah, maafkan aku. Sebaiknya aku ikut bersama Ibu untuk sementara waktu." tutur Dava dengan sopannya.


Meski ia bukan lagi anak dari Tuan Wilson, tetapi sebagai orangtua Tuan Wilson berhak di hormati dan di anggap olehnya.


Tuan Wilson mengangguk paham, ia tahu ini semua memanglah yang terbaik. "Apa kau tidak akan mau hidup bersama kami lagi, Jeff? Percayalah bagaimana pun, kalian tetaplah anak kami. Tidak perduli apa yang sudah terjadi." tutur Tuan Wilson dengan perasaan sedihnya.


"Maaf, Ayah. Semuanya akan ku pikirkan dulu. Saat ini aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa." jawab Dava yang memperjelas jika dirinya tidak akan bisa memutuskan apa pun saat ini.


Segera Tuan Wilson memberitahukan tentang keadaan sang anak perempuan yang mungkin Dava pun masih belum mengetahuinya.


Mengurung diri di kamar membuat Dava sama sekali tidak tahu apa yang sudah terjadi di luar kamarnya. Betapa terkejutnya ia kala mendengar mantan istrinya berada di rumah sakit. Pasalnya keadaan Ruth memanglah sangat buruk sejak hamil mudanya hingga saat ini.


"A-apa? Di rumah sakit? Ayah, apa yang terjadi pada Ruth? Mengapa tidak ada yang memberitahuku?" Dava sangat syok mendengarnya. Tangannya yang menggenggam koper segera ia jatuhkan begitu saja.


"Dia syok karena mengetahui semuanya, Kak." sahut Dina yang menjawab karena melihat Tuan Wilson sudah kelelahan karena terlalu banyak berbicara sejak tadi.

__ADS_1


Dava menggelengkan kepala tak menyangka. Seketika ia menyesali dirinya yang terlalu lemah seharian ini.


"Sendi, dimana dia?" tanya Dava mencari sosok pria yang tak terlihat di depannya.


"Dia yang mengantarkan kakak ipar ke rumah sakit, Kak." jawab Dina lagi.


Tanpa menunggu apa pun lagi, Dava segera berlari keluar rumah dan menghubungi Sendi selama perjalanan ke mobilnya.


Hatinya begitu sangat gelisah mendengarkan nada sambung telepon yang tak kunjung mendapatkan jawaban itu.


"Angkat, Sendi!" makinya setelah mobil melesat dengan kecepatan tinggi ke jalanan.


Beberapa kali tangannya terus mencoba menghubungi namun masih tak ada jawaban juga.


Tiba-tiba saja terdengar dering ponsel yang menampilkan pesan singkat. "Kak, mereka ada di rumah sakit Kencana Indah." begitulah isi pesan yang dikirimkan Dina padanya.

__ADS_1


__ADS_2