
Seorang pria tampak mondar-mandir menunggu hasil pemeriksaan sang istri yang saat ini sedang di tangani oleh dokter.
"Ah...Ya Tuhan, aku berharap ini kabar bahagia untuk kami. Tapi mengapa harus ada drama sakit seperti ini? Ini bukan hal yang lucu." Dava menggerutu berharap jika sang istri saat ini sedang mengandung buah hatinya.
Ia duduk, berdiri, dan duduk ladi sesekali meremask kepalanya yang terasa pening.
"Paman!" Suara teriakan bocah kecil dari kejauhan membuatnya berhenti uring-uringan.
Dava menoleh pada sumber suara. Matanya melihat sosok Putri yang sudah berlari merentangkan kedua tangannya dengan berderai air mata.
"Putri," sambutnya menggendong bocah mungil itu.
"Paman, Mamah Ruth baik-baik aja kan? Mamah nggak sakit kan, Paman?" Putri menangis di dalam gendongan Dava.
Dava memeluk dan mengusap kepala Putri. "Sssst...Sayang, Mamah baik-baik saja. Mamah cuma kecapean Paman ajakin buat dedek terus. Eh." Dava mengatupkan bibirnya rapat saat menyadari ucapannya yang tidak sepantasnya mengatakan hal itu di depan bocah yang belum mengerti sampai ke sana.
"Ya Allah Tuan..." Mbok Nan yang mendengarnya segera membungkam mulutnya terkejut.
Dava menatap Mbok Nan dengan wajah malunya. "Em, maaf Mbok."
"Dokter, bagaimana istri saya?" Dava yang melihat kehadiran dokter saat itu juga tanpa berpikir lagi langsung menghampirinya.
"Apa istri saya hamil Dok?" tanyanya lagi saat sang dokter belum juga menjawabnya.
__ADS_1
"Tuan, maaf. Istri anda saat ini menderita asam lambung yang cukup parah. Kemungkinan besar, ia sesak napas bukan karena hamil, melainkan karena penyakit tersebut." terangnya tersenyum.
Dava menghela napasnya kasar. "Baik, terimakasih, Dok. Apa saya sudah boleh menjenguknya?"
Dokter mengangguk. Silahkan Tuan. Pasien sudah bisa di besuk. Nanti saya akan berikan rincian apa saja makanan yang boleh atau tidak untuk di konsumsi. Permisi."
"Terimakasih banyak, Dokter." Mbok Nan terlihat menundukkan kepala sedikit pada dokter tersebut.
Seperginya dokter, ketiganya pun masuk ke dalam ruangan pemeriksaan Ruth.
"Mamah," Putri yang turun dari gendongan Dava langsung memeluk Ruth yang terbaring di tempat tidur.
"Sayang, Mamah baik-baik saja. Sudah, jangan menangis yah." ucapnya berusaha kuat meraih kepala Putri untuk mengelusnya.
"Lain kali jangan membuatku panik seperti ini lagi, Ruth." Dava mengusap punggung tangan sang istri yang ia genggam barusan.
Ruth tersenyum lemas menatap wajah Dava. Kemudian ia menatap wanita yang sudah begitu tua berdiri di sisi ranjangnya.
"Mbok, maafkan Ruth yah? Lagi-lagi membuat Mbok khawatir." ujarnya penuh rasa bersalah.
"Non...jangan bicara begitu. Mbok bahagia saat ini selalu di libatkan dalam keadaan apapun Non Ruth, oleh Tuan Dava. Mbok senang, Non. Satu yang Mbok mohon, Non Ruth harus menjaga kesehatan. Mbok tidak akan memasak makanan apa pun yang Non sukai dengan cabai dan asam-asam. Pokoknya Mbok tidak mau Non Ruth sakit lagi."
Ruth tersenyum lemas mendengarkan ocehan Mbok Nan panjang lebar saat itu. Sementara Dava terus menatapnya dalam diam.
__ADS_1
"Hey...aku baik-baik saja." ucap Ruth meraih dan mengusap rahang tegas sang suami yang menatapnya begitu detail.
Di sana, terlihat jelas kecemasan yang begitu dalam pada netra hitam legam milik Dava Sandronata.
"Kau tahu...tadi aku begitu jahat saat melihatmu pingsan..." Dava berucap tanpa mengatakan kelanjutannya.
Ruth terkekeh mendengarnya, "Oh yah?"
"Hem. Ku pikir awalnya karena hamil. Tapi setelah melihat wajahmu yang sangat pucat, aku benar-benar takut, Ruth. Jangan mengulangi seperti ini lagi. Aku bahkan baru merasakan cinta dalam beberapa saat belakangan ini." Dava mengungkapkan perasaannya tanpa malu di dengan oleh Mbok Nan dan juga Putri.
Ia sangat mencemaskan sang istri, bukan hanya gombalan untuk membuat Ruth terbang melayang.
Ruth yang merasakan kecemasan sang suami padanya langsung bergerak memaksa tubuhnya bangun lalu memeluk pria tampan itu.
"Dav, I love you...aku benar-benar senang ada yang mengkhawatirkanku sebagai istrinya sepertimu. Aku mohon tetaplah seperti ini dan jangan pernah berubah." Ruth mengatakannya dengan terus mengeratkan pelukan tersebut semakin erat.
Dava juga langsung sigap membalas pelukan tersebut.
"Ayo..." Di sini Mbok Nan sudah berucap tanpa suara pada sosok Putri yang berdiri di sisi ranjang sang Mamah.
"Oke." Putri menyatukan jari telunjuk dan jempol membentuk huruf o, yang berarti ia menyetujui ajakan Mbok Nan untuk keluar dari ruangan tersebut.
Keduanya kini kompak membuka pintu ruangan dengan hati-hati agar tidak membuat Ruth dan Dava menyadari kepergian mereka.
__ADS_1
Dava dan Ruth masih saling memeluk dengan erat tanpa tahu jika mereka tinggal berdua saja di dalam ruangan tersebut.