
Keheningan begitu membuat nyenyak para penghuni bumi untuk menikmati indahnya alam mimpi di temani para selimut tebal mereka yang menghangatkannya.
Tak perduli bagaimana nikmatnya malam untuk membaringkan tubuh yang lelah, ini adalah janji Dava pada istrinya untuk mencari tahu semuanya dan menyelesaikan masalah sang istri.
Ia tidak mau selamanya Ruth berlarut-larut dalam kekacauan pikiran yang tidak jelas kemana tujuan masalah itu.
Di sini, ruangan yang sudah nampak kacau tak menghentikan si pembuat ulah untuk terus mencari-cari dengan detail hingga setiap sudut ruangan mereka periksa.
Kedua kalinya ruangan pribadi milik Tuan Iwan terhambur begitu saja. Meski pelakunya kini berbeda dari yang sebelumnya.
"Tuan, kami tidak menemukannya." Tegar berucap dengan napas yang terengah-engah setelah mengeluarkan seluruh tenaganya membongkar ruangan milik Tuan Iwan.
Satu lemari yang menutup akses ruangan bawah rahasia milik Tuan Iwan pun sudah ia telusuri. Namun tidak ada berkas yang mencurigakan terkait istri dari Dava.
"Apa yang terjadi?" tanya Tegar pada Hanzel yang melihat raut wajah Dava yang menegang dan tidak bergeming beberapa saat.
Hanzel yang di tanya hanya mengedikkan bahunya pertanda ia tidak mengetahuinya.
Dava mengusap peluh di keningnya kemudian menatap dua pria yang bersamanya saat ini. "Tegar, ambil semua data di file ini. Cepat!" teriaknya menggelegar.
Seketika Tegar bergerak cepat mengambil semua isi yang di suruh Dava padanya. Tanpa bertanya lagi, tangannya dengan cepat bermain di mouse komputer itu.
Pikiran Dava sudah tidak bisa tenang setelah melihat hasil pencariannya. Beruntung Dava ahli dalam membobol barang canggih seperti itu, jadi tidak perlu Tegar repot-repot melakukannya.
"Kita ke kantor polisi sekarang." pintah Dava sudah duduk di kursi kemudi sembari menunggu kedatangan Tegar yang masih menunggu hasil copyan data di dalam gedung itu.
Kini Hanzel yang menemaninya di dalam mobil.
Wajah Dava begitu sulit ia tenangkan. Jemarinya terus menggetar ingin memukul melampiaskan kemarahannya.
Hanzel yang melihat raut wajah Dava terus memperhatikan gerakan rahang yang terdengar menggeretak sedari tadi.
Keheningan dan ketegangan kini berlangsung cukup lama. Dava mulai kembali menatap pintu loby perusahaan.
"Kemana Tegar?" ucapnya merasa tidak bisa lebih sabar lagi.
Ini adalah menit kesepuluh mereka meninggalkan Tegar, namun mengapa pria itu tak kunjung keluar dari gedung tersebut.
"Biar saya cek, Tuan." Hanzel turun kembali menyusul Tegar berada.
Sementara di dalam ruangan, Tegar yang tengah menyalin seluruh dokumen itu merasa ada sesuatu yang mengganggunya.
"Mengapa seperti ada bayangan lewat?" gumamnya namun tetap fokus pada layar komputer.
__ADS_1
"Haduh...mengapa besar sekali kapasitas file ini? Bagaimana bisa di salin cepat kalau begini?"
Tok Tok Tok
Suara ketukan di luar pintu terdengar kencang. Tegar menoleh, namun tidak ada siapa-siapa di sana.
"Tuan, sebentar lagi." tuturnya merasa itu adalah kerjaan Dava atau Hanzel.
Tap Tap Tap
Derap langkah kaki yang semakin jelas terdengar mendekat ke arahnya membuat Tegar langsung menoleh cepat ke belakang.
Dan saat itu juga, tangan kekarnya berhasil menarik flashdisk yang berisi semua dokumen penting.
"Berikan padaku!" ucap Iwan dengan seringaian liciknya.
"Maafkan saya, Tuan." Tegar langsung berlari melewati Iwan yang bersedekap menatapnya.
"Hahahaha" Suara tawa menggelegar di ruangan itu saat langkah cepat Tegar terhentikan dengan banyaknya pria yang menutup akses keluarnya.
Perkelahian terjadi antara sepuluh orang melawan satu. Semuanya menyerangnya tanpa ampun, bahkan Tegar yang beberapa kali berhasil mengalahkan mereka kembali di serang dengan jumlah yang semakin banyak.
Suara keributan itu masih belum terdengar keluar, mengingat ruangan yang sangat luas dan banyaknya skat-skat kantor yang memang di desain kedap suara.
Tegar bernafas tersengal-sengal, wajahnya basah penuh peluh. Namun, ia tak melupakan begitu saja apa yang ia genggam saat ini.
"Berikan padaku!" pintah Iwan menyodorkan tangannya mendekat.
"Tidak. Sampai kapan pun aku tidak akan memberikannya." ucap Tegar menyembunyikan genggamannya ke belakang tubuhnya.
"Arghhh!!!" Tegar berteriak merasakan dadanya begitu sakit saat sepatu boots itu kembali menekannya begitu kuat.
Plakkkk!!
Semua mata yang fokus pada Tegar kini teralihkan dengan suara benda yang jatuh di luar ruangan.
Di sini, Hanzel membulatkan matanya saat baru saja menghubungi Dava di luar sana.
Sedangkan Dava menyandarkan kepalanya yang berat pada sandaran kursi kemudi itu. Kali ini dirinya yang akan menyetir sendiri mobil ke kantor polisi. Ia tidak akan bisa sabar jika kedua anak buahnya yang menyetir mobil.
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar
Asyhadu allaa ilaaha illallah, Asyhadu allaa ilaaha illallah....
__ADS_1
Suara adza subuh terdengar merdu berkumandang. Di sini Dava memukul setir mobilnya. Dirinya sudah tidak bisa sabar menunggu.
"Kemana sih? Mengapa lama sekali?" umpatnya hendak membuka pintu mobil namun terdengar dering ponsel miliknya.
"Tuan," ucap Hanzel di seberang telepon terdengar setengah berbisik.
Dahi Dava seketika berkerut.
"Ada apa, Hanzel? katakan!" teriaknya cemas.
"Tegar di kepung, Tuan. Mereka sangat banyak di dalam. Arghhhh!!"
"Hanzel! Hanzel!" Dava berteriak saat mendengar suara rintihan di seberang telepon sebelum panggilan terputus.
Hempasan ponsel itu pun masih dapat di tangkap oleh pendengarannya. Mata Dava semakin membulat.
"Brengsek!!"
Tidak semudah itu mereka bisa membawa bukti yang sudah bertahun-tahun di rahasiakan tentunya. Dan kali ini Dava mengurungkan langkahnya untuk menyusul Hanzel dan Tegar.
Kemarahan adalah hal yang sangat bodoh jika di pakai untuk mengambil tindakan. "Tidak. Aku tidak boleh masuk sendirian. Percuma saja semuanya." ucapnya setelah berpikir dengan tenang.
Nyawanya saat ini sangat berarti baginya setelah hadirnya dua wanita di hidupnya, yaitu Putri dan Ruth. Ia tidak akan mau melenyapkan nyawanya sia-sia tanpa bisa menikmati waktu setiap detik tertawa dengan dua wanita yang begitu ia cintai.
Tap Tap Tap
Langkah kaki terus berjalan menelusuri sekitar loby gedung itu. Banyaknya para pria bertubuh kekar tampak menelusuri setiap sudut perkantoran.
"Cepat bawa semuanya pergi!" teriakan sosok yang membuat tatapan Dava teralih padanya.
"Pri itu?" ucapnya lirih.
"Lapor, di dalam mobil kosong, Tuan." ucap pria bertopeng yang melaporkan pada pria di seberang teleponnya.
Dava terus bersembunyi. Tatapannya mencari dua sosok yang bersamanya tadi.
"Dimana Hanzel dan Tegar?" tanya Dava pada dirinya sendiri tanpa suara.
"Dava! Keluarlah, Nak." teriakan Iwan membuat Dava benar-benar geram.
"Cih. Sampai kapan pun aku tidak akan keluar. Kalian sudah benar-benar keterlaluan. Beruntung aku cepat gerak tadi. Setidaknya bukti pokok sudah aku pegang saat ini." Dava melirik dengan tersenyum puas menatap lembaran kertas yang sudah ia masukkan ke dalam jasnya.
Jika ia keluar, pasti mereka akan mengambil bukti itu darinya. Meski kekuatan Dava patut di yakini, namun melihat banyaknya pasukan dari sang ayah, rasanya itu sangat tidak mungkin untuk di lawan.
__ADS_1