Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 87. Akibat Obat


__ADS_3

Tok Tok Tok


Ketukan pintu yang terus terdengar dari depan pintu masih tak mendapat sambutan dari sang pemilik rumah. Di sini Rafael mencoba kembali menghubungi Dava, berkali-kali ia mencoba hingga akhirnya helaan napas kasar pun mengakhiri penantiannya yang sia-sia.


Rumah yang terlihat sangat sepi membuatnya memutuskan untuk pergi dari sana. "Hah...sudahlah. Sepertinya hari ini bukan hari yang tepat." ucapnya melangkah pergi meninggalkan rumah dan masuk ke dalam mobilnya.


Tanpa tahu jika di dalam rumah tersebut, Dava dan Ruth sedang saling menyatukan tubuh dengan lelapnya di bawah balutan selimut tebal.


"Bagaimana keadaannya?" Di rumah sakit, sesaat setelah Rafael sampai di rumah sakit untuk melihat keadaan dua korban yang sangat memprihatinkan.


Berhubung ia baru saja datang, kini di depan ruangan rawat hanya anggotanya saja yang bertugas jaga. Karena sang dokter sudah pergi dari ruangan tersebut setelah menangani dua pasien yang mereka bawa.


"Siap Komandan. Untuk yang perempuan keadaannya tidak begitu mengkhawatirkan, hanya tubuhnya yang kekurangan gizi menyebabkan lemah untuk bangun dari tidurnya." terang salah satu anggota kepolisian padanya.


Rafael yang mendengarnya mengangguk paham. "Lalu?" tanyanya lagi mengingat ada dua orang pasien yang mereka jaga.


"Untuk yang laki-laki, kata Dokter sangat memprihatinkan, Komandan. Tubuhnya benar-benar lemah bahkan struknya sudah seluruh tubuh. Untuk saat ini kita harus fokus pada penyembuhan psikis dan juga therapi tubuhnya, Komandan."


"Karena menurut Dokter ia sangat trauma akan kejadian yang menimpa mereka entah saat kecelakaan atau saat penyekapan. Semua belum bisa di pastikan saat ini, Komandan." terangnya dengan mantap mengingat semua perkataan sang dokter yang harus ia bisa cerna dengan lengkap.


Rafael mengangguk-anggukkan kepalanya dengan wajah penuh perasaan iba. Bagaimana reaksi anak-anaknya saat mengetahui jika orangtuanya saat ini sudah berhasil mereka kembalikan ke dunia lagi? Sejenak Rafael tersenyum saat membayangkannya.


Di dunia, semua yang menjadi ciptaannya tentu akan kembali pada waktu yang sudah di tetapkan. Akan tetap, sebagai seorang anak, tentu tidak akan ada yang rela kehilangan orang tua mereka sampai kapan pun itu.


Di sini, Tuhan begitu berpihak pada Ruth. Kepahitan yang bertahun-tahun ia alami sudah waktunya mendapatkan hadiah kebahagian bertubi-tubi.


Perjalanan hidup yang sangat membuatnya tak pernah putus asa dari kehidupannya, meski kedua bola mata cokelat miliknya menjadi saksi bagaimana setiap hari, setiap jam, setiap menit hingga setiap detik, ia terus menangis.

__ADS_1


Kini semua terbayarkan sudah!


"Baiklah. Kalau begitu kita lakukan semua upaya untuk penyembuhan dua orangtua itu. Sebelum saya berhasil menghubungi anaknya dan juga menantunya." tutur Rafael mengingat sosok Dava masih sangat sulit untuk di hubungi.


***


Pergeseran mentari di pagi hari bergulir sangat cepat hingga kini sudah waktunya bulan untuk menjadi pengendali seluruh penerang alam semesta.


Dua sejoli yang masih betah dengan posisi hangat bercampur dinginnya pendingin ruangan di dalam kamar perlahan tergerak saat Ruth melepaskan pelukannya.


Matanya yang sembab akibat kerja kerasnya semalam membuatnya menyitip silau akan cahaya lampu.


"Hem...Hah?" Ia membulatkan matanya melihat silau sinar mentari yang berwarna kuning dengan langit yang bernuansa gelap di jendela kamarnya.


"Dav....Dava!" Panggilnya memukul-mukul tubuh sang suami.


"Dava, bangun. Ini beneran sudah sore? Aku nggak mimpi kan?" tanya Ruth begitu panik saat mengingat kapan terakhir ia sadar.


"Hem...ada apa, Sayang?" Dava menggeliat kemudian memeluk semakin erat tubuh sang istri kembali.


"Dav, hari ini hari persidangan. Gimana bisa kita tidak hadir sih?" Ruth tampak terduduk lemas sembari memijat keningnya yang sangat pusing.


Ia bahkan tidak melihat wajah sang suami yang tersenyum ganjil menatapnya. Tangan kekar itu mengusap pucuk kepala sang istri cantiknya.


"Aku tahu itu..." sahutnya dengan lembut.


Ruth menoleh menatap tajam padanya. "Dav, bagaimana bisa kau membiarkan hal seperti ini ku lewatkan?" Nada bicaranya sudah terdengar meninggi dan kedua bola mata cokelat itu tampak berembun.

__ADS_1


"Hei...Sayang. Dengar, dengarkan aku dulu." Tangan Dava menangkup dagu lancip sang istri agar menatapnya lurus.


"Hari ini persidangan khusus untuk para saksi. Dan bukan untuk keluarga korban. Nanti sidang berikutnya yah. Dan sekarang..." Dava menghapus air mata yang menetes di wajah wanitanya saat ini. Ia membawa kepala Ruth bersandar pada dada bidangnya.


"Ini...malam ini, kita akan berangkat ke suatu tempat." Dava tersenyum memberikan tiket online yang sudah ia pesan jauh-jauh hari.


Ruth yang terkejut melihatnya sangat bingung. Ia menggeleng tak percaya. "Dav, ini uang dari mana? Kau tidak memiliki uang bukan?" Ruth tidak menyangka sang suami melakukan hal itu yang memang belum di ketahui tujuan utama mereka bepergian.


"Tiket honeymoon. Ini adalah tiket untuk honeymoon. Yah aku tahu harganya tidak seberapa. Karena memang ini adalah tiket khusus karyawanku dulu yang gagal menikah. Jadi masih bisa aku tukar tanggalnya untuk kita pakai." Dava menjelaskan dengan helaan napas kasar di awal.


"Maaf yah, Sayang. Memang tidak semewah honeymoon orang-orang pada umumnya. Tapi ini juga tiket ke luar negeri. Setidaknya kita bisa melewati momen itu juga bukan?" Ruth yang tercengang mendengar pengakuan sang suami sampai tersenyum.


Ia mengangguk terharu dengan niat tulus sang suami. Ruth juga sadar ia sangat menginginkan suasana liburan untuk menenangkan pikirannya sejenak agar bisa bekerja lebih keras lagi untuk perusahaan sang ayah.


"Ayo cepat bersihkan badanmu. Kita harus segera mempersiapkan barang untuk berangkat." Dava menuntun sang istri turun dari tempat tidurnya.


Matanya tersenyum nakal melihat dua benda yang bertengger menantang di tubuh sang istri yang masih polos itu.


"Dav, hentikan!" Ruth menyilangkan kedua tangannya di depan dada saat melihat tatapan nakal sang suami padanya. Wajahnya malu dan segera berlari ke dalam kamar mandi tanpa sehali benangpun di tubuhnya.


Dava menggeleng seraya terkekeh melihat tingkah menggemaskan sang istri yang sudah masuk di dalam kamar mandi yang berada di kamar mereka.


"Ponsel. Yah ponselnya." Dava bergegas mencari ponsel sang istri.


Matanya dan tangannya serentak bekerja keras mencari benda pipih itu dan sesaat kemudian ia menemukannya di bawah bantal yang sudah berserakan di atas tempat tidur itu.


Tangannya menyembunyikan ponsel sang istri lalu bergegas menyusul ke kamar mandi.

__ADS_1


"Ruth, Sayang, ayo cepat!" teriak Dava menggeret koper mereka berdua keluar dari rumah.


Ruth berlari menyusul langkah sang suami keluar kamar dengan pakaian yang sangat cocok di tubuh langsing itu. Kaos tipis berbentuk leher v dan celana jeans berwarna biru . Benar-benar cantik dan cocok berdampingan dengan pria gagah seperti Dava yang mengenakan pakaian kaos berkera warna hitam dan juga celana pendek di atas lutut berwarna putih.


__ADS_2